30, 2026
Nasional

Baru Mau Bikin SIM Motor, Malah Disuruh Sekolah Lagi 15 Jam

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/24/6ab5570cdbf52-ujian-sim-motor_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Kirana Kusuma
Kirana Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Aturan Baru: Pemohon SIM Motor Wajib Ikut Pendidikan 15 Jam

Kebijakan baru dalam proses pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) sepeda motor kembali menjadi sorotan publik. Calon pemohon SIM C kini diwajibkan mengikuti program pendidikan dan pelatihan berkendara dengan durasi minimal 15 jam sebelum dapat mengajukan ujian teori maupun praktik. Aturan ini menandai perubahan signifikan dibandingkan skema sebelumnya, ketika pemohon dapat langsung mendaftar, mengikuti ujian tertulis, lalu menjalani uji praktik di lintasan tanpa melalui kurikulum pelatihan formal yang terstruktur.

Kewajiban tersebut tertuang dalam regulasi terbaru yang mengatur penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan mengemudi. Tujuannya adalah menekan angka kecelakaan lalu lintas, khususnya yang melibatkan pengendara sepeda motor, sekaligus membentuk kesadaran berlalu lintas sejak dini. Pemerintah menilai pendekatan lama kurang efektif karena banyak pemohon hanya mengejar kelulusan administratif tanpa benar-benar memahami teknik dasar berkendara yang aman.

Rincian Materi Selama 15 Jam Pelatihan

Program pendidikan 15 jam ini tidak hanya berisi teori di dalam kelas. Materi disusun mencakup pemahaman peraturan lalu lintas, rambu dan marka jalan, serta etika berkendara. Selain itu, peserta akan mendapatkan sesi praktik yang mencakup teknik pengereman yang benar, keseimbangan, manuver menghindar, hingga cara membaca potensi bahaya di jalan raya.

Teori dan Praktik Berimbang

Dalam kurikulum tersebut, porsi teori dan praktik dibuat berimbang. Peserta diwajibkan memahami aspek keselamatan, termasuk penggunaan helm berstandar, kelayakan kendaraan, dan risiko berkendara dalam kondisi cuaca buruk. Sesi praktik dilakukan di lintasan tertutup dengan pengawasan instruktur bersertifikat. Evaluasi dilakukan secara bertahap, sehingga peserta yang belum menguasai keterampilan tertentu dapat mengulang bagian tersebut sebelum dinyatakan lulus.

Instruktur dan Lembaga Pelatihan

Pelatihan ini diselenggarakan oleh lembaga pendidikan mengemudi yang bekerja sama dengan kepolisian. Instruktur wajib memiliki kompetensi di bidang keselamatan berkendara dan memahami standar evaluasi yang ditetapkan. Setiap peserta mendapatkan buku panduan serta kartu kendali kehadiran. Kehadiran penuh menjadi syarat mutlak untuk dapat melanjutkan ke tahap ujian SIM.

Dampak bagi Calon Pemohon

Bagi masyarakat, kebijakan ini menimbulkan konsekuensi praktis. Waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh SIM C menjadi lebih besar. Pemohon harus menyisihkan beberapa hari untuk mengikuti pelatihan, sehingga mereka yang bekerja atau tinggal jauh dari lokasi pelatihan perlu mengatur ulang jadwal. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai investasi waktu tersebut sebanding dengan manfaat jangka panjang berupa keselamatan di jalan.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran soal aksesibilitas. Tidak semua daerah memiliki lembaga pelatihan mengemudi yang memadai. Pemerintah diminta memastikan penyebaran fasilitas pelatihan merata, terutama di kabupaten dan kota kecil, agar kebijakan ini tidak menjadi beban baru bagi warga. Selain itu, biaya pelatihan diharapkan tetap terjangkau dan tidak membuka ruang praktik calo.

Respons Publik dan Pengamat

Respons publik terhadap aturan ini beragam. Sebagian mendukung karena menilai pendidikan berkendara memang perlu diperketat. Sebagian lain menganggap durasi 15 jam terlalu lama untuk pengendara motor yang sebagian besar sudah terbiasa berkendara sehari-hari. Pengamat transportasi menekankan bahwa keberhasilan kebijakan tidak hanya ditentukan oleh lamanya pelatihan, tetapi juga kualitas pengajaran dan konsistensi pengawasan.

Data kecelakaan lalu lintas menunjukkan pengendara sepeda motor termasuk kelompok paling rentan. Tingginya volume sepeda motor di Indonesia membuat urgensi pembinaan keterampilan berkendara semakin besar. Karena itu, pendidikan mengemudi dinilai sebagai instrumen penting untuk membangun budaya tertib berlalu lintas, bukan sekadar formalitas memperoleh dokumen.

Tahapan dan Konsekuensi Bagi yang Belum Lulus

Setelah menyelesaikan 15 jam pelatihan, peserta baru dapat mendaftar ujian SIM. Ujian meliputi tes teori dan tes praktik di lintasan. Peserta yang tidak lulus diberi kesempatan mengulang sesuai ketentuan yang berlaku. Bagi yang belum menyelesaikan pelatihan, permohonan SIM tidak dapat diproses. Ketentuan ini berlaku bagi pemohon SIM C baru maupun mereka yang memperpanjang setelah masa berlaku habis dalam jangka waktu tertentu.

Kepolisian menegaskan bahwa proses ujian tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Seluruh tahapan, mulai dari pendaftaran, pelatihan, hingga pengujian, akan diawasi secara berjenjang. Masyarakat diimbau tidak menggunakan jasa perantara tidak resmi dan melaporkan jika menemukan pungutan liar dalam proses pembuatan SIM.

Harapan ke Depan

Kebijakan pendidikan 15 jam ini pada akhirnya bertujuan menurunkan angka fatalitas kecelakaan. Jika dijalankan dengan pengawasan ketat dan kualitas pelatihan yang terjaga, aturan ini berpotensi menjadi standar baru dalam pembinaan pengendara di Indonesia. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, kompetensi instruktur, serta kemudahan akses bagi seluruh lapisan masyarakat. Tanpa itu, aturan ini berisiko hanya menambah beban administratif tanpa perbaikan nyata di jalan raya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Kusuma

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter