Tokoh Persija Jakarta, Ferry Paulus, menyarankan kelompok suporter The Jakmania tidak mengajukan banding atas sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Menurutnya, langkah mengajukan banding justru berpotensi memperpanjang persoalan dan mengalihkan perhatian dari pembenahan internal yang jauh lebih penting.
Pernyataan tersebut muncul di tengah pembahasan mengenai sanksi yang diterima Persija Jakarta maupun The Jakmania akibat sejumlah insiden dalam pertandingan. Keputusan Komdis PSSI biasanya mencakup hukuman denda, larangan kehadiran penonton di stadion, hingga sanksi administratif lain bagi klub. Ferry menilai keputusan itu sebaiknya diterima dengan sikap lapang dada.
Alasan Menolak Langkah Banding
Ferry mengemukakan sejumlah pertimbangan mengapa banding dinilai tidak strategis. Pertama, proses banding membutuhkan waktu dan energi yang besar, sementara hasilnya belum tentu mengubah keputusan. Kedua, selama proses banding berjalan, isu sanksi akan terus menjadi sorotan dan berisiko memecah konsentrasi tim di tengah kompetisi.
"Kalau memang keputusannya sudah keluar, lebih baik diterima. Energi kita akan lebih berguna kalau dipakai untuk memperbaiki diri," ujar Ferry dalam pembahasan mengenai sanksi tersebut.
Ia menegaskan bahwa sikap menerima keputusan bukan berarti menyerah atau mengabaikan hak klub. Menurutnya, klub tetap dapat menempuh jalur komunikasi dengan PSSI untuk menyampaikan pandangan, tanpa harus melalui mekanisme banding yang cenderung konfrontatif.
Ferry juga mengingatkan bahwa hubungan antara klub, suporter, dan federasi perlu dijaga dalam jangka panjang. Konfrontasi terbuka, katanya, tidak selalu menghasilkan solusi terbaik bagi perkembangan sepak bola nasional.
Dampak Sanksi bagi Klub dan Suporter
Sanksi Komdis PSSI umumnya berdampak langsung pada dua pihak. Bagi klub, hukuman denda membebani keuangan, sedangkan larangan kehadiran penonton mengurangi pemasukan dari tiket dan menurunkan atmosfer pertandingan. Bagi suporter, larangan masuk stadion berarti mereka kehilangan kesempatan mendukung tim secara langsung.
Ferry memahami kekecewaan yang muncul di kalangan The Jakmania. Namun ia mengingatkan bahwa kekecewaan sebaiknya disalurkan melalui evaluasi bersama, bukan melalui perlawanan terhadap keputusan yang sudah bersifat mengikat.
Menurutnya, suporter memiliki posisi strategis untuk membantu klub keluar dari persoalan. Dukungan yang tertib dan tertata, katanya, akan memperkuat posisi tawar klub ketika berhadapan dengan regulator.
Pentingnya Pembenahan Internal Suporter
Ferry menekankan pentingnya pembenahan di tubuh suporter sebagai langkah pencegahan. Ia menilai The Jakmania perlu memperkuat koordinasi antarkorwil, menertibkan atribut terlarang, serta meningkatkan pemahaman anggotanya terhadap regulasi pertandingan.
"Suporter besar itu bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal kedisiplinan. Kalau itu terbangun, citra kita akan ikut membaik," tuturnya.
Ia juga menyoroti perlunya dialog rutin antara pengurus suporter dan manajemen klub. Forum semacam itu, menurutnya, bisa menjadi saluran penyampaian aspirasi sekaligus tempat sosialisasi aturan sebelum pertandingan digelar.
Selain itu, Ferry mendorong adanya pendampingan bagi kelompok suporter muda agar mereka memahami konsekuensi dari setiap tindakan di dalam maupun di luar stadion. Pendidikan suporter dinilai sama pentingnya dengan pembinaan pemain.
Respons dan Sikap yang Diharapkan
Saran Ferry mendapat beragam tanggapan di kalangan pendukung Persija. Sebagian menilai imbauan itu realistis dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Sebagian lain berpendapat klub tetap perlu memperjuangkan haknya jika sanksi dinilai tidak proporsional.
Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, Ferry berharap seluruh pihak menahan diri dan menghindari pernyataan yang memperkeruh suasana. Ia mengajak suporter menunjukkan kedewasaan dalam bersikap.
Menurutnya, fokus utama saat ini adalah memastikan tim tetap kompetitif di lapangan. Dukungan yang tertib, katanya, akan menjadi pesan kuat bahwa Persija dan The Jakmania mampu menjadi contoh bagi sepak bola Indonesia.
Langkah ke Depan
Ferry mendorong manajemen klub menyusun langkah konkret pascasanksi. Langkah itu antara lain sosialisasi regulasi kepada suporter, penguatan pengawasan di pintu masuk stadion, serta koordinasi dengan aparat keamanan dan panitia pelaksana pertandingan.
Ia juga menyarankan evaluasi berkala terhadap prosedur pengamanan, termasuk pemeriksaan atribut dan barang bawaan penonton. Dengan begitu, insiden serupa diharapkan tidak terulang.
Bagi Ferry, keputusan Komdis PSSI sebaiknya dijadikan momentum introspeksi bersama. Ia menilai sepak bola nasional hanya akan maju jika klub, suporter, dan federasi bekerja dalam satu arah, bukan saling berhadapan.
"Terima, evaluasi, lalu perbaiki. Itu jalan yang paling sehat," pungkasnya.
Komentar (0)