Kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap tahun di Indonesia, terutama di lahan gambut, menjadi persoalan yang jauh lebih rumit daripada sekadar memadamkan titik api. Analisis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menempatkan persoalan ini sebagai persoalan struktural yang menyangkut karakter ekologis lahan, kondisi iklim, keterbatasan infrastruktur, hingga lemahnya pencegahan di tingkat tapak.
Dalam berbagai kajian, peneliti BRIN menyoroti bahwa penyebab utama sulitnya pemadaman bukan semata keterbatasan jumlah personel atau peralatan, melainkan sifat api yang tumbuh di bawah permukaan tanah gambut. Api jenis ini tidak selalu tampak dari atas, tetapi terus membara di lapisan bahan organik yang kering dan padat. Ketika permukaan berhasil disiram, bara di kedalaman tetap hidup dan dapat muncul kembali beberapa hari kemudian.
Karakter Gambut dan Api Bawah Permukaan
Lahan gambut memiliki lapisan bahan organik yang tebal, tersusun dari sisa tumbuhan yang terurai sebagian. Ketika lapisan ini mengering, ia berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Api dapat merambat secara horizontal di bawah lapisan atas, menjalar tanpa terlihat, dan bertahan dalam waktu lama meski hujan telah turun di permukaan.
Kondisi tersebut membuat metode pemadaman konvensional dengan menyemprotkan air ke permukaan menjadi tidak memadai. Diperlukan teknik pemadaman yang menembus lapisan gambut, seperti penyuntikan air bertekanan ke kedalaman tertentu, pembuatan sumur bor di sekitar titik panas, atau kombinasi dengan material penyerap air. Kebutuhan air untuk memadamkan satu titik api di gambut jauh lebih besar dibandingkan kebakaran pada lahan mineral.
Bara yang Bertahan Lama
Karena bara dapat bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, operasi pemadaman menuntut pemantauan pascapemadaman yang panjang. Tanpa proses pendinginan dan pengawasan yang memadai, titik api yang dianggap padam dapat menyala kembali dan menjadi sumber kebakaran baru. Inilah salah satu alasan mengapa luas karhutla sering terus bertambah meski operasi pemadaman telah dilakukan secara masif.
Tekanan Faktor Iklim dan Cuaca
Analisis BRIN juga menempatkan faktor iklim sebagai penguat utama. Pada periode dengan curah hujan rendah, terutama saat terjadi fenomena El Nino, permukaan gambut mengering lebih cepat dan muka air tanah turun. Kondisi ini memperluas area yang rentan terbakar dan mempercepat penyebaran api. Sebaliknya, pada tahun dengan curah hujan tinggi, jumlah titik panas umumnya menurun, tetapi risiko tetap ada pada lahan yang drainasenya terganggu.
Perubahan pola hujan yang semakin tidak menentu membuat perencanaan operasi pemadaman menjadi lebih sulit. Musim kemarau yang lebih panjang mempersempit jendela waktu untuk melakukan pencegahan, sementara sumber daya pemadaman harus dialokasikan secara bersamaan di banyak lokasi.
Kendala Akses, Logistik, dan Sumber Air
Salah satu hambatan yang paling sering muncul di lapangan adalah keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran. Banyak titik api berada di area tanpa jalan yang memadai, sehingga personel dan peralatan harus didatangkan dengan jalur air atau udara. Keterbatasan ini memperlambat respons awal, padahal kecepatan deteksi dan penanganan sangat menentukan luas area yang terbakar.
Ketersediaan sumber air di sekitar lokasi juga menjadi persoalan tersendiri. Pada musim kemarau, kanal, parit, dan sumber air permukaan ikut mengering, sehingga pasokan air harus didatangkan dari jarak yang cukup jauh. Biaya logistik untuk memindahkan air dalam volume besar menjadi beban yang tidak kecil dalam operasi pemadaman berskala luas.
Peran Modifikasi Cuaca
Teknologi modifikasi cuaca melalui penyemaian awan menjadi salah satu instrumen yang dikaji untuk mempercepat pengisian kembali air di lahan gambut. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada keberadaan awan potensial di wilayah operasi. Ketika kondisi atmosfer tidak mendukung, teknologi ini tidak dapat menggantikan kebutuhan pemadaman darat dan udara secara langsung.
Pencegahan dan Tata Kelola Lahan
BRIN menegaskan bahwa pemadaman yang efektif harus disertai pencegahan yang berkelanjutan. Persoalan drainase lahan gambut, pembukaan lahan dengan cara membakar, serta pemanfaatan lahan yang tidak sesuai kaidah menjadi akar persoalan yang perlu ditangani lebih serius. Pengelolaan tata air, termasuk upaya menjaga muka air tanah pada level tertentu, dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko kebakaran berulang.
Selain itu, penguatan kapasitas daerah, kesiapsiagaan masyarakat, serta penegakan hukum terhadap praktik pembakaran lahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pengendalian karhutla. Tanpa perbaikan pada sisi pencegahan, operasi pemadaman berisiko terus berulang setiap tahun dengan beban biaya yang semakin besar.
Kebutuhan Riset dan Pemantauan
Dari sisi riset, BRIN mendorong penguatan sistem deteksi dini, pemetaan kerentanan lahan, dan pemantauan kualitas lingkungan pascakebakaran. Data yang lebih rapi mengenai luas area terbakar, kedalaman bara, dan efektivitas berbagai teknik pemadaman dinilai penting untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Dengan karakter api gambut yang bertahan lama, tekanan iklim yang meningkat, serta keterbatasan akses dan logistik di lapangan, persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan tunggal. Analisis BRIN mengarah pada kesimpulan bahwa pengendalian karhutla memerlukan kombinasi pencegahan berbasis tata kelola lahan, kesiapsiagaan wilayah, dukungan teknologi, dan penegakan aturan yang konsisten.
Komentar (0)