30, 2026
Teknologi

Cegah Penyelundupan, Prabowo Minta Bea Cukai Perketat Perbatasan dan Pesisir

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan memperketat pengawasan di kawasan perbatasan dan pesisir guna mencegah praktik penyelundupan yang merugikan negara. Instruksi tersebut disampaikan dalam rapat terbatas yang membahas kinerja penerimaan negara dan penguatan pengawasan kepabeanan. Kepala Negara menilai celah penyelundupan masih terbuka lebar, terutama melalui jalur-jalur tidak resmi yang sulit dijangkau aparat.

Perbatasan dan Pesisir Jadi Titik Rawan

Wilayah perbatasan darat dan garis pantai yang membentang panjang di Indonesia menjadi perhatian utama pemerintah. Berbagai modus penyelundupan dilaporkan memanfaatkan jalur tikus di perbatasan serta pelabuhan rakyat dan muara sungai di kawasan pesisir. Barang yang diselundupkan beragam, mulai dari tekstil, produk elektronik, rokok ilegal, minuman beralkohol, hingga narkotika dan barang berbahaya lainnya.

Menurut data yang dihimpun dari berbagai operasi penindakan, penyelundupan melalui jalur laut masih mendominasi karena luasnya perairan Indonesia dan banyaknya titik yang belum terpantau secara optimal. Kapal-kapal kecil dengan kapasitas terbatas kerap digunakan untuk mengelabui petugas, terutama pada malam hari dan saat cuaca buruk. Sementara itu, di jalur darat, penyelundupan sering dilakukan dengan memanfaatkan jalan-jalan alternatif di kawasan perbatasan.

Instruksi Presiden kepada Bea Cukai

Presiden Prabowo menegaskan bahwa penguatan pengawasan di perbatasan dan pesisir bukan sekadar persoalan penerimaan negara, melainkan juga menyangkut kedaulatan dan keamanan nasional. Ia meminta Bea Cukai meningkatkan koordinasi dengan TNI, Polri, Bakamla, serta pemerintah daerah untuk menutup celah penyelundupan.

Beberapa poin yang ditekankan dalam instruksi tersebut antara lain optimalisasi patroli di wilayah rawan, pemanfaatan teknologi pemantauan seperti radar dan sistem pengawasan berbasis digital, penguatan intelijen kepabeanan, serta penindakan tegas terhadap jaringan penyelundup. Presiden juga meminta evaluasi berkala atas kinerja pengawasan agar perbaikan dapat dilakukan secara cepat.

Selain itu, Kepala Negara menekankan pentingnya integritas aparat. Ia mengingatkan bahwa penyelundupan tidak mungkin berjalan besar tanpa keterlibatan oknum internal. Karena itu, penguatan pengawasan internal dan penindakan terhadap pegawai yang bermain mata dengan jaringan penyelundup menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pencegahan.

Dampak Penyelundupan bagi Perekonomian

Praktik penyelundupan berdampak langsung pada penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai. Setiap kontainer atau pengiriman barang ilegal yang lolos berarti potensi pendapatan negara hilang, sekaligus menciptakan persaingan tidak sehat bagi industri dalam negeri yang mematuhi aturan.

Pelaku usaha dalam negeri, khususnya sektor tekstil, alas kaki, elektronik, dan industri padat karya lainnya, kerap mengeluhkan banjir produk impor ilegal yang dijual dengan harga jauh lebih murah. Kondisi ini berpotensi menekan produksi, memicu pemutusan hubungan kerja, dan melemahkan daya saing industri nasional.

Di sisi lain, peredaran rokok ilegal tanpa pita cukai juga menjadi persoalan serius. Selain merugikan negara dari sisi penerimaan cukai, rokok ilegal dijual tanpa kendali sehingga berisiko bagi kesehatan masyarakat dan merugikan produsen yang taat aturan. Pemerintah menargetkan penurunan peredaran barang kena cukai ilegal melalui penguatan pengawasan di jalur distribusi dan penjualan.

Langkah Tindak Lanjut

Menindaklanjuti arahan Presiden, Bea Cukai menyiapkan sejumlah langkah strategis. Penguatan armada patroli laut, penambahan personel di kantor pelayanan rawan, serta peningkatan kapasitas analisis data menjadi prioritas. Sistem analisis risiko juga akan dimanfaatkan untuk memetakan pola pengiriman mencurigakan dan mengidentifikasi jaringan yang berulang kali terlibat.

Kerja sama lintas lembaga akan diperkuat, termasuk pertukaran data dan informasi dengan aparat penegak hukum lainnya. Selain itu, pendekatan berbasis komunitas di kawasan pesisir dan perbatasan dinilai penting, misalnya dengan melibatkan nelayan, pedagang, dan tokoh lokal sebagai mitra dalam melaporkan aktivitas mencurigakan.

Pemerintah juga menekankan pentingnya sinergi dengan negara tetangga melalui kerja sama kepabeanan dan penegakan hukum lintas batas. Penyelundupan sering melibatkan jaringan internasional yang bergerak di beberapa yurisdiksi, sehingga koordinasi regional menjadi kunci untuk memutus rantai pasokan barang ilegal.

Harapan dan Tantangan ke Depan

Penguatan pengawasan di perbatasan dan pesisir menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan. Indonesia memiliki ribuan pulau dan garis pantai terpanjang di dunia, sehingga tidak semua titik dapat dijaga secara permanen. Karena itu, strategi pengawasan berbasis risiko dan teknologi menjadi pilihan rasional untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas.

Selain tantangan geografis, modus penyelundupan terus berkembang. Pelaku kerap mengubah rute, metode, dan dokumen untuk mengelabui petugas. Kesiapan aparat dalam menghadapi dinamika tersebut menjadi penentu keberhasilan kebijakan ini.

Dengan arahan langsung Presiden, Bea Cukai diharapkan mampu meningkatkan kinerja pengawasan sekaligus menjaga iklim usaha yang sehat. Keberhasilan upaya ini tidak hanya diukur dari besarnya barang ilegal yang diamankan atau nilai penerimaan negara yang meningkat, tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah dalam melindungi perekonomian nasional dan kedaulatan negara.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter