Balita di Samarinda Meninggal Usai Sesak Napas, Keluarga Tak Menyadari Riwayat Asma
Sebuah tragedi menghinggapi keluarga di Samarinda, Kalimantan Timur, dimana seorang balita berusia dua tahun dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami sesak napas yang parah. Kondisi ini terjadi tanpa diketahui oleh keluarga bahwa korban memiliki riwayat penyakit asma yang mungkin menjadi pemicu utama kejadian tersebut.
Kasus ini menimpa anak pasangan Rudi dan Siti, warga RT 05/RW 12, Kelurahan Sungai Keledang, Kecamatan Samarinda Seberang. Korban yang bernama Farel ini dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) A. M Parikesit Samarinda dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan gejala sesak napas yang sudah berlangsung beberapa jam sebelumnya.
Kronologi Kehilangan Nyawa Balita
Menurut keterangan ibu korban, Siti, kejadian bermula saat Farel sedang bermain di dalam rumah. Tiba-tiba anaknya menunjukkan gejaga sesak napas dan terlihat kesulitan bernapas. Siti segera memberikan pertolongan pertama dengan mencoba membersihkan saluran pernafasan anaknya.
"Saat itu anak saya tiba-tiba terengah-engah dan napasnya menjadi pendek. Saya pikir mungkin ia menelan sesuatu yang membuatnya tersumbat. Saya langsung mencoba membersihkan mulut dan hidungnya," ujar Siti yang masih terlihat shock.
Setelah beberapa upaya tidak membuahkan hasil, kondisi Farel semakin memburuk. Siti segera meminta bantuan suaminya, Rudi, untuk membawa anaknya ke rumah sakit terdekat. Namun, dalam perjalanan menuju RSUD A.M Parikesit, kondisi Farel yang sudah lemas akhirnya tak tertolong lagi.
Tidak Menyadari Riwayat Asma
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim medis di rumah sakit, ditemukan fakta bahwa Farel memiliki riwayat asma meski keluarga tidak menyadari kondisi ini. Menurut dokter yang menangani, dr. Ahmad, riwayat asma pada anak seringkali tidak terdeteksi jika tidak terjadi serangan yang signifikan.
"Dari pemeriksaan yang kami lakukan, ternyata balita ini memiliki indikasi asma meski keluarga tidak pernah melaporkan riwayat penyakit ini. Asma bisa muncul sejak dini dan seringkali tidak terdeteksi jika tidak terjadi episode serangan yang parah," jelas dr. Ahmad.
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang ditandai dengan serangan sesak napas, dengkulan, dan sesak napas. Pada anak-anak, gejala asma seringkali salah diartikan sebagai infeksi saluran pernafasan biasa sehingga tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Upaya Penanganan yang Terlambat
Tim medis di RSUD A.M Parikesit melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan nyawa Farel, mulai dari pemberian oksigen, obat-obatan hingga resusitasi. Namun, karena kondisi yang sudah sangat kritis dan waktu yang terlambat, nyawa balita tak bisa diselamatkan.
"Ketika tiba di rumah sakit, kondisi pasien sudah dalam situasi kritis. Otaknya mengalami kekurangan oksigen yang berkepanjangan sehingga fungsi vitalnya tidak bisa dipulihkan lagi," tambah dr. Ahmad dengan nada sedih.
Kasus ini menjadi peringatan bagi para orang tua untuk lebih waspada terhadap gejala-gejala yang muncul pada anak, terutama masalah pernafasan. Penting bagi setiap orang tua untuk memahami riwayat kesehatan anak dan segera mencari bantuan medis jika ada gejala yang mencurigakan.
Imbal Kepada Orang Tua
Ditengah duka mendalam, Rudi dan Siti berharap kejadian yang menimpa anaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Mereka meminta agar para orang tua tidak mengabaikan gejala-gejala yang muncul pada anak, terutama masalah pernafasan.
"Kami harap tidak ada lagi keluarga lain yang mengalami hal yang sama. Jika ada gejala sesak napas atau yang tidak biasa pada anak, segera bawa ke dokter jangan menunggu lama," ujar Rudi dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, dr. H. Mursyid, menyampaikan duka mendalam atas kejadian yang menimpa Farel. Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan anak, terutama yang berusia balita.
"Kami akan meningkatkan sosialisasi mengenai pentingnya deteksi dini penyakit asma pada anak di Posyandu dan puskesmas. Kami juga akan memberikan edukasi kepada para tenaga kesehatan di tingkat puskesmas untuk lebih sensitif terhadap gejala asma pada anak," jelas dr. Mursyid.
Dengan meninggalnya Farel, semoga kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama bagi para orang tua, agar lebih waspada terhadap kesehatan anak dan tidak mengabaikan gejala-gejala yang mungkin muncul.
Komentar (0)