Tunggal putri Korea Selatan, An Se-young, menembus gelar juara ke-47 sepanjang kariernya di level senior. Tambahan trofi tersebut membuat pebulu tangkis kelahiran Gwangju itu melewati koleksi gelar yang pernah dibukukan legenda Indonesia, Susy Susanti, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain paling dominan di nomor tunggal putri dalam satu dekade terakhir.
Gelar ke-47 itu menambah panjang deretan trofi yang dikumpulkan An sejak menembus level senior sebagai remaja. Koleksinya kini mencakup sejumlah turnamen bergengsi, mulai dari level BWF World Tour, kejuaraan dunia, hingga Olimpiade. Dalam usia yang masih muda, jumlah gelar yang diraihnya sudah melampaui banyak pemain yang berkarier jauh lebih lama.
Pencapaian tersebut bukan hasil dari satu musim yang luar biasa, melainkan buah dari konsistensi selama beberapa tahun. An tercatat hampir selalu muncul di babak akhir turnamen yang ia ikuti, sebuah rekam jejak yang jarang dimiliki pemain tunggal putri pada era persaingan seketat sekarang.
Jalan panjang menuju gelar ke-47
An pertama kali menarik perhatian publik bulu tangkis dunia ketika tampil di level senior sebagai pemain belia. Bakatnya sudah terlihat sejak usia sekolah, dan ia cepat dipercaya memperkuat tim nasional Korea Selatan di sejumlah kejuaraan beregu maupun perorangan.
Kepercayaan itu dibayar dengan hasil. An perlahan menembus jajaran sepuluh besar peringkat dunia, lalu naik ke posisi teratas. Dalam perjalanannya, ia beberapa kali harus menerima kekalahan dari pemain senior, termasuk dari tunggal putri Tiongkok dan Jepang yang saat itu mendominasi. Namun kekalahan tersebut tidak menghentikan laju kariernya.
Puncak karier An tercatat pada beberapa tahun terakhir. Ia meraih gelar juara dunia, naik podium tertinggi di Olimpiade Paris 2024, serta menyumbang medali emas bagi Korea Selatan di ajang Asian Games. Deretan prestasi itu menjadi fondasi dari koleksi 47 gelar yang kini menjadi sorotan.
Posisi Susy Susanti sebagai pembanding
Nama Susy Susanti selalu muncul dalam setiap perdebatan soal tunggal putri terbaik sepanjang masa. Pebulu tangkis kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971, itu merupakan peraih medali emas pertama cabang bulu tangkis pada Olimpiade Barcelona 1992, ketika olahraga tersebut baru pertama kali dipertandingkan.
Susy juga mencatatkan namanya sebagai juara dunia, peraih medali perunggu Olimpiade Atlanta 1996, serta pemain yang lama menempati peringkat pertama dunia. Gelar-gelar di level All England dan sejumlah turnamen bergengsi lain melengkapi koleksinya. Selama bertahun-tahun, angka gelar Susy menjadi salah satu tolok ukur bagi pemain tunggal putri generasi berikutnya.
Perbandingan antara An dan Susy perlu dibaca dengan hati-hati. Keduanya hidup di era yang berbeda, dengan jumlah turnamen, format kompetisi, dan tingkat kepadatan jadwal yang tidak sama. Susy bersaing pada masa ketika kalender turnamen internasional lebih terbatas, sementara An bermain di era BWF World Tour yang menyajikan turnamen hampir sepanjang tahun.
Meski demikian, melewati jumlah gelar seorang legenda tetap menjadi penanda penting. Bagi sebagian pengamat, capaian itu menunjukkan bahwa An telah melewati salah satu batas yang selama ini dianggap sulit ditembus pemain dari generasi mana pun.
Konsistensi di puncak peringkat dunia
Sejak menempati posisi teratas peringkat dunia pada Agustus 2023, An tercatat sebagai pemain yang paling sulit dikalahkan di nomor tunggal putri. Ia mempertahankan posisi tersebut dalam waktu yang relatif panjang, sebuah bukti bahwa dominasinya tidak bergantung pada satu atau dua turnamen saja.
Konsistensi itu tercermin dari cara An melewati setiap babak. Ia jarang tersingkir dini, dan lebih sering muncul di partai puncak. Bagi pemain lain, menghadapi An di babak akhir menjadi tantangan tersendiri karena ia dikenal mampu mempertahankan level permainan dalam pertandingan yang berlangsung panjang.
Gaya bermain yang menjadi kekuatan
Kekuatan utama An terletak pada pertahanan dan daya tahan. Ia dikenal sebagai pemain yang rajin mengejar bola, sulit dimatikan, dan mampu membalikkan tekanan menjadi serangan. Footwork yang rapi serta kemampuan membaca arah bola membuatnya sering memaksa lawan bermain lebih lama dari yang mereka inginkan.
Selain itu, An memiliki variasi pukulan yang cukup lengkap. Ia bisa bermain menyerang ketika mendapat bola pendek, tetapi juga sabar ketika harus bertahan. Kombinasi tersebut membuatnya tidak mudah dihadapi pemain dengan gaya apa pun, baik yang mengandalkan serangan cepat maupun yang bermain rally panjang.
Persaingan tunggal putri yang berubah
Dominasi An turut mengubah peta persaingan tunggal putri dunia. Pemain-pemain yang sebelumnya menjadi langganan juara, seperti wakil Tiongkok, Jepang, dan Taiwan, kini harus menyesuaikan strategi untuk menandinginya. Di sisi lain, muncul generasi baru yang mulai menantang posisinya.
Persaingan itu terlihat dari sejumlah pertandingan ketat yang melibatkan An, termasuk ketika ia harus menghadapi tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung. Laga-laga seperti itu menunjukkan bahwa jarak antara pemain
Komentar (0)