13, 2026
Nasional

Buntut Insiden Terhadap Tim Persib U-18, Zaenal Arif Minta Jadwal EPA Ditunda

Budi Gunawan
Budi Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Buntut Insiden Terhadap Tim Persib U-18, Zaenal Arif Minta Jadwal EPA Ditunda

Insiden yang dialami tim Persib U-18 saat bertandang ke markas PSIS Semarang masih memberikan dampak serius. Manajer Persib, Zaenal Arif, secara resmi meminta jadwal kompetisi Elite Pro Academy (EPA) ditunda. Permintaan ini datang setelah sejumlah pemainnya mengalami cidera serius dan trauma psikis akibat konfrontasi dengan suporter tuan rumah pada pertandingan pekan lalu.

Insiden terjadi saat laga persahabatan antara PSIS Semarang U-18 melawan Persib U-18 berlangsung di Stadion Moch. Soerjopranoto, Semarang, Sabtu (15/7) lalu. Pertandingan yang seharusnya berlangsung sportivis berujung pada kerumunan dan konfrontasi fisik di tribun setelah wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama. Sejumlah pemain Persib U-18 menjadi sasaran lemparan barang dari suporter tuan rumah yang tidak terkontrol.

Zaenal Arif dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Bobotoh, Bandung, Senin (17/7) mengungkapkan kondisi para pemainnya yang masih dalam perawatan medis. "Dari enam pemain yang mengalami cidera, tiga di antaranya masih dirawat intensif di rumah sakit. Dua pemain lainnya mengalami patah tulang dan membutuhkan waktu pemulihan minimal enam minggu," ujarnya serius.

Manajer senior Persib ini menambahkan bahwa insiden tersebut juga meninggalkan trauma psikis bagi para pemain muda. "Para pemain masih trauma. Beberapa dari mereka sulit tidur dan menunjukkan gejakan kecemasan. Ini dampak psikis yang tidak bisa dianggap remeh," jelas Zaenal.

Kronologi Insiden yang Menimpa Tim Persib U-18

Konflik bermula saat wasit, Yudi Prasetyo, meniup peluit tanda akhir babak pertama dengan skor 1-1 untuk keunggulan PSIS Semarang U-18. Beberapa pemain Persib U-18 yang merasa keputusan wasit dinilai tidak adil mendekati wasit untuk mengajukan protes.

Situasi memanas ketika seorang pemain Persib U-18 diduga menendang bola secara sengaja ke arah suporter. Hal ini memicu kemarahan para pendukung PSIS yang mulai melempar berbagai benda ke arah lapangan. Pihak keamanan stadion kesulitan mengendalikan situasi yang kian kacau.

Ketua tim pelatih Persib U-18, Eri Irianto, mengaku sempat panik melihat situasi yang tak terkendali. "Saya mencoba menenangkan para pemain dan meminta mereka segera masuk ke ruang ganti. Suporter sudah masuk ke lapangan, situasi sangat berbahaya," ujarnya.

Para pemain Persib U-18 berhasil dievakuasi ke ruang ganti dengan bantuan petugas keamanan dan polisi. Namun, kerusuhan masih berlanjut di tribun hingga akhirnya pihak kepolisian harus mengambil langkah tegas dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Permintaan Penundaan Jadwal EPA dan Langkah Selanjutnya

Berdasarkan kondisi tersebut, Zaenal Arif mengajukan permintaan resmi kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk menunda seluruh jadwal tim Persib U-18 dalam kompetisi EPA minimal selama satu bulan. "Kita perlu waktu untuk pemulihan fisik dan mental para pemain. Melanjutkan kompetisi dalam kondisi seperti ini tidak manusiawi," tegasnya.

Permintaan penundaan ini didukung penuh oleh manajemen Persib Bandung. Direktur Utama Persib, Umuh Muchtar, mengatakan klub akan menanggung semua biaya pengobatan dan rehabilitasi para pemain. "Kesehatan para pemain adalah prioritas utama kami. Kami juga akan menyediakan psikolog untuk membantu mereka mengatasi trauma," jelas Umuh.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Klub Sepakbola Indonesia (ASI), Dali Tahir, menyatakan akan membentuk tim khusus untuk menyelidiki insiden tersebut. "Kami akan mengumpulkan bukti dan keterangan dari semua pihak terkait. Tindakan yang tidak sportif tidak akan kami toleransi," ujar Dali.

PSIS Semarang sebagai tim tuan rumah juga telah meminta maaf secara resmi atas insiden tersebut. Manajer PSIS, Rudi Irawan, mengaku akan memberikan sanksi tegas kepada suporter yang terlibat kerusuhan. "Kami akan memblokir identitas mereka dan melarang mereka menonton pertandingan selama satu musim ke depan," kata Rudi.

Insiden ini kembali menyoroti masalah keamanan di stadion sepak bola Indonesia. Berbagai pihak menyoroti perlunya perbaikan sistem keamanan dan edukasi bagi suporter agar tetap menjalankan dukungannya secara sportif. Selain itu, kejadian ini juga mempertanyakan kesiapan panitia penyelenggara dalam mengantisipasi konflik yang bisa timbul saat pertandingan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Gunawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter