22, 2026
Nasional

Pemprov DKI Gelar Simulasi Gempa Serentak, Ini Tujuannya

Eka Kusuma
Eka Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar simulasi gempa bumi secara serentak di sejumlah wilayah administratif. Kegiatan ini melibatkan jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama dinas terkait, unsur kewilayahan, serta warga di tingkat kelurahan dan RW. Simulasi dirancang untuk menguji kesiapan aparat dan masyarakat dalam menghadapi guncangan gempa yang bisa terjadi kapan saja, termasuk pada jam kerja dan jam sekolah ketika banyak orang berada di dalam bangunan.

Jakarta bukan wilayah yang selama ini identik dengan gempa bumi besar, tetapi sejumlah kajian kebencanaan menempatkan ibu kota sebagai kawasan yang memiliki risiko cukup nyata. Getaran dari sesar aktif di sekitar Jawa Barat, seperti Sesar Baribis dan Sesar Lembang, serta potensi gempa megathrust di selatan Jawa, dapat merambat hingga Jakarta. Kondisi tanah lunak di sebagian wilayah, terutama di kawasan pesisir utara, berpotensi memperkuat efek guncangan. Faktor itu yang membuat pemerintah daerah memandang simulasi sebagai bagian dari langkah pengurangan risiko bencana, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Tujuan utama simulasi

Kepala pelaksana penanggulangan bencana tingkat provinsi menegaskan bahwa simulasi bertujuan membangun budaya siaga di tengah masyarakat. Menurutnya, kesiapsiagaan tidak bisa dibentuk hanya melalui penyuluhan, tetapi harus dilatih melalui praktik langsung agar warga mengetahui apa yang harus dilakukan saat guncangan terjadi. Simulasi juga menjadi sarana mengukur seberapa cepat sistem peringatan dini dan jalur komunikasi darurat bekerja ketika situasi darurat benar-benar terjadi.

Ada beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut. Pertama, menguji prosedur evakuasi di lingkungan permukiman padat, perkantoran, sekolah, dan fasilitas umum. Kedua, memastikan titik kumpul sementara berada di lokasi yang aman dan mudah dijangkau. Ketiga, mengukur waktu respons petugas lapangan, mulai dari penerimaan informasi hingga pengiriman bantuan dan penyisiran bangunan. Keempat, memetakan kendala yang muncul di lapangan, termasuk penyempitan jalur evakuasi akibat parkir liar, pedagang kaki lima, dan tumpukan material.

Menguji jalur evakuasi dan titik kumpul

Dalam skenario simulasi, warga diminta meninggalkan bangunan dengan tenang, tanpa berlari, dan mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan menuju titik kumpul. Petugas kelurahan bersama relawan memandu proses tersebut, sementara tim dari dinas terkait mencatat waktu tempuh dan jumlah peserta yang berhasil dievakuasi. Sejumlah lokasi yang dinilai rawan longsor, dekat pohon besar, atau berdekatan dengan baliho dan papan reklame menjadi perhatian khusus karena berpotensi menimbulkan korban saat guncangan terjadi.

Simulasi juga menyoroti pentingnya pemeriksaan struktur bangunan. Tim teknis mendata bangunan sekolah dan fasilitas publik yang memiliki kerentanan, misalnya konstruksi tanpa pengikat yang memadai, atap yang berat, atau elemen nonstruktural yang mudah jatuh seperti kaca, lampu, dan lemari arsip. Temuan tersebut menjadi dasar rekomendasi perbaikan bagi pengelola bangunan.

Koordinasi lintas sektor

Kegiatan ini melibatkan Dinas Kesehatan dengan simulasi pertolongan pertama dan evakuasi korban luka, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana dengan penyisiran bangunan serta penanganan kebakaran susulan akibat korsleting, Dinas Perhubungan dengan pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi, serta Satuan Polisi Pamong Praja dan aparat kepolisian dengan pengamanan dan pengaturan massa. Palang Merah Indonesia dan organisasi relawan turut serta dalam dapur umum dan layanan psikososial.

Menurut jajaran BPBD DKI Jakarta, koordinasi lintas sektor sering menjadi titik lemah dalam penanganan bencana. Simulasi dipakai untuk menguji perintah dan alur pelaporan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan saat keadaan darurat. Setiap instansi diberi peran yang jelas, termasuk siapa yang berwenang menyatakan status darurat dan siapa yang mengoordinasikan pengungsian.

Edukasi warga dan evaluasi

Selain pengujian teknis, simulasi berfungsi sebagai media edukasi bagi warga. Peserta mendapat penjelasan mengenai langkah menyelamatkan diri, seperti berlindung di bawah meja saat guncangan, menjauhi kaca dan benda yang berpotensi jatuh, serta tidak menggunakan lift ketika terjadi gempa di gedung bertingkat. Warga juga diajari mengenali tanda-tanda bahaya dan cara berkomunikasi dengan keluarga agar tidak terpisah saat evakuasi.

Pemerintah provinsi menyatakan hasil simulasi akan dievaluasi dan dijadikan bahan penyusunan rencana kontingensi yang lebih rinci. Rekomendasi dari kegiatan ini diharapkan masuk ke dalam dokumen perencanaan pembangunan, mulai dari penataan ruang terbuka sebagai titik kumpul hingga perbaikan jalur evakuasi di permukiman padat. Simulasi serupa direncanakan berlanjut di wilayah lain dengan skenario berbeda, termasuk gempa pada malam hari dan gempa yang diikuti kebakaran.

Bagi warga, simulasi menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak berhenti pada satu kegiatan. Peralatan darurat sederhana, pencatatan kontak penting, dan pengetahuan mengenai lokasi titik kumpul terdekat dinilai sama pentingnya dengan kesiapan aparat. Dengan latihan yang berulang, diharapkan dampak korban dan kerusakan dapat ditekan jika gempa benar-benar terjadi di Jakarta.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eka Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter