Sejumlah nelayan di kawasan Merak, Cilegon, Banten, ikut turun tangan membantu evakuasi penumpang dan awak KMP Batumandi yang terbakar di perairan Selat Sunda. Perahu-perahu nelayan yang biasa melintas di sekitar pelabuhan penyeberangan itu menjadi salah satu sarana paling cepat untuk mendekati kapal dan memindahkan orang-orang ke tempat yang lebih aman.
Keterlibatan nelayan setempat mencuat karena posisi kapal yang terbakar berada di area yang relatif dekat dengan permukiman pesisir dan jalur aktivitas perahu rakyat. Sebelum tim gabungan dari instansi pelabuhan dan badan penanggulangan bencana bergerak lengkap, sejumlah perahu nelayan sudah lebih dulu mendekat untuk memberikan pertolongan. Mereka mengangkut penumpang secara bertahap dan mengarahkan mereka ke titik pendaratan yang dinilai aman.
Api Muncul saat Kapal Berada di Perairan Merak
KMP Batumandi merupakan kapal penyeberangan yang melayani lintasan Merak–Bakauheni. Kebakaran dilaporkan muncul ketika kapal berada di perairan Merak, sehingga asap tebal terlihat dari kawasan pesisir. Kepulan asap yang membumbung tinggi membuat warga di sekitar pelabuhan dan pesisir Kelurahan Mekarsari serta beberapa kampung nelayan berdatangan ke tepi pantai untuk memantau situasi.
Api yang menjalar di bagian kapal memicu kepanikan di atas dek. Penumpang berupaya menyelamatkan diri, sebagian mengenakan pelampung, sebagian lain berdesakan menuju titik kumpul yang ditentukan awak kapal. Dalam kondisi seperti itu, kecepatan pertolongan menjadi faktor utama, terutama karena kapal mengangkut penumpang dalam jumlah cukup banyak, termasuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Nelayan Bergerak Sebelum Tim Gabungan Tiba
Para nelayan yang sehari-hari mencari ikan di sekitar Selat Sunda mengaku bergerak spontan. Sejumlah perahu kecil dan perahu motor dibawa mendekat ke lambung kapal untuk menerima penumpang yang dievakuasi. Tidak sedikit di antara mereka yang mengarahkan penumpang ke dermaga terdekat, kemudian kembali lagi ke lokasi untuk menjemput kelompok berikutnya.
Peran perahu rakyat dinilai penting karena kapal penolong berukuran besar membutuhkan ruang manuver dan waktu untuk mendekat. Perahu nelayan yang lebih kecil dan lincah bisa menyelip di antara kapal dan titik pendaratan, sehingga proses pemindahan orang berlangsung lebih cepat. Selain mengangkut penumpang, sebagian nelayan juga membantu mengevakuasi barang bawaan dan mengarahkan korban yang membutuhkan pertolongan medis ke pos kesehatan darurat.
Sejumlah penumpang yang selamat mengaku melihat langsung bagaimana nelayan berdatangan tanpa diminta. Mereka menyebut pertolongan pertama justru datang dari perahu-perahu rakyat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian. Meski arus dan kondisi perairan cukup menantang, para nelayan tetap melanjutkan proses evakuasi hingga tim gabungan mengambil alih penanganan.
Evakuasi dan Penanganan Korban
Setelah tim gabungan tiba, proses evakuasi berjalan lebih terkoordinasi. Petugas melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada penumpang yang tertinggal di atas kapal. Penumpang yang berhasil diselamatkan dikumpulkan di titik penampungan sementara untuk didata, diperiksa kesehatannya, dan selanjutnya diarahkan ke tujuan masing-masing.
Petugas medis mendirikan pos pertolongan di sekitar area pelabuhan untuk menangani penumpang yang mengalami luka ringan, sesak napas akibat menghirup asap, maupun yang menderita syok. Beberapa korban dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Sementara itu, proses pemadaman dilakukan dengan mengerahkan armada pemadam dan kapal pemadam kebakaran pelabuhan yang menyemprotkan air ke titik-titik api.
Hingga proses penanganan berlangsung, petugas belum dapat memastikan penyebab kebakaran. Pendataan penumpang dan awak masih terus dilakukan, termasuk untuk memastikan jumlah orang yang berada di atas kapal sesuai dengan manifes. Penyebab insiden akan diselidiki lebih lanjut oleh pihak berwenang, termasuk kemungkinan gangguan pada mesin atau instalasi kelistrikan kapal.
Jalur Penyeberangan Merak–Bakauheni Tetap Beroperasi
Meski insiden terjadi, aktivitas penyeberangan di lintasan Merak–Bakauheni dilaporkan tetap berjalan. Pengelola pelabuhan mengatur ulang jadwal keberangkatan dan menempatkan penumpang serta kendaraan yang semula dijadwalkan menggunakan KMP Batumandi ke kapal lain. Antrean kendaraan di area pelabuhan sempat menumpuk, tetapi secara bertahap mulai terurai seiring penambahan kapal pengganti.
Pengelola pelabuhan mengimbau pengguna jasa penyeberangan untuk memantau informasi resmi terkait jadwal keberangkatan agar tidak tertahan terlalu lama di area pelabuhan. Mereka juga meminta penumpang tetap mengikuti arahan petugas selama berada di dermaga.
Kesiapsiagaan di Selat Sunda Jadi Sorotan
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan keselamatan pelayaran di lintasan tersibuk di Indonesia. Selain perlengkapan keselamatan di atas kapal, kecepatan respons pihak-pihak terdekat, termasuk nelayan dan warga pesisir, menjadi bagian dari sistem pertolongan yang kerap menentukan hasil akhir sebuah kecelakaan laut.
Keberadaan komunitas nelayan di sekitar pelabuhan dinilai layak diperkuat melalui pelatihan evakuasi dan penyediaan peralatan keselamatan sederhana. Dengan begitu, peran mereka tidak hanya bergantung pada spontanitas saat kejadian, tetapi menjadi bagian dari jejaring pertolongan yang terlatih dan terkoordinasi. Bagi para penumpang yang diselamatkan, kesigapan nelayan Merak pada insiden KMP Batumandi menjadi bukti bahwa solidaritas warga pesisir masih menjadi pertahanan pertama ketika keadaan darurat terjadi di perairan.
Komentar (0)