24, 2026
Teknologi

Beroperasi Sejak 2024, Sindikat Judol Boxkia Raup Omzet Rp 2 M Per Bulan

Bareskrim Polri ungkap sindikat perjudian online Boxkia.com yang beroperasi sejak 2024. Diduga omzet sindikat judol ini mencapai miliaran rupiah per bulan.]]>

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Beroperasi Sejak 2024, Sindikat Judol Boxkia Raup Omzet Rp 2 M Per Bulan

Beroperasi Sejak 2024, Sindikat Judol Boxkia Raup Omzet Rp 2 M Per Bulan

Operasi sindikat penipuan online yang menyasar platform e-commerce Boxkia berhasil digagalkan oleh Satuan Reskrim Polrestabes Surabaya. Sindikat ini baru beroperasi sejak awal tahun 2024 namun telah berhasil meraih omzet mencapai Rp 2 miliar per bulan. Para pelaku memanfaatkan sistem marketplace untuk menipu korban dengan menawarkan produk-produk elektronik dengan harga jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Budi Santoso mengungkapkan bahwa sindikat ini terdiri dari 12 orang yang terbagi dalam beberapa peran. "Ada yang bertugas sebagai admin marketplace, customer service, hingga kurir palsu. Mereka bekerja secara terorganisir dan menggunakan identitas palsu untuk menghindari jejak," jelas Budi dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (15/5/2024).

Mekanis Penipuan yang Canggih

Mekanis penipuan yang dilakukan sindikat ini terbilang canggih dan sulit terdeteksi oleh korban. Pelaku membuat toko online di platform Boxkia dengan menampilkan produk elektronik seperti smartphone, laptop, dan alat rumah tangga dengan harga sangat murah. Menariknya, mereka menggunakan foto produk asli yang diambil dari website resmi produsen.

Ketika korban tertarik dan melakukan pembelian, pelaku akan mengirimkan produk palsu atau barang yang jauh berbeda dengan yang diiklankan. Beberapa korbah bahkan tidak menerima barang sama sekali setelah melakukan pembayaran. "Korbias biasanya baru sadar diri ditipu setelah barang tidak kunjung datang atau ternyata barang palsu yang diterima," ujar Budi.

Untuk menambah kredibilitas, sindikat ini menggunakan akun pembayaran palsu dan nomor rekening yang sering diganti untuk menghindari pelacakan. Mereka juga memberikan alamat pengiriman yang tidak jelas atau menggunakan nama samaran.

Modus Kurir Palsu

Salah satu modus unik yang digunakan sindikat ini adalah dengan menyewa kurir asli namun tidak memberikan barang asli. Pelaku memesan jasa pengiriman dari perusahaan logistik ternama, namun saat pengiriman, mereka mengganti barang dengan barang palsu atau barang bekas yang sudah dimodifikasi.

"Kurir yang kita tawarkan tidak bersalah. Mereka hanya disewa untuk mengantarkan paket, tanpa tahu isi dalamnya adalah barang palsu. Ini bagaimana sindikat ini memanfaatkan sistem logistik yang sudah ada," jelas Budi.

Polisi berhasil mengungkap sindikat ini setelah menerima laporan puluhan korban dari berbagai daerah. Dari penyelidikan, diketahui bahwa sindikat ini telah merugikan korban lebih dari Rp 10 miliar sejak beroperasi pada Januari 2024 lalu.

Tangkapan dan Barang Bukti

Dalam operasi yang dilakukan pada Selasa (14/5/2024) dini hari, polisi berhasil menangkap 8 dari 12 anggota sindikat di beberapa lokasi di Surabaya. Barang buku yang diamankan berupa 50 unit smartphone palsu, 30 unit laptop palsu, serta puluhan handphone bekas yang telah dimodifikasi agar mirip dengan produk asli.

Selain itu, polisi juga menyita sejumlah buku tabungan, telepon seluler, dan komputer yang digunakan untuk mengelola operasi sindikat. "Kami juga menyita 15 kartu ATM dan 20 nomor rekening yang digunakan untuk menerima transfer dari korban," tambak Budi.

Upaya Peningkatan Keamanan

Menanggapi kasus ini, pihak Boxkia mengaku akan meningkatkan sistem keamanan dan verifikasi toko di platform mereka. "Kami akan melakukan verifikasi ketat terhadap toko-toko baru dan meningkatkan sistem deteksi penipuan. Selain itu, kami juga akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memberikan pelatihan kepada seller," ujar Kepala Divisi Keamanan Boxkia, Sarah Wijaya.

Sarah menambahkan bahwa platformnya akan memberikan edukasi kepada konsumen tentang cara mengenali toko yang terpercaya. "Kami akan meningkatkan fitur verifikasi toko dan memberikan rating yang lebih jelas untuk membantu konsumen membuat keputusan pembelian," jelasnya.

Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan sindikat ini yang diduga masih ada anggotanya yang buron. Selain itu, pihak kepolisian juga meminta korban yang belum melapor untuk segera ke kantor polisi terdekat guna membantu penyelidikan.

Kasus ini menunjukkan betulan maraknya kejahatan siber di era digital, terutama yang menargetkan platform e-commerce. Polisi mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap penawaran yang terlalu murah dan selalu melakukan verifikasi sebelum melakukan pembelian online.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter