21, 2026
Nasional

Bukan Tanah Biasa, Begini Asal-usul Gambut di Indonesia

Lahan gambut berkaitan erat dengan persoalan karhutla di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Gambut terbentuk melalui proses alam selama ribuan tahun.]]>

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bukan Tanah Biasa, Begini Asal-usul Gambut di Indonesia

Gambut sering disebut sebagai tanah yang tidak biasa. Berbeda dari tanah mineral yang terbentuk dari pelapukan batuan, gambut lahir dari tumpukan sisa tumbuhan yang tidak pernah selesai membusuk. Prosesnya berlangsung ribuan tahun, hanya mungkin terjadi dalam kondisi jenuh air dan minim oksigen. Karena itu, hamparan gambut di Indonesia bukan sekadar bentang lahan basah, melainkan arsip ekologis yang menyimpan jejak perubahan iklim dan garis pantai sejak akhir zaman es terakhir.

Lahir dari Sisa Tumbuhan yang Tak Terurai

Pembentukan gambut bertumpu pada satu prinsip sederhana: bahan organik yang menumpuk lebih cepat daripada kecepatan penguraiannya. Daun, ranting, akar, dan batang yang jatuh ke lantai hutan basah segera terendam. Lapisan air menghambat pasokan oksigen, sehingga mikroba pengurai bekerja jauh lebih lambat. Dalam kondisi anaerob itu, sisa tumbuhan berubah menjadi bahan organik setengah terurai yang kita kenal sebagai gambut.

Karena prosesnya lambat, akumulasi gambut umumnya hanya berkisar sekitar satu milimeter per tahun. Artinya, lapisan gambut setebal satu meter membutuhkan waktu sekitar seribu tahun untuk terbentuk. Di beberapa lokasi di Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah, ketebalan gambut bahkan dapat melampaui sepuluh meter, yang berarti endapan tersebut mulai terbentuk sejak ribuan tahun silam.

Syarat yang Harus Terpenuhi

Ada beberapa prasyarat agar gambut dapat tumbuh. Pertama, lahan harus tergenang atau setidaknya jenuh air hampir sepanjang tahun. Kedua, produksi serasah dari vegetasi di atasnya harus melimpah. Ketiga, lingkungannya harus miskin oksigen dan, pada gambut ombrogen, miskin unsur hara. Kondisi seperti ini dijumpai di dataran rendah pesisir, cekungan antarbukit, dan rawa belakang mangrove yang drainasenya buruk.

Karena terbentuk di bawah pengaruh air hujan, gambut di Indonesia umumnya bersifat oligotrofik atau sangat miskin hara. Kandungan basa rendah, pH berkisar antara 3 dan 4,5, serta kapasitas tukar kation yang tinggi. Sifat ini menjelaskan mengapa vegetasi hutan gambut didominasi jenis-jenis yang tahan asam, seperti ramin, meranti rawa, jelutung, punak, pulai, dan perepat. Di Papua, kawasan gambut kerap berasosiasi dengan sagu.

Jejak Zaman Es dan Kenaikan Muka Air Laut

Sebagian besar gambut di Indonesia mulai terbentuk pada kala Holosen, sekitar 6.000 hingga 8.000 tahun lalu. Periode itu ditandai kenaikan muka air laut pasca-glasial yang membentuk dataran rendah luas di sepanjang pesisir Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Genangan yang terbentuk di belakang mangrove dan di cekungan pantai menjadi tempat ideal bagi akumulasi bahan organik.

Karena itu, sebaran gambut di Indonesia erat kaitannya dengan garis pantai purba. Tidak mengherankan bila banyak endapan gambut ditemukan tak jauh dari laut, meski saat ini posisinya bisa beberapa kilometer ke arah darat akibat proses pengendapan sedimen dan penurunan permukaan tanah. Kajian paleoekologi menunjukkan bahwa lapisan gambut menyimpan rekaman perubahan vegetasi dan iklim yang dapat dibaca seperti lapisan buku tahunan.

Sebaran dan Keragaman Gambut Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas gambut tropis terbesar di dunia. Berbagai sumber, termasuk kementerian dan lembaga penelitian, mencatat luas gambut nasional pada kisaran 13 hingga 15 juta hektare. Sebagian besar terkonsentrasi di tiga pulau besar.

Sumatera, Kalimantan, dan Papua

Sumatera menampung porsi terbesar, mencakup sekitar 5,8 hingga 6,4 juta hektare, dengan konsentrasi utama di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Aceh bagian timur. Kalimantan menyusul dengan sekitar 4,5 hingga 4,8 juta hektare, terutama di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Sementara Papua memiliki sekitar 3,7 hingga 4,4 juta hektare yang sebagian besar masih relatif utuh. Di luar ketiga pulau itu, gambut juga dijumpai dalam luasan kecil di Sulawesi dan Papua Barat.

Gambut Topogen dan Ombrogen

Secara hidrologis, gambut dibedakan menjadi dua. Gambut topogen terbentuk di cekungan yang masih menerima pasokan air tanah dan air permukaan, sehingga relatif lebih kaya hara. Gambut ombrogen tumbuh membentuk kubah yang hanya bergantung pada air hujan, sehingga sangat miskin hara dan bersifat asam. Kubah gambut inilah yang menjadi ciri khas lanskap gambut tropis Indonesia, dengan bagian tengah lebih tinggi dari tepiannya.

Struktur kubah itu berfungsi sebagai menara air alami. Gambut mampu menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar, lalu melepaskannya secara perlahan. Karena itu, kerusakan gambut tidak hanya berdampak pada hilangnya vegetasi, tetapi juga pada terganggunya tata air di sekitarnya.

Simpanan Karbon dan Tekanan Manusia

Karena tersusun dari bahan organik, gambut mengandung karbon dalam proporsi yang tinggi, umumnya lebih dari separuh bobot keringnya. Berbagai estimasi menempatkan simpanan karbon gambut Indonesia pada kisaran puluhan gigaton, menjadikannya salah satu cadangan karbon terestrial terbesar di dunia. Namun, simpanan itu rapuh. Begitu gambut dikeringkan melalui pembuatan kanal, oksigen masuk dan proses penguraian yang tertunda ribuan tahun kembali berjalan cepat.

Pengeringan membuat gambut mudah terbakar, terutama pada musim kemarau panjang. Kebakaran gambut tidak sekadar membakar vegetasi di permukaan, tetapi menghanguskan lapisan bawah tanah dan melepaskan karbon yang tersimpan lama. Peristiwa kebakaran besar pada 2015 dan tahun-tahun El Nino berikutnya menjadi pengingat bahwa gangguan pada gambut berskala lintas generasi.

Sejak 2016, pemerintah menjalankan program restorasi gambut melalui pendekatan tiga langkah: pembasahan kembali lahan, revegetasi, dan revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Pembangunan sekat kanal, penanaman kembali jenis lokal, dan pengaturan tata kelola lahan menjadi bagian dari upaya itu. Berbagai lembaga penelitian dan organisasi masyarakat sipil turut melakukan pemantauan kedalaman muka air serta pendampingan masyarakat di kawasan gambut.

Memahami Asal-usul untuk Menentukan Masa Depan

Memahami asal-usul gambut menjelaskan mengapa lahan ini tidak bisa diperlakukan seperti tanah mineral biasa. Gambut adalah bentukan yang membutuhkan ribuan tahun, tetapi dapat rusak dalam hitungan bulan. Kesadaran itu menjadi dasar bagi kebijakan perlindungan kawasan gambut, pengaturan budidaya di atasnya, serta pengakuan atas kearifan lokal masyarakat yang telah lama hidup selaras dengan irama air rawa.

Bagi Indonesia, gambut bukan sekadar bentang lahan. Ia adalah warisan ekologis yang menautkan sejarah iklim purba dengan kebutuhan masa kini akan air, pangan, dan iklim yang stabil. Menjaga gambut berarti menjaga proses alam yang berlangsung jauh lebih lambat daripada perencanaan pembangunan manusia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter