30, 2026
Teknologi

Blok Gas Natuna yang Dikelola Hashim Banyak CO2, Realistis Digarap?

Perusahaan migas milik Hashim Djojohadikusumo resmi ditunjuk sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja (WK) atau Blok Natuna D-Alpha.]]>

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Blok Gas Natuna yang Dikelola Hashim Banyak CO2, Realistis Digarap?

Blok Gas Natuna yang Dikelola Hashim Banyak CO2, Realistis Digarap?

Blok gas Natuna yang menjadi salah satu aset strategis Indonesia ternyata memiliki tantangan signifikan karena kandungan karbon dioksida (CO2) yang sangat tinggi. Blok ini yang sebelumnya dikelola oleh Hashim Djojohadikusumo melalui perusahaan Pertamina EP Cepu (PEC) dan Medco Energi ini kini menjadi perdebatan apakah secara ekonomi dan teknis realistis untuk digarap secara masif.

Blok Natuna Utara yang terletak di Laut Natuna, perairan barat daya Kalimantan, dikenal memiliki cadangan gas yang besar. Namun, kandungan CO2 di dalam gas tersebut mencapai persentase sangat tinggi, bahkan diklaim mencapai 70-80%. Angka ini jauh di atas standar ekonomis untuk pengembangan lapangan gas pada umumnya yang biasanya berkisar antara 5-10%.

Tantangan Teknis dan Ekonomis

Kandungan CO2 yang tinggi ini menjadi hambatan utama dalam pengembangan Blok Natuna. Secara teknis, gas dengan kandungan CO2 tinggi memerlukan proses pemisahan (separation) yang kompleks dan mahal. CO2 harus dihilangkan dari aliran gas sebelum gas tersebut dapat dikomersilkan karena CO2 tidak memiliki nilai ekonomi dan dapat menyebabkan korosif pada pipa dan fasilitas pengolahan.

Dari sisi ekonomi, proses pemisahan CO2 yang intensif energi ini akan menaikkan biaya produksi secara signifikan. Dengan harga gas yang relatif rendah di pasar global, kelayakan ekonomi Blok Natuna menjadi pertanyaan besar. Analisis beberapa pihak menunjukkan bahwa pengembangan Blok Natuna hanya akan menguntungkan jika harga gas mencapai level tertinggi atau jika ada subsidi pemerintah yang signifikan.

Keterlibasan Hashim Djojohadikusumo

Sejarah keterlibatan Hashim Djojohadikusumo dalam Blok Natuna bermula pada era kontrak kerja sama (KKKS) antara Pertamina dengan beberapa perusahaan asing. Pada periode tertentu, melalui perusahaan yang dikelolanya, Hashim memiliki andil dalam pengelolaan blok ini. Namun, pengembangan fisiknya tidak berjalan maksimal menghadapi tantangan teknis dan ekonomis yang dihadapi.

Pada tahun 2018, pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaan Blok Natuna secara penuh melalui Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas). Keputusan ini diambil untuk memastikan pengelolaan blok strategis ini lebih berorientasi pada kepentingan nasional. Meski demikian, tantangan teknis dan ekonomis tetap menjadi fokus utama dalam rencana pengembangan blok ini.

Kebijakan Pemerintah dan Potensi Pengembangan

Pemerintah Indonesia tetap melihat Blok Natuna sebagai aset strategis yang perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor. Blok ini dianggap dapat berkontribusi dalam program substitusi minyak bumi (BBM) dan gasifikasi batubara untuk listrik (PLTGU).

Saat ini, pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai opsi pengembangan Blok Natuna, termasuk skala pengembangan bertahap dengan memanfaatkan teknologi terkini untuk mengurangi biaya produksi. Beberapa teknologi seperti pemisahan CO2 secara in-situ atau penggunaan carbon capture and storage (CCS) sedang diteliti untuk memungkinkan pengembangan blok ini lebih layak secara ekonomi.

Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan kerja sama dengan pihak asing yang memiliki teknologi dan pengalaman dalam menangani lapangan gas dengan kandungan CO2 tinggi. Kerja sama ini diharapkan dapat membawa solusi teknis dan finansial yang memungkinkan pengembangan Blok Natuna berjalan lebih efisien.

Implikasi Lingkungan dan Energi

Pengembangan Blok Natuna juga memicu perdebatan mengenai implikasi lingkungan. Di satu sisi, penggunaan gas alam dapat mengurangi emisi CO2 dibandingkan dengan penggunaan batubara. Namun, di sisi lain, proses produksi dan pemisahan CO2 yang intensif energi serta potensi emisi metan dari kegiatan hulu migas juga menjadi perhatian.

Dalam konteks transisi energi global, pengembangan Blok Natuna dapat menjadi bagian dari solusi jika diiringi dengan strategi pengurangan emisi yang komprehensif. Penggunaan teknologi CCS dan komitmen untuk memastikan seluruh rantai pasokan gas dilakukan secara bertanggung jawab lingkungan menjadi kunci untuk menjadikan Blok Natuna sebagai sumber energi yang berkelanjutan.

Dengan demikian, meskipun Blok Natuna menghadapi tantangan teknis dan ekonomis yang signifikan karena kandungan CO2 yang tinggi, potensi pengembangannya masih terbuka. Dukungan pemerintah, inovasi teknologi, dan kerja sama yang tepat menjadi faktor kunci untuk menjadikan Blok Natuna sebagai sumber energi yang menguntungkan bagi Indonesia di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter