Asap Karhutla Kalimantan Masuk ke Ruangan, Peneliti: AC dan Pembersih Udara Tidak Cukup
Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan telah mulai merembes masuk ke dalam rumah-rumah warga, menimbulkan kekhawatiran serius terkait kesehatan. Peneliti dari berbagai lembaga kesehatan dan lingkungan menegaskan bahwa meskipun banyak warga menggunakan air conditioner (AC) dan alat pembersih udara, kualitas udara di dalam ruangan masih berbahaya.
Dampak Asap Terhadap Kesehatan
Asap karhutla mengandung partikel-partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk ke saluran pernafasan manusia dan mencapai paru-paru. Partikel-partikel ini berukuran sangat kecil, kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga dapat menembus sistem pertahanan tubuh dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta batuk-batuk. Sementara itu, paparan jangka panjang berisiko menyebabkan masalah pernapasan kronis, penyakit jantung, kanker paru-paru, dan gangguan neurologis.
Tim peneliti dari Universitas Indonesia melakukan studi terkait efektivitas alat pengendali udara dalam menangani asap karhutla. Hasil penelitian yang dipublikasikan minggu ini menunjukkan bahwa meskipun AC dan alat pembersih udara (air purifier) dapat mengurangi konsentrasi partikel halus di dalam ruangan, tingkat kualitas udara yang dihasilkan masih jauh dari standar aman.
Temuan Penelitian
"Hasil survei kami menunjukkan bahwa meskipun penggunaan AC dan air purifier membantu, kualitas udara di dalam ruangan masih berada di atas ambang batas aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)," ujar Dr. Siti Rahayu, peneliti utama dari tim UI.
Penelitian dilakukan di beberapa kota di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang terdampak parah oleh asap karhutla. Tim mengukur kualitas udara di dalam rumah warga yang menggunakan AC dan air purifier, serta membandingkannya dengan kondisi di luar ruangan. Hasilnya mengejutkan - di dalam ruangan yang menggunakan alat tersebut, konsentrasi PM2.5 masih mencapai 100-150 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang batas WHO yang hanya 15 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata harian.
"AC dan air purifier standar dirancang untuk menangani polusi udara perkotaan biasa, bukan untuk partikel-partikel superhalus seperti yang terdapat dalam asap karhutla. Partikel-partikel ini memiliki sifat yang berbeda dan memerlukan teknologi khusus untuk diendapkan," tambah Dr. Siti.
Solusi Alternatif yang Dianjurkan
Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah tambahan yang dapat dilakukan warga untuk melindungi diri dari bahaya asap karhutla. Pertama, penggunaan masker N95 atau KN95 saat berada di luar ruangan sangat dianjurkan. Masker ini mampu menapis partikel-partikel halus dengan efektivitas lebih tinggi dibandingkan masker medis biasa.
Kedua, menjaga kualitas udara di dalam ruangan dengan cara membuat filter sederhana menggunakan kain mikrofiber atau HEPA. Selain itu, memastikan ventilasi ruangan ditutup sepanjang hari dan menggunakan humidifier dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara.
Ketiga, membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Aktivitas olahraga di luar ruangan harus dihindari selama kondisi asap masih tebal.
Pemerintah daerah setempat juga diminta untuk segera mengambil langkah preventif, seperti menyediakan pusat kesehatan sementara bagi warga yang terdampak parah dan memperbanyak distribusi masker berkualitas tinggi. Selain itu, peningkatan koordinasi dengan pihak terkait untuk memadamkan api di titik-titik kebakaran menjadi prioritas utama.
Dengan kondisi yang masih belum menentu, warga di Kalimantan diminta tetap waspada dan mengikuti anjuran pihak kesehatan. Kualitas udara yang buruk dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat, sehingga langkah-langkah preventif perlu ditingkatkan.
Komentar (0)