China Perluas Tutupan Hutan dalam Skala yang Mengubah Peta Lingkungan Global
China tercatat sebagai negara dengan laju penambahan tutupan hutan terbesar di dunia selama dua dekade terakhir. Data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan luas hutan China bertambah rata-rata lebih dari dua juta hektare setiap tahun sejak awal 2000-an. Angka itu menempatkan China jauh di atas negara lain dalam hal volume penghijauan tahunan.
Penambahan tersebut bukan hasil proses alam semata. Sebagian besar berasal dari program penanaman massal yang dijalankan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, melibatkan jutaan tenaga kerja, serta didukung anggaran fiskal dan kewajiban hukum bagi warga untuk menanam pohon. Kebijakan ini menjadikan penghijauan sebagai bagian dari tata kelola negara, bukan sekadar gerakan lingkungan sukarela.
Sejarah Panjang Program Penghijauan
Sejak akhir 1970-an, China menjalankan sejumlah proyek berskala raksasa. Proyek Sabuk Pelindung Tiga Utara atau yang dikenal sebagai Great Green Wall dimulai pada 1978 untuk menahan perluasan Gurun Gobi ke arah timur. Program ini menyasar wilayah seluas lebih dari empat juta kilometer persegi yang membentang di 13 provinsi.
Pada 1999, pemerintah meluncurkan program Grain for Green yang mengalihkan lahan pertanian miring dan terdegradasi menjadi lahan berhutan. Petani menerima kompensasi berupa biji-bijian, bantuan tunai, dan hak penggunaan lahan sebagai imbalan atas penghentian penanaman di area rawan erosi.
Selain itu, kampanye penanaman massal tahunan yang melibatkan pelajar, pegawai negeri, dan tentara menjadikan kegiatan menanam pohon sebagai agenda rutin nasional. Sejak 1981, warga yang mampu secara fisik diwajibkan menanam sejumlah pohon setiap tahun atau membayar dana kompensasi penghijauan.
Dampak pada Tutupan Lahan dan Iklim
Hasil dari rangkaian kebijakan itu terlihat pada data satelit. Kajian yang diterbitkan jurnal Nature Sustainability menemukan bahwa dua wilayah di China menjadi penyumbang terbesar penghijauan global pada periode 2000 hingga 2017. Luas hutan di Provinsi Shaanxi, Inner Mongolia, dan sekitarnya meningkat signifikan setelah sebelumnya mengalami penggurunan parah.
Penambahan tutupan pohon berperan sebagai penyerap karbon. Pemerintah China menyatakan sektor kehutanan menjadi salah satu instrumen utama dalam upaya mencapai target puncak emisi karbon pada 2030 dan netralitas karbon pada 2060. Hutan baru juga diklaim mengurangi erosi tanah, memperbaiki kualitas air, dan menekan frekuensi badai debu yang selama ini melanda Beijing dan kota-kota utara.
Kritik dan Persoalan di Lapangan
Sejumlah peneliti mengingatkan bahwa keberhasilan kuantitatif tidak selalu diikuti kualitas ekologis. Penanaman pohon monokultur dalam skala besar dapat menurunkan keanekaragaman hayati dan menguras air tanah, terutama di wilayah kering seperti Inner Mongolia dan Gansu. Beberapa laporan menunjukkan pohon yang ditanam tidak bertahan lama karena tidak sesuai dengan kondisi tanah dan curah hujan setempat.
Kritik lain menyoroti lemahnya pengawasan proyek di tingkat lokal. Sebagian program penghijauan dilaporkan hanya menghasilkan angka di atas kertas, sementara bibit yang ditanam mati dalam beberapa bulan. Pemerintah China merespons dengan memperketat audit, menerapkan citra satelit untuk verifikasi, dan mengalihkan pendekatan ke spesies asli yang lebih tahan kekeringan.
Pengaruh terhadap Negara Lain
Skala program China turut mendorong perubahan pendekatan di sejumlah negara. Uni Eropa mempercepat strategi biodiversitas dan target penanaman tiga miliar pohon pada 2030. Sejumlah negara Afrika yang tergabung dalam inisiatif Great Green Wall for the Sahel melibatkan kerja sama teknis dengan China, termasuk pasokan bibit dan pelatihan tenaga lapangan.
Di Asia Tenggara, beberapa negara mengadopsi skema serupa dengan mekanisme insentif bagi petani. Meski demikian, kondisi politik, kepemilikan lahan, dan kapasitas kelembagaan yang berbeda membuat hasilnya tidak seragam. Program penghijauan besar tetap menghadapi tantangan berupa konflik penggunaan lahan dan pendanaan jangka panjang.
Dengan demikian, apa yang terjadi di China tidak sekadar cerita tentang pohon. Ia menjadi contoh bagaimana kebijakan lingkungan berskala nasional dapat mengubah bentang alam dan, pada saat yang sama, memunculkan perdebatan mengenai efektivitas, keberlanjutan, dan dampak sosial dari intervensi besar terhadap ekosistem.
Komentar (0)