10, 2026
Nasional

Dari Makeup hingga Parfum, Begini Perubahan Tren Kecantikan di Indonesia

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2021/07/22/60f995b930649-ilustrasi-wanita-skincare-kecantikan_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dari Makeup hingga Parfum: Pergeseran Tren Kecantikan di Indonesia

Industri kecantikan Indonesia mengalami perubahan lanskap yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya perhatian utama tertuju pada produk makeup seperti foundation, lipstik, dan bedak, kini sorotan mulai bergeser ke kategori lain, terutama perawatan kulit atau skincare dan parfum. Pergeseran ini tercermin dari pola konsumsi masyarakat, strategi pemasaran merek, hingga maraknya diskusi di media sosial yang membahas rutinitas perawatan diri.

Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik balik yang mempercepat transformasi perilaku konsumen. Ketika aktivitas di luar rumah dibatasi dan interaksi tatap muka berkurang, banyak orang mulai mengurangi penggunaan makeup harian. Sebaliknya, kesadaran untuk merawat kesehatan kulit meningkat. Konsumen mulai memahami bahwa kulit yang sehat tidak selalu memerlukan lapisan riasan tebal, melainkan perawatan yang konsisten dan tepat sasaran.

Skincare sebagai Gaya Hidup Baru

Pertumbuhan kategori skincare di Indonesia terbilang pesat. Berbagai merek lokal maupun internasional berlomba menghadirkan produk yang menyasar beragam kebutuhan, mulai dari pelembap, serum, tabir surya, hingga perawatan anti-penuaan. Konsumen pun semakin cermat membaca kandungan produk, memahami jenis kulit, dan menyusun rutinitas pagi serta malam secara terstruktur.

Fenomena ini turut didorong oleh kehadiran influencer dan konten edukasi di platform digital. Ulasan produk, tutorial perawatan kulit, hingga penjelasan bahan aktif seperti niacinamide, retinol, dan asam hialuronat menjadi konsumsi harian warganet. Akibatnya, keputusan pembelian tidak lagi semata-mata dipengaruhi iklan konvensional, tetapi juga rekomendasi dari figur yang dipercaya.

Menariknya, skincare tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan eksklusif kelompok tertentu. Remaja, dewasa muda, hingga usia matang kini memiliki rutinitas perawatan masing-masing. Bahkan laki-laki semakin terbuka terhadap produk perawatan kulit, seiring melunturnya anggapan bahwa perawatan diri identik dengan perempuan.

Parfum sebagai Ekspresi Identitas

Di sisi lain, parfum mengalami kebangkitan popularitas yang tidak kalah menarik. Bila dahulu wewangian sering dianggap sebagai produk pelengkap, kini parfum diposisikan sebagai bagian dari identitas dan ekspresi diri. Banyak konsumen memilih aroma tertentu untuk menyesuaikan suasana hati, aktivitas, bahkan kepribadian yang ingin ditampilkan.

Pasar parfum lokal tumbuh dengan menghadirkan aroma yang khas dan harga yang kompetitif. Merek-merek dalam negeri mulai berani bersaing dengan produk global, baik dari sisi kualitas maupun kemasan. Media sosial kembali berperan besar, terutama melalui tren ulasan aroma, rekomendasi parfum tahan lama, hingga istilah populer seperti "parfum susun" yang memungkinkan pengguna menciptakan kombinasi wangi tersendiri.

Peningkatan minat terhadap parfum juga didukung oleh perubahan gaya hidup. Aktivitas sosial yang kembali normal setelah pandemi membuat banyak orang ingin tampil percaya diri, dan wewangian menjadi salah satu cara paling sederhana untuk meninggalkan kesan. Selain itu, parfum kerap dijadikan hadiah, sehingga permintaannya meningkat pada momen-momen tertentu seperti hari raya dan perayaan khusus.

Pergeseran Makna Kecantikan

Perubahan tren dari makeup ke skincare dan parfum mencerminkan pergeseran makna kecantikan itu sendiri. Kecantikan tidak lagi semata-mata soal tampilan luar yang instan, tetapi lebih kepada perawatan berkelanjutan dan kenyamanan diri. Konsumen semakin menghargai kulit sehat alami dan aroma yang membuat mereka merasa nyaman, bukan sekadar menutupi kekurangan.

Hal ini juga mendorong industri untuk lebih transparan dalam menyampaikan informasi produk. Klaim yang berlebihan mulai ditinggalkan karena konsumen semakin kritis. Merek yang mampu membangun kepercayaan melalui kualitas dan komunikasi jujur cenderung bertahan lebih lama di pasar.

Dengan demikian, dinamika industri kecantikan Indonesia menunjukkan bahwa preferensi konsumen terus berkembang. Makeup tetap memiliki tempatnya, terutama untuk acara khusus dan kebutuhan profesional. Namun, skincare dan parfum kini mengambil porsi perhatian yang lebih besar sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut, seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan, identitas diri, dan pentingnya perawatan jangka panjang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter