Gelombang unjuk rasa buruh kembali terjadi di Jakarta pada Rabu (9/7/2025). Ribuan pekerja dari berbagai serikat dan federasi buruh berkumpul di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jalan Medan Merdeka Barat, sebelum bergerak menuju sejumlah titik strategis seperti Istana Merdeka, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Gedung DPR RI. Aksi yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini tidak hanya menuntut perbaikan kesejahteraan, tetapi juga membawa 11 tuntutan utama yang disusun bersama oleh aliansi buruh. Massa membawa spanduk, poster, serta pengeras suara yang menyuarakan aspirasi mereka.
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam berbagai elemen menyebut aksi ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi ketenagakerjaan nasional yang dinilai belum berpihak kepada pekerja. Mereka menuntut pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat segera merespons 11 poin yang menjadi dasar aksi. Aparat kepolisian mengawal jalannya demonstrasi, sementara lalu lintas di sekitar Medan Merdeka Barat dan Jalan Jenderal Sudirman dialihkan untuk mencegah kemacetan total.
Daftar 11 Tuntutan Buruh
Dalam orasi dan dokumen sikap yang dibacakan di atas mobil komando, berikut sebelas tuntutan yang disuarakan massa buruh:
- Cabut dan tolak revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan yang dinilai mereduksi hak pekerja, terutama terkait pesangon dan jaminan sosial.
- Naikkan upah minimum regional (UMR) dengan formula yang berpihak pada kebutuhan hidup layak (KHL), bukan pertumbuhan ekonomi semata.
- Hentikan praktik outsourcing dan kontrak kerja jangka pendek yang merugikan pekerja.
- Tolak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan yang dianggap membuka celah privatisasi jaminan kesehatan bagi buruh.
- Perbaiki tata kelola BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, termasuk transparansi iuran dan layanan klaim.
- Selesaikan kasus-kasus perselisihan hubungan industrial yang selama ini berlarut-larut.
- Berikan perlindungan bagi pekerja perempuan, termasuk cuti melahirkan yang layak dan fasilitas laktasi di tempat kerja.
- Tegakkan hak berserikat dan kebebasan berpendapat bagi pekerja tanpa intimidasi.
- Hentikan kriminalisasi terhadap aktivis buruh dan pemimpin serikat.
- Alokasikan anggaran yang memadai untuk pengawasan ketenagakerjaan agar pelanggaran norma kerja dapat dicegah.
- Libatkan serikat buruh secara bermakna dalam setiap perumusan kebijakan ketenagakerjaan, bukan sekadar formalitas.
Poin-poin tersebut dibacakan bergantian oleh perwakilan serikat. Massa menyambut setiap tuntutan dengan pekik dan tepuk tangan. Setelah pembacaan, perwakilan aliansi menyatakan akan mengirimkan dokumen tuntutan kepada pemerintah dan DPR sebagai langkah resmi.
Respons Pemerintah dan Aparat
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Ketenagakerjaan terkait 11 tuntutan tersebut. Namun, beberapa pejabat yang ditemui di lokasi mengatakan akan mempelajari substansi tuntutan. Kepolisian mengimbau agar aksi berjalan damai dan tidak mengganggu kepentingan publik. Sejumlah ruas jalan sempat ditutup sementara, termasuk akses menuju Istana Merdeka, sehingga arus lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif.
Pengamat ketenagakerjaan menilai aksi ini menunjukkan akumulasi persoalan yang belum terselesaikan sejak lama. Menurut mereka, tuntutan buruh tidak hanya soal upah, tetapi juga menyangkut kepastian kerja, jaminan sosial, dan ruang dialog yang setara. Jika tidak direspons dengan kebijakan konkret, potensi aksi serupa bisa kembali terjadi dengan skala lebih besar.
Di sisi lain, kalangan pengusaha berharap pemerintah mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap iklim usaha. Mereka menekankan pentingnya dialog tripartit antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha agar kebijakan yang dihasilkan tidak menimbulkan gejolak di sektor produksi. Namun, serikat buruh menegaskan bahwa dialog selama ini kerap berjalan timpang karena suara pekerja sering diabaikan.
Dinamika dan Penutupan Aksi
Menjelang sore, massa mulai membubarkan diri secara bertahap. Beberapa perwakilan tetap bertahan untuk melakukan pertemuan dengan anggota DPR di kompleks Senayan. Aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap bahwa buruh akan mengawal 11 tuntutan tersebut hingga ada kepastian tindak lanjut. Mereka juga mengancam akan menggelar aksi lebih besar jika dalam waktu tertentu tidak ada respons.
Demonstrasi buruh di Jakarta hari ini menegaskan bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi medan perjuangan panjang. Sebelas tuntutan yang dibawa bukan sekadar daftar keinginan, melainkan cerminan keresahan pekerja terhadap masa depan mereka. Pemerintah dan DPR kini menghadapi ujian untuk menjawab aspirasi tersebut dengan kebijakan yang adil dan berpihak pada kesejahteraan pekerja, tanpa mengabaikan keberlanjutan dunia usaha.
Komentar (0)