07, 2026
Internasional

Matahari Buatan China Makin Dekat dengan Kenyataan, Bersinar 2027

Proyek matahari buatan China, BEST, memasuki tahap perakitan komponen utama dan ditargetkan rampung pada akhir 2027 untuk demonstrasi pembangkitan listrik fusi.]]>

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Matahari Buatan China Makin Dekat dengan Kenyataan, Bersinar 2027

China semakin mendekati realisasi ambisiusnya untuk membangun "matahari buatan" yang mampu menghasilkan energi bersih dalam skala besar. Proyek reaktor fusi nuklir Negeri Tirai Bambu itu dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027, menandai tonggak penting dalam perlombaan global penguasaan teknologi fusi.

Reaktor Fusi Bernama Manusia

Proyek ini merupakan bagian dari program pengembangan reaktor fusi tokamak yang telah digarap China selama lebih satu dekade. Nama matahari buatan merujuk pada prinsip kerja mesin tersebut, yaitu meniru proses yang terjadi di inti Matahari: menggabungkan atom ringan menjadi atom yang lebih berat dan melepaskan energi dalam jumlah sangat besar.

Untuk mewujudkan hal itu, plasma gas harus dipanaskan hingga suhu puluhan hingga ratusan juta derajat Celsius dan dipertahankan dalam medan magnet yang sangat kuat. Tantangan terbesarnya bukan sekadar mencapai suhu ekstrem tersebut, melainkan menstabilkan plasma dalam durasi panjang agar reaksi berlangsung terus-menerus dan energi yang dihasilkan lebih besar daripada energi yang dikonsumsi.

Rekam Jejak Penelitian

China memiliki fasilitas uji bernama Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) di Hefei, Provinsi Anhui. Fasilitas itu berulang kali mencatat rekor operasi plasma. Pada 2025, EAST berhasil menahan plasma selama 1.066 detik pada suhu lebih dari 100 juta derajat Celsius, memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh fasilitas serupa di Eropa.

Rekor tersebut dianggap sebagai bukti bahwa China mampu mengendalikan plasma dalam waktu yang cukup lama, meski masih jauh dari kebutuhan reaktor komersial yang menuntut stabilitas berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Target Nyata Tahun 2027

Jadwal 2027 disampaikan dalam sejumlah paparan resmi terkait pengembangan infrastruktur fusi China. Dalam tahap tersebut, reaktor uji direncanakan mulai menjalankan operasi awal yang akan menjadi dasar bagi pembangunan pembangkit listrik fusi skala penuh pada dekade berikutnya.

Menurut para peneliti, tahap 2027 akan fokus pada pencapaian three crucial targets, yakni durasi operasi yang lebih panjang, efisiensi pemanasan plasma, serta kemampuan menghasilkan energi bersih secara berkelanjutan. Data dari operasi awal itu nantinya akan digunakan sebagai acuan desain reaktor generasi berikutnya.

Menuju Pembangkit Listrik Komersial

Reaktor uji bukanlah pembangkit listrik yang langsung menyuplai ke jaringan. Fungsinya adalah menguji material, sistem pendingin, dan teknologi pengontrolan sebelum reaktor komersial dibangun. Pihak berwenang China menargetkan pembangkit listrik fusi komersial pertama dapat beroperasi menjelang 2040-an.

Fusi dianggap sebagai sumber energi potensial karena bahan bakarnya melimpah, tidak menghasilkan emisi karbon, dan risiko ledakan jauh lebih kecil dibandingkan reaktor fisi nuklir konvensional. Namun hingga kini belum ada negara yang berhasil membangun reaktor fusi yang menghasilkan listrik bersih secara komersial.

Persaingan Global

Upaya China tidak berdiri sendiri. Amerika Serikat melalui proyek nasional, Uni Eropa dengan reaktor ITER di Prancis, serta sejumlah perusahaan rintisan swasta juga berlomba mencapai tonggak serupa. Beberapa perusahaan bahkan menargetkan grid listrik dalam jangka waktu yang lebih agresif.

Proyek ITER sempat mengalami penundaan dan kenaikan biaya, sementara sejumlah perusahaan fusi swasta mengklaim potensi percepatan berkat pendekatan teknologi yang berbeda. Dalam persaingan itu, China dinilai memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pembangunan fasilitas dan dukungan pemerintah yang berkelanjutan.

Tantangan Teknis

Beberapa tantangan besar masih menghadang. Material dinding reaktor harus tahan terhadap radiasi neutron berenergi tinggi selama bertahun-tahun. Sistem magnet superkonduktor juga harus bekerja pada kondisi ekstrem tanpa gangguan. Selain itu, biaya pembangunan reaktor fusi masih sangat tinggi.

Di sisi lain, kemajuan komputasi dan kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan untuk memprediksi gangguan plasma, sehingga waktu operasi bisa diperpanjang tanpa risiko kegagalan mendadak.

Dampak bagi Indonesia dan Dunia

Apabila reaktor fusi berhasil diwujudkan, dampaknya akan terasa secara global. Negara-negara pengimpor energi dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sementara harga listrik berpotensi menurun akibat melimpahnya sumber daya bahan bakar fusi, seperti deuterium dari air laut.

Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kebutuhan energi terus meningkat, berpotensi menjadi salah satu pihak yang diuntungkan apabila teknologi fusi terbukti ekonomis. Pemerintah dan lembaga riset setempat selama ini masih fokus pada energi terbarukan konvensional seperti surya, panas bumi, dan biomassa, namun perkembangan fusi dapat menjadi pertimbangan jangka panjang.

Jadwal 2027 menjadi penanda bahwa teknologi matahari buatan tidak lagi sekadar konsep ilmiah. Namun perjalanan dari reaktor uji menuju pembangkit listrik sungguhan masih menuntut bukti teknis, finansial, dan regulasi yang panjang sebelum benar-benar mengubah peta energi dunia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter