30, 2026
Nasional

BNPB Ungkap Kendala Pemadaman Kebakaran Hutan dari Udara

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap sejumlah kendala yang dihadapi dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari udara. Kendala tersebut mencakup kondisi cuaca ekstrem, keterbatasan armada, hingga medan yang sulit dijangkau oleh pesawat maupun helikopter waterbombing.

Cuaca dan Asap Tebal Jadi Hambatan Utama

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menjelaskan bahwa operasi pemadaman udara sangat bergantung pada kondisi cuaca. Angin kencang yang kerap terjadi di wilayah terdampak membuat pesawat sulit melepaskan air secara tepat sasaran. Selain itu, asap tebal yang menutupi area kebakaran menurunkan visibilitas pilot sehingga membahayakan keselamatan awak pesawat.

Menurut data BNPB, asap dari karhutla dapat mencapai ketinggian ribuan kaki dan menyebar ke wilayah yang lebih luas. Kondisi ini tidak hanya mengganggu penerbangan pemadaman, tetapi juga berdampak pada aktivitas penerbangan komersial di beberapa bandara. Ketika visibilitas berada di bawah ambang batas aman, operasi waterbombing terpaksa dihentikan sementara hingga cuaca membaik.

Keterbatasan Armada dan Kapasitas Air

Kendala lain yang dihadapi adalah jumlah armada pesawat dan helikopter yang dimiliki tidak sebanding dengan luas area yang terbakar. BNPB mencatat bahwa satu unit helikopter waterbombing hanya mampu mengangkut air dalam kapasitas terbatas, sementara titik api yang harus dipadamkan tersebar di berbagai lokasi. Waktu tempuh dari sumber air terdekat ke titik kebakaran juga memengaruhi efektivitas pemadaman.

Selain itu, proses pengisian air ulang atau refilling membutuhkan waktu. Semakin jauh sumber air dari lokasi kebakaran, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk satu kali sorti. Hal ini menyebabkan jumlah air yang berhasil dijatuhkan ke titik api dalam satu hari operasi menjadi terbatas.

Medan Sulit dan Sumber Air Terbatas

Wilayah karhutla umumnya berada di lahan gambut yang sulit dijangkau kendaraan darat. Kondisi ini membuat pemadaman udara menjadi salah satu metode andalan. Namun, tidak semua lokasi memiliki sumber air yang memadai, seperti sungai atau danau, yang dapat digunakan untuk pengisian helikopter. Di beberapa titik, petugas harus mencari sumber air hingga puluhan kilometer dari lokasi kebakaran.

BNPB juga menyoroti bahwa kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dengan kebakaran di lahan mineral. Api dapat menyala di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat dari udara. Akibatnya, pemadaman udara hanya efektif untuk memadamkan api di permukaan, sementara bara di bawah tanah tetap membara dan berpotensi muncul kembali.

Koordinasi dan Strategi Pemadaman

Untuk mengatasi kendala tersebut, BNPB mengoordinasikan operasi pemadaman melalui posko terpadu yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Strategi pemadaman dilakukan secara kombinasi antara operasi udara dan darat.

Teknologi modifikasi cuaca juga diterapkan untuk membuat hujan buatan di wilayah terdampak. BNPB bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk melakukan penyemaian awan. Namun, upaya ini hanya dapat dilakukan jika terdapat awan potensial di wilayah tersebut.

Peran Masyarakat dan Pencegahan

BNPB menegaskan bahwa pencegahan menjadi kunci utama dalam mengatasi karhutla. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama pada musim kemarau. Sosialisasi dan patroli terpadu terus dilakukan di daerah rawan kebakaran.

Selain itu, BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk memperkuat sistem deteksi dini, termasuk pemantauan titik panas atau hotspot melalui satelit. Data titik panas digunakan untuk menentukan lokasi prioritas pemadaman dan pengerahan sumber daya.

Dampak dan Tantangan ke Depan

Karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat akibat kabut asap, terganggunya transportasi udara, serta kerugian ekonomi. BNPB menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat, dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.

Ke depan, BNPB mendorong penguatan kapasitas armada pemadaman udara, peningkatan teknologi pemantauan, serta penegakan hukum terhadap pembukaan lahan secara ilegal. Dengan langkah tersebut, diharapkan upaya penanggulangan karhutla dapat lebih efektif dan cepat, terutama pada periode puncak musim kemarau.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter