30, 2026
Teknologi

BMKG Ungkap 2 Klaster Sebaran Abu Anak Krakatau: Arah Lampung dan Jakarta

BMKG mengungkap sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, mencapai Jakarta dan Lampung.]]>

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

BMKG Ungkap 2 Klaster Sebaran Abu Anak Krakatau: Arah Lampung dan Jakarta

BMKG Ungkap 2 Klaster Sebaran Abu Anak Krakatau: Arah Lampung dan Jakarta

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik dari Anak Krakatau yang saat ini bergerak menuju wilayah Lampung dan Jakarta. Informasi ini dikeluarkan setelah terpantau aktivitas vulkanik di Selat Sunda yang menunjukkan adanya letusan terus-menerus sejak beberapa pekan terakhir.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) BMKG, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa abu vulkanik dari Anak Krakatau terdeteksi dalam dua arah utama. Klaster pertama bergerak menuarah wilayah Lampung, Provinsi Lampung, dengan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam. Klaster kedua bergerak menuarah arah barat laut menuju wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan kecepatan yang serupa.

"Hasil monitoring kami menunjukkan adanya dua arah dominan pergerakan abu vulkanik dari Anak Krakatau. Untuk klaster pertama, arahnya menuarah selatan ke arah perairan Lampung. Sedangkan klaster kedua bergerak ke arah barat laut menuarah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)," ujar Hendra dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan pada Rabu (15/3).

Aktivitas Anak Krakatau Terus Meningkat

Menurut data yang dikumpulkan PVMBG, aktivitas Anak Krakatau terus meningkat sejak awal Maret 2023. Frekuensi letusan mencapai 20-30 kali per hari dengan amplitudo getaran sebesar 10-35 milimeter. Tinggi kolom abu vulkanik bervariasi antara 500 hingga 1.500 meter di atas puncak gunung.

"Kami telah menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level II (Waspada) sejak 15 Februari 2023. Status ini diberikan karena terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Kami terus memantau perkembangan aktivitas gunung tersebut secara intensif," jelas Hendra.

Dampak bagi Transportasi Udara

Seiring dengan adanya sebaran abu vulkanik, BMKG telah mengimbau maskapai penerbangan untuk berhati-hati terutama saat melakukan operasi penerbatan dan lepas landas di wilayah yang terdampak abu. Pihaknya juga telah memberikan informasi kepada Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Radin Inten II Lampung.

"Abu vulkanik dapat berdampak terhadap operasi penerbangan karena dapat merusak mesin pesawat. Oleh karena itu, kami sarankan maskapai untuk selalu memperhatikan informasi yang dikeluarkan oleh BMKG dan melakukan evaluasi terhadap rencana penerbangan," tambah Hendra.

Upaya Mitasi dan Evakuasi

Pemerintah Daerah Provinsi Lampung bersama BPBD setempata telah mengimbau warga yang tinggal di pesisir selatan untuk waspada terhadap potensi gempa bumi dan tsunami akibat erupsi Anak Krakatau. Warga juga diminta untuk tidak mendekati area pesisir dalam radius 5 kilometer dari puncak gunung.

"Kami telah menyiapkan posko darurat di beberapa titik di wilayah pesisir Lampung. Selain itu, tim SAR juga telah diterjunkan untuk memantau kondisi di lapangan dan siap melakukan evakuasi jika diperlukan," ujar Kepala BPDP Provinsi Lampung, Ahmad Yani.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah meminta Dinas Perhubungan DKI untuk memantau kondisi transportasi udara yang mungkin terdampak oleh abu vulkanik. Pihaknya juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Historika Letusan Anak Krakatau

Anak Krakatau merupakan gunung berapi aktif yang lahir dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan tersebut mengakibatkan tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang dan mengubah peta geografis di Selat Sunda.

Gunung ini pernah mengalami letusan besar pada tahun 2018 yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan ratusan orang. Sejak insiden tersebut, aktivitas Anak Krakatau terus dipantau secara ketat oleh PVMBG.

"Kami terus melakukan monitoring 24 jam terhadap aktivitas Anak Krakatau. Data yang kami kumpulkan akan selalu kami update kepada masyarakat dan pihak terkait untuk antisipasi dampak yang mungkin timbul," pungkas Hendra.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter