12, 2026
Nasional

Cerita Bahlil, dari Jualan Kue Cucur hingga Alami Busung Lapar

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dikenal sebagai salah satu pejabat publik dengan latar belakang kehidupan yang keras. Pria kelahiran Banda, Maluku Tengah, 7 Agustus 1976, itu tidak menempuh jalan mudah sebelum menempati posisi strategis di pemerintahan. Kisah masa kecilnya menjadi salah satu narasi yang kerap ia bagikan dalam berbagai forum, termasuk ketika menghadiri acara bersama kalangan pengusaha dan mahasiswa.

Masa Kecil di Banda dan Dagang Kue Cucur

Bahlil tumbuh di lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai penjual kue cucur, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Kondisi ekonomi yang terbatas memaksa Bahlil kecil terlibat langsung dalam usaha keluarga. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah membantu sang ayah berkeliling menjajakan kue cucur. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya tentang kerja keras, disiplin, dan pentingnya kemandirian ekonomi.

Dalam sejumlah kesempatan, Bahlil mengisahkan bahwa penghasilan dari berjualan kue cucur sangat kecil. Uang hasil penjualan dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya sekolah. Meski demikian, ia menilai masa-masa itu sebagai fondasi karakter yang membuatnya tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan di kemudian hari.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Bahlil merantau ke Jayapura, Papua. Di kota itu ia melanjutkan studi dan mulai merintis usaha kecil-kecilan. Ia sempat menjadi sopir angkutan umum, berdagang, hingga bekerja di sektor informal lainnya. Perjalanan hidupnya dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain menjadi bagian dari narasi perjuangan yang sering ia sampaikan kepada generasi muda.

Pengalaman Busung Lapar di Masa Perantauan

Salah satu episod yang paling banyak dikutip dari perjalanan hidup Bahlil adalah ketika ia mengalami kondisi yang ia sebut sebagai busung lapar. Dalam beberapa wawancara, ia menceritakan pernah berada dalam situasi kekurangan pangan yang ekstrem selama masa perantauan. Kondisi itu terjadi ketika penghasilan tidak cukup untuk membeli makanan bergizi, sementara tuntutan hidup di kota perantauan terus berjalan.

Busung lapar, atau dalam istilah medis dikenal sebagai kwashiorkor, merupakan kondisi akibat kekurangan protein berat dan berkepanjangan. Gejalanya antara lain pembengkakan pada perut, kaki, dan wajah akibat penumpukan cairan, disertai kelemahan fisik dan penurunan daya tahan tubuh. Kondisi ini umumnya menyerang anak-anak, tetapi dapat pula dialami orang dewasa yang mengalami kekurangan gizi dalam waktu lama.

Bahlil menyebut pengalaman tersebut sebagai titik balik. Kondisi fisik yang lemah tidak membuatnya berhenti bekerja. Ia justru menjadikan pengalaman itu sebagai motivasi untuk keluar dari kemiskinan. Menurutnya, kesulitan yang dialami di masa muda menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya ketahanan diri dan kemampuan beradaptasi.

Dari Pengusaha ke Panggung Politik

Seiring waktu, Bahlil berhasil membangun karier di dunia usaha. Ia menekuni sektor pertambangan, energi, dan perdagangan. Jejaring bisnisnya berkembang, terutama setelah terlibat dalam berbagai proyek di kawasan timur Indonesia. Latar belakang sebagai pengusaha kemudian membawanya masuk ke lingkaran pemerintahan.

Pada 2019, Bahlil dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Dalam periode itu, ia mengurus kebijakan investasi nasional, termasuk upaya menarik modal asing dan mempercepat perizinan berusaha. Pada 2024, ia dilantik sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, lalu ditunjuk kembali untuk mengemban tugas di Kementerian Investasi dan Hilirisasi.

Selain posisi eksekutif, Bahlil juga menakhodai Partai Golkar setelah terpilih secara aklamasi dalam musyawarah nasional. Posisi itu menempatkannya sebagai salah satu tokoh politik berpengaruh di Indonesia. Perjalanan dari pedagang kue cucur hingga memimpin partai besar menjadi salah satu cerita yang banyak dibahas di ruang publik.

Respons Publik dan Relevansi Kisah Perjuangan

Kisah hidup Bahlil memicu beragam tanggapan. Sebagian kalangan menilai narasi tersebut relevan sebagai contoh mobilitas sosial di Indonesia, terutama bagi masyarakat yang tumbuh dalam keterbatasan. Kisah semacam ini dianggap menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai posisi tinggi.

Namun, sebagian pengamat juga mengingatkan bahwa keberhasilan individu tidak bisa dilepaskan dari faktor struktural, seperti akses pendidikan, jaringan sosial, dan peluang ekonomi yang tidak selalu tersedia secara merata. Mereka menilai kisah perjuangan personal tetap penting, tetapi tidak menggantikan kebutuhan kebijakan yang lebih luas untuk mengatasi kemiskinan dan kekurangan gizi.

Terlepas dari perdebatan tersebut, pengalaman masa kecil dan masa perantauan Bahlil menjadi bagian dari rekam jejak yang ia bawa ke panggung kebijakan. Isu kemiskinan, gizi, dan pemberdayaan ekonomi menjadi beberapa tema yang kerap muncul dalam pidato-pidatonya. Bagaimana narasi perjuangan itu diterjemahkan menjadi kebijakan nyata bagi masyarakat luas masih menjadi pertanyaan yang terus diuji publik.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter