30, 2026
Nasional

Asap Kebakaran TPA Cikundul Sukabumi Menyebar hingga Radius 5 Km

Kebakaran hebat melanda TPA Cikundul, Sukabumi, menghanguskan 4 hektare lahan. Asap pekat menyebar hingga 5 km. Petugas masih berupaya memadamkan api.]]>

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Asap Kebakaran TPA Cikundul Sukabumi Menyebar hingga Radius 5 Km

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul di Kota Sukabumi, Jawa Barat, menimbulkan asap tebal yang menyebar hingga radius lima kilometer dari lokasi. Asap pekat yang berasal dari timbunan sampah yang terbakar tersebut menutupi kawasan permukiman warga di sekitar TPA dan memicu gangguan kesehatan serta aktivitas sehari-hari masyarakat.

Kronologi dan Luasan Kebakaran

Peristiwa kebakaran di TPA Cikundul terjadi dan dilaporkan membakar area timbunan sampah yang cukup luas. Api yang berasal dari tumpukan sampah kering dengan mudah menjalar ke berbagai bagian, terutama karena material plastik dan limbah organik yang mengering di musim kemarau menjadi bahan bakar yang efektif. Petugas pemadam kebakaran bersama tim pengelola TPA berupaya memadamkan api dengan menurunkan unit mobil pemadam serta melakukan pendinginan di titik-titik yang masih menyala.

Salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran di area TPA adalah sumber api yang berada di lapisan bawah timbunan sampah. Kondisi ini membuat penyiraman air dari permukaan sering tidak menjangkau bagian dalam tumpukan yang masih membara, sehingga asap terus keluar meskipun api di permukaan sudah berhasil dijinakkan. Petugas juga harus bekerja dengan alat pelindung diri mengingat paparan asap dan gas dari pembakaran sampah berisiko bagi pernapasan.

Dampak Asap bagi Warga Sekitar

Asap yang menyebar hingga radius lima kilometer membuat kualitas udara di kawasan sekitar TPA menurun drastis. Warga di kelurahan dan kecamatan yang berdekatan melaporkan bau menyengat serta kabut asap yang mengganggu pandangan, terutama pada pagi dan malam hari ketika angin bertiup ke arah permukiman. Beberapa warga mengeluh sesak napas, batuk, dan iritasi mata akibat paparan asap yang berlangsung cukup lama.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan menjadi pihak yang paling terdampak. Pusat kesehatan masyarakat setempat mencatat adanya kenaikan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada periode terjadinya kebakaran. Warga terpaksa menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, sementara sebagian memilih mengurangi kegiatan di luar ruangan untuk menghindari paparan asap.

Gangguan Aktivitas dan Mobilitas

Kabut asap juga mengganggu visibilitas di jalan-jalan sekitar TPA. Pengendara yang melintas di kawasan tersebut harus lebih berhati-hati karena jarak pandang terbatas, terutama pada dini hari dan malam. Selain itu, aktivitas sekolah dan pekerjaan warga sebagian terganggu karena kondisi udara yang tidak sehat. Beberapa pedagang dan pelaku usaha di sekitar lokasi melaporkan penurunan pembeli akibat asap yang membuat orang enggan keluar rumah.

Upaya Penanganan dan Tantangan

Pemerintah Kota Sukabumi bersama instansi terkait menurunkan personel untuk menangani kebakaran dan membantu warga terdampak. Langkah yang dilakukan meliputi pemadaman di titik api, penyemprotan air, serta pemantauan kualitas udara di sekitar TPA. Distribusi masker kepada warga juga dilakukan sebagai upaya sementara mengurangi risiko gangguan pernapasan.

Namun, penanganan kebakaran TPA menghadapi tantangan struktural. Ketersediaan air, akses jalan menuju titik api, serta jumlah personel menjadi faktor yang membatasi kecepatan pemadaman. Selain itu, munculnya titik-titik api baru akibat bara yang masih aktif di bawah timbunan sampah membuat proses pemadaman berlangsung lama dan berulang.

Penyebab dan Faktor Pemicu

Kebakaran di TPA umumnya dipicu oleh beberapa faktor, antara lain gas metana yang terbentuk dari pembusukan sampah organik, pembakaran sampah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, serta kondisi cuaca panas yang mempercepat pengeringan material. Gas metana yang terperangkap di dalam timbunan dapat menyulut api ketika terjadi akumulasi panas atau percikan. Karena itu, pengelolaan sampah yang baik, termasuk pemisahan limbah organik dan anorganik serta pemanfaatan gas metana, menjadi kunci pencegahan kebakaran serupa di masa depan.

Respons Pemerintah dan Rekomendasi

Pemerintah Kota Sukabumi menyatakan akan mengevaluasi pengelolaan TPA Cikundul, termasuk sistem pengelolaan sampah dan mitigasi risiko kebakaran. Evaluasi mencakup penataan zona timbunan, penyediaan fasilitas pemadaman yang memadai, serta pemantauan rutin terhadap potensi munculnya titik panas. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai larangan membakar sampah sembarangan perlu diperkuat untuk mengurangi risiko kebakaran.

Untuk jangka menengah, dibutuhkan penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu, seperti pengomposan sampah organik, daur ulang, dan pemanfaatan energi dari sampah. Langkah ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang ditimbun, tetapi juga menekan potensi terbentuknya gas metana yang mudah terbakar. Koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola TPA, dan masyarakat menjadi prasyarat agar masalah serupa tidak terus berulang.

Kondisi Terkini dan Imbauan

Hingga penanganan berlangsung, petugas masih bersiaga di lokasi untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala. Warga diimbau tetap menggunakan masker saat berada di luar ruangan, mengurangi aktivitas di area terdampak asap, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami keluhan pernapasan. Pemerintah juga diminta memberikan informasi berkala mengenai perkembangan kebakaran dan kualitas udara agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat.

Kebakaran TPA Cikundul menjadi pengingat bahwa persoalan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan juga menyangkut keselamatan publik dan kualitas lingkungan. Penanganan yang cepat, transparan, dan berkelanjutan diperlukan agar dampak asap yang menyebar hingga radius lima kilometer tidak berlangsung berkepanjangan dan warga sekitar dapat kembali menjalani aktivitas dengan aman.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter