30, 2026
Politik

Anggota DPR Rajiv Dukung Dog Does Disco yang Konsisten Kampanyekan Adopsi

Dog Does Disco 2026 di Central Park hadir kembali dengan 600 anjing dan 12.000 pengunjung. Acara ini mendukung kampanye adopsi hewan dan pelaku usaha lokal.]]>

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Anggota DPR Rajiv Dukung Dog Does Disco yang Konsisten Kampanyekan Adopsi

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI, Rajiv, menyatakan dukungannya terhadap komunitas Dog Does Disco yang dinilai konsisten mengampanyekan adopsi hewan, khususnya anjing, sebagai upaya mengurangi populasi hewan terlantar di Indonesia. Dukungan tersebut disampaikan sebagai bentuk apresiasi terhadap gerakan sosial yang bergerak di bidang kesejahteraan hewan dan telah berjalan secara berkelanjutan.

Konsistensi Kampanye Adopsi Jadi Sorotan

Dog Does Disco dikenal sebagai komunitas yang aktif menyuarakan pentingnya adopsi ketimbang membeli hewan peliharaan. Kegiatan yang mereka lakukan mencakup kampanye edukasi, penyelenggaraan acara penggalangan dana, hingga memfasilitasi pertemuan antara calon pemilik dengan anjing yang membutuhkan rumah baru.

Menurut Rajiv, konsistensi menjadi kunci utama dalam kampanye semacam ini. Ia menilai isu kesejahteraan hewan sering kali hanya mendapat perhatian sesaat, padahal persoalan hewan terlantar membutuhkan penanganan yang berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak.

"Yang saya lihat dari Dog Does Disco adalah komitmen jangka panjang. Mereka tidak hanya ramai saat ada acara besar, tetapi terus mengedukasi masyarakat dari waktu ke waktu," ujar Rajiv.

Adopsi sebagai Solusi Masalah Hewan Terlantar

Data mengenai jumlah hewan terlantar di Indonesia masih menjadi perdebatan karena belum ada pendataan tunggal yang komprehensif. Namun berbagai organisasi perlindungan hewan memperkirakan jumlah anjing dan kucing tanpa pemilik terus bertambah setiap tahun, terutama di kawasan perkotaan.

Kondisi tersebut diperparah dengan masih maraknya praktik pembelian hewan dari peternakan atau pedagang yang tidak memperhatikan aspek kesejahteraan hewan. Akibatnya, banyak hewan dibuang ketika pemiliknya tidak lagi mampu atau tidak lagi bersedia merawat.

Rajiv menilai kampanye adopsi yang digaungkan Dog Does Disco menjadi salah satu jalan keluar yang masuk akal. Selain memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi hewan terlantar, adopsi juga dinilai mampu menekan permintaan terhadap praktik jual beli hewan yang berpotensi merugikan.

Peran Publik Figur dan Legislator

Sebagai anggota legislatif, Rajiv menyadari posisinya dapat membantu menyebarkan pesan-pesan positif kepada masyarakat luas. Ia berharap dukungan yang diberikannya tidak berhenti pada pernyataan simbolik, melainkan dapat mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan hewan.

Ia menyebut perlunya regulasi yang lebih jelas terkait perlindungan hewan, pengawasan terhadap peternakan, serta penanganan hewan terlantar di tingkat daerah. Menurutnya, tanpa payung hukum yang kuat, upaya komunitas seperti Dog Does Disco akan terus berjalan sendiri tanpa dukungan sistem yang memadai.

"Komunitas bisa bergerak, tetapi negara juga harus hadir. Kalau keduanya berjalan bersamaan, hasilnya akan jauh lebih besar," katanya.

Respons Komunitas dan Harapan ke Depan

Dukungan dari kalangan legislator disambut baik oleh pegiat kesejahteraan hewan. Mereka menilai perhatian dari tokoh publik dapat memperluas jangkauan kampanye adopsi, terutama di kalangan masyarakat yang belum terbiasa dengan konsep tersebut.

Meski demikian, sejumlah pegiat mengingatkan bahwa dukungan politik perlu diikuti dengan tindakan nyata. Mereka berharap isu kesejahteraan hewan tidak hanya menjadi bahan pencitraan, tetapi benar-benar masuk dalam agenda pembahasan kebijakan di tingkat pusat maupun daerah.

Dog Does Disco sendiri disebut terus merancang berbagai kegiatan untuk memperkenalkan anjing-anjing yang siap diadopsi. Kegiatan mereka biasanya melibatkan sukarelawan, dokter hewan, serta masyarakat umum yang ingin berkontribusi, baik melalui donasi maupun dengan menjadi rumah singgah sementara.

Tantangan Kampanye Adopsi di Indonesia

Kampanye adopsi di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah masih kuatnya anggapan bahwa memiliki hewan ras tertentu merupakan simbol status sosial. Anggapan ini membuat sebagian masyarakat lebih memilih membeli ketimbang mengadopsi.

Selain itu, kurangnya kesadaran tentang tanggung jawab jangka panjang memelihara hewan juga menjadi kendala. Banyak orang tertarik memelihara tanpa mempertimbangkan kebutuhan biaya, waktu, dan perhatian yang diperlukan selama bertahun-tahun.

Rajiv menilai edukasi harus dimulai sejak dini, termasuk melalui sekolah dan komunitas. Ia berpendapat pemahaman tentang kesejahteraan hewan perlu ditanamkan sebagai bagian dari pendidikan karakter, sehingga tumbuh kesadaran untuk memperlakukan hewan secara bertanggung jawab.

Langkah Berkelanjutan yang Diharapkan

Ke depan, Rajiv berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam gerakan adopsi. Ia mendorong kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat umum untuk menciptakan ekosistem yang lebih ramah bagi hewan terlantar.

Menurutnya, langkah kecil seperti mengadopsi satu hewan dari jalanan dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu melaporkan kasus kekerasan atau penelantaran hewan kepada pihak berwenang.

Dukungan terhadap Dog Does Disco dinilai menjadi penanda bahwa isu kesejahteraan hewan mulai mendapat tempat dalam ruang publik. Namun pada akhirnya, keberhasilan kampanye adopsi akan sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat untuk memilih menyelamatkan hewan terlantar ketimbang membeli.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter