Bukannya Makin Beres, Tottenham Malah Kian Terbenam
Performa Tottenham Hotspur musim ini menunjukkan kejatuhan yang drastis. Setelah sempat menunjukkan peningkatan di bawah arahan pelatih interim Cristian Stellini, klub kini semakin terbenam dalam kesulitan. Hasil buruk yang terus berulang menunjukkan bahwa masalah di dalam skuad jauh lebih kompleks daripada sekadar pelatih yang perlu diganti.
Krisis Hasil yang Tak Kunjung Berakhir
Tottenham menutup pekan kedua belas Liga Inggris dengan kekalahan telak 1-4 dari Leicester City. Kekalahan ini menjadi yang keenam dalam tujuh pertandingan terakhir di semua kompetisi. Dari tujuh laga terakhir, The Lilywhites hanya mampu meraih satu kemenangan, satu imbang, dan lima kekalahan. Performa yang menurun drastis ini membuat posisi mereka di klasemen sementara semakin terancam.
Sementara di Liga Champions, nasib mereka juga tidak lebih baik. Setelah sempat menang tipis di kandang menghadapi Marseille, kini mereka menghadapi risiko tersingkir dari babak penyisihan grup. Dalam dua pertandingan terakhir di kompetisi kasta tertinggi Eropa, mereka gagal meraih poin setelah kalah dari Sporting Lisbon dan imbang dengan Eintracht Frankfurt.
Problema di Lini Pertahanan
Salah satu masalah utama yang menghantui Tottenham musim ini adalah performa buruk lini pertahanan. Dalam 15 pertandingan di semua kompetisi, skuad asal London Utara ini sudah kebobolan 29 gol. Rata-rata kebobolan mencapai hampir dua gol per laga, angka yang sangat buruk untuk sebuah tim yang seharusnya bersaing di papan atas.
Cristian Romero dan Davinson Sanchez yang menjadi andalan di bek tengah kini menunjukkan performa yang tidak konsisten. Kesalahan individu yang sering dilakukan keduanya menjadi celah bagi lawan untuk mencetak gol. Sementara itu, posisi bek sayap seperti Emerson Royal dan Matt Dohney juga sering kali kewalahan menghadapi serangan lawan.
Kekosongan di Lini Tengah
Lini tengah Tottenham juga menunjukkan kekosongan yang signifikan. Pierre-Emile Hojbjerg yang menjadi kapten tim kini tampil melelahkan dan sering kali kesulit mengontrol tempo permainan. Sementara itu, Rodrigo Bentancur yang baru pulih dari cedera masih butuh waktu untuk kembali menemukan performa terbaiknya.
Kepergian Tanguy Ndombele dan Harry Winks di bursa transfer musim panas ternyata meninggalkan kekosongan yang tidak mudah diisi. Meski Oliver Skipp dan Yves Bissouma tampil menjanjikan di beberapa laga, namun konsistensi masih menjadi masalah besar bagi kedua gelandang ini.
Problem di Lini Serang
Di lini serang, Harry Kane masih menjadi satu-satnya pemain yang andal. Meski telah mencetak 12 gol di semua kompetisi, kini ia mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Beban menjadi satu-satnya penyerang andalan membuat Kane kesulitan untuk memberikan kontribusi maksimal di setiap laga.
Sementara itu, Heung-min Son yang biasanya menjadi mitra Kane di lini depan juga mengalami penurunan performa. Ia hanya mampu mencetak 4 gol di 15 penampilan di semua kompetisi. Kekurangan striker penyelesa di luar Kane dan Son menjadi masalah serius bagi tim yang sedang mengalami krisis.
Masa Depan yang Menuju Teka-teki
Dengan performa yang terus menurun, masa depan pelatih interim Cristian Stellini semakin dipertanyakan. Meski sebelumnya sempat menunjukkan peningkatan setelah menggantikan Antonio Conte, namun kini ia kembali gagal menunjukkan kemampuannya untuk membangkitkan tim.
Spekulasi soal pengangkatan pelatih kepala baru semakin menguat. Nama-nama seperti Mauricio Pochettino, Luis Enrique, dan even Graham Potter disebut-sebut sebagai kandidat potensial untuk mengisi posisi yang kosong tersebut. Namun, apakah klub akan segera mengambil keputusan atau menunggu hingga akhir musim masih menjadi pertanyaan besar.
Untuk Tottenham, keadaan saat ini semakin krusial. Dengan tekanan dari pihar manajemen dan fans, skuad ini butuh segera bangkit agar tidak semakin terbenam dalam kesulitan. Namun, dengan segala masalah yang ada, jalan menuju perbaikan pasti tidak akan mudah bagi The Lilywhites.
Komentar (0)