22, 2026
Teknologi

BMKG: Modifikasi Cuaca untuk Urai Kepekatan Asap Karhutla, Ini Prakiraan Musim Hujan 2026

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2025/12/01/692d26a628af6-kepala-bmkg-teuku-faisal-fathani_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menempatkan teknologi modifikasi cuaca sebagai salah satu instrumen utama dalam upaya mengurai kepekatan asap yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi penyemaian awan diarahkan tidak hanya untuk memicu hujan di atas area terbakar, tetapi juga untuk membasahi lahan gambut yang selama ini menjadi sumber asap paling persisten di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Langkah tersebut diambil karena asap karhutla tidak dapat sepenuhnya ditangani melalui pemadaman darat. Titik panas yang bersembunyi di lapisan gambut dalam kerap muncul kembali meski permukaan telah disiram. Kondisi itulah yang membuat BMKG memandang modifikasi cuaca sebagai pelengkap, bukan pengganti, upaya pemadaman konvensional yang dilakukan tim gabungan di lapangan.

Mekanisme dan Batas Kemampuan Modifikasi Cuaca

Secara teknis, operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai bahan higroskopis, umumnya garam halus, ke dalam awan potensial yang memiliki kandungan uap air cukup. Penyemaian tersebut merangsang proses tumbukan dan penggabungan inti-inti kondensasi sehingga butiran air di dalam awan tumbuh lebih cepat dan akhirnya jatuh sebagai hujan.

Kendati demikian, BMKG menegaskan bahwa modifikasi cuaca memiliki keterbatasan yang jelas. Teknologi ini bergantung sepenuhnya pada ketersediaan awan yang layak disemai. Pada periode kemarau panjang, ketika langit relatif bersih dari awan konvektif, operasi tidak dapat dijalankan secara optimal. Karena itu, penentuan waktu penerbangan menjadi krusial dan selalu didahului oleh analisis prakiraan cuaca jangka pendek yang diperbarui setiap hari.

Pelaksanaan operasi melibatkan sejumlah institusi. BMKG berperan dalam penyediaan data meteorologi, analisis potensi awan, serta pemantauan pergerakan massa udara. Sementara pelaksanaan teknis penerbangan dan penyemaian dilakukan bersama instansi lain yang memiliki armada serta kewenangan dalam penanganan bencana. Sinergi lintas lembaga ini dinilai penting agar setiap penerbangan benar-benar mengenai sasaran dan tidak sekadar menghabiskan anggaran.

Dampak Asap dan Urgensi Penanganan

Kepekatan asap karhutla memiliki dampak berlapis. Pada level lingkungan, asap menurunkan kualitas udara hingga kategori berbahaya dan menurunkan jarak pandang. Pada level layanan publik, jarak pandang yang menipis dapat mengganggu jadwal penerbangan serta aktivitas pelayaran. Pada level kesehatan, paparan partikel halus dalam jangka waktu lama meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru kronis.

Karena itu, BMKG mendorong pemerintah daerah untuk tidak menunggu eskalasi asap sebelum bertindak. Deteksi dini melalui pemantauan titik panas dan analisis curah hujan dinilai lebih efektif untuk mencegah kebakaran meluas, khususnya di kawasan gambut yang memiliki karakter mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Prakiraan Musim Hujan 2026

Selain soal modifikasi cuaca, BMKG menyiapkan prakiraan musim hujan 2026 yang menjadi rujukan penting bagi daerah dalam menyusun rencana penanganan karhutla maupun kesiapan menghadapi bencana hidrometeorologi basah. Penyusunan prakiraan dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer global, di antaranya perkembangan fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) di Samudra Pasifik dan Dipole Mode Samudra Hindia yang berpengaruh langsung terhadap pola curah hujan di Indonesia.

BMKG menegaskan bahwa prakiraan awal musim hujan tidak dapat dibaca sebagai satu angka tunggal untuk seluruh Indonesia. Wilayah Nusantara memiliki keragaman pola hujan, sehingga awal musim hujan di satu daerah bisa berbeda cukup jauh dibandingkan daerah lain. Daerah dengan tipe hujan monsun umumnya memiliki batas awal musim yang lebih tegas, sedangkan wilayah dengan pola ekuatorial dan lokal cenderung lebih sulit diprediksi secara seragam.

Dalam konteks karhutla, informasi awal musim hujan menjadi penentu strategi. Kedatangan hujan yang lebih awal berpotensi mempersingkat periode rawan kebakaran dan membantu proses pembasahan gambut secara alami. Sebaliknya, jika awal musim hujan mundur, periode kering menjadi lebih panjang sehingga risiko eskalasi asap meningkat dan kebutuhan operasi modifikasi cuaca ikut bertambah.

Kesiapan Daerah dan Imbauan Publik

BMKG mengimbau pemerintah daerah untuk menyelaraskan kalender penanganan bencana dengan informasi prakiraan musim. Daerah yang diproyeksikan mengalami awal musim hujan lebih lambat diminta memperkuat patroli terpadu, memastikan ketersediaan sumber air, serta menyiapkan jalur evakuasi bagi warga di kawasan rawan asap.

Masyarakat juga diminta memperbarui informasi cuaca secara berkala melalui kanal resmi BMKG, terutama ketika kualitas udara menurun. Penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruang saat asap pekat dinilai tetap relevan sebagai langkah perlindungan diri. Dengan begitu, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada satu instrumen, tetapi berjalan sebagai rangkaian upaya yang saling menopang antara pencegahan, pemadaman, modifikasi cuaca, dan kesiapsiagaan masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter