Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyoroti risiko gangguan iklim berupa El Nino dan La Nina yang berpotensi menekan produksi pangan nasional. Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan peringatan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Peringatan ini menjadi penting karena sektor pertanian Indonesia masih sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama untuk komoditas padi, jagung, dan hortikultura.
Peringatan DEN soal Anomali Iklim
Dalam sejumlah forum rapat ekonomi, DEN menekankan bahwa El Nino dan La Nina bukan sekadar persoalan meteorologi, melainkan variabel yang langsung memengaruhi produksi, harga, dan ketersediaan pangan. El Nino umumnya membawa cuaca lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia, sementara La Nina cenderung meningkatkan curah hujan hingga memicu banjir dan genangan di sentra produksi.
Menurut DEN, kedua fenomena tersebut menuntut respons kebijakan yang berbeda. Pada fase kering, pemerintah perlu memastikan ketersediaan air irigasi, mempercepat tanam, dan mengantisipasi gagal panen. Pada fase basah, prioritas bergeser ke pengendalian banjir, perbaikan drainase, serta perlindungan jaringan jalan dan gudang pangan agar distribusi tidak terhambat.
Luhut menilai pengalaman El Nino tahun 2023 menjadi pelajaran berharga. Saat itu, kemarau panjang menyebabkan penurunan produksi beras, keterlambatan masa tanam, dan kenaikan harga di sejumlah daerah. Pemerintah kemudian menempuh berbagai langkah, mulai dari penambahan cadangan beras hingga impor untuk menjaga stabilitas pasokan.
Dampak El Nino terhadap Produksi Pangan
El Nino berdampak langsung pada ketersediaan air di lahan sawah tadah hujan. Ketika curah hujan berkurang, petani menghadapi risiko kekeringan, penurunan luas tanam, dan serangan hama yang berubah pola. Padi sebagai komoditas strategis paling rentan karena kebutuhan airnya tinggi dan masa tanamnya bergantung pada awal musim hujan.
Gangguan produksi beras berimplikasi pada harga. Penurunan pasokan yang tidak diimbangi cadangan memadai dapat mendorong kenaikan harga di tingkat produsen maupun konsumen. Inflasi pangan bergejolak menjadi perhatian karena bobotnya besar dalam inflasi umum dan berpengaruh langsung pada daya beli masyarakat berpendapatan rendah.
Selain padi, komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah juga sensitif terhadap anomali cuaca. Kedua komoditas ini kerap menjadi penyumbang utama inflasi bergejolak karena fluktuasi produksinya cepat dan rantai distribusinya panjang. Serangan organisme pengganggu tanaman pada musim kering maupun basah dapat memperparah gejolak harga.
Dampak lain muncul pada sektor peternakan dan perikanan. Kekeringan mengurangi ketersediaan pakan hijauan dan air, sementara suhu tinggi dapat menurunkan produktivitas ternak. Pada perikanan budidaya, perubahan suhu dan kualitas air memengaruhi tingkat kelangsungan hidup ikan, yang pada akhirnya berdampak pada pasokan protein masyarakat.
Risiko La Nina dan Ancaman Banjir
Sebaliknya, La Nina membawa risiko banjir pada lahan pertanian, terutama di wilayah dataran rendah. Genangan dapat merusak tanaman yang sedang dalam fase pertumbuhan, menunda panen, dan menurunkan kualitas hasil. Kerusakan infrastruktur seperti jalan usaha tani, saluran irigasi, dan jembatan turut memperlambat distribusi hasil panen.
La Nina juga meningkatkan risiko gagal panen pada komoditas yang ditanam di lahan rawan genangan. Petani di sejumlah daerah pesisir dan bantaran sungai menghadapi ancaman banjir yang datang bersamaan dengan masa tanam. Kondisi ini memerlukan sistem peringatan dini, penyesuaian kalender tanam, serta penyediaan varietas yang lebih tahan terhadap kelebihan air.
Dari sisi distribusi, cuaca ekstrem dapat mengganggu jalur transportasi darat dan laut. Keterlambatan pengiriman bahan pangan antarpulau berpotensi menciptakan kelangkaan sementara di daerah tertentu, khususnya wilayah Indonesia timur yang bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Cadangan Pangan dan Kesiapan Pemerintah
DEN menekankan pentingnya penguatan cadangan pangan pemerintah, termasuk beras di gudang Bulog. Cadangan yang memadai berfungsi sebagai bantalan ketika produksi terganggu, sekaligus alat stabilisasi harga melalui operasi pasar. Pengelolaan cadangan dinilai perlu disertai data stok yang akurat dan tata kelola distribusi yang cepat.
Selain cadangan, pemerintah diminta memperkuat sistem informasi iklim dan pertanian. Data curah hujan, luas tanam, dan prakiraan panen yang diperbarui secara berkala dapat membantu pengambilan keputusan, termasuk penentuan waktu tanam dan alokasi bantuan. Kolaborasi antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Kementerian Pertanian, serta pemerintah daerah menjadi kunci.
Dari sisi kebijakan, DEN mendorong percepatan perbaikan irigasi, optimalisasi embung dan waduk, serta penguatan penyuluhan kepada petani. Asuransi pertanian juga disebut sebagai instrumen yang dapat mengurangi beban risiko petani ketika gagal panen akibat cuaca ekstrem.
Presiden Prabowo Subianto disebut menerima sejumlah masukan tersebut sebagai bahan penyusunan langkah jangka pendek dan menengah. Pemerintah menargetkan kebijakan pangan tidak hanya berorientasi pada ketersediaan, tetapi juga pada keterjangkauan harga dan keberlanjutan produksi dalam negeri.
Menjaga Stabilitas Pangan
Ketahanan pangan Indonesia menghadapi ujian dari dua sisi: kekeringan dan kelebihan air. Karena itu, strategi menghadapi El Nino dan La Nina tidak bisa bersifat tunggal. Pemerintah perlu menyiapkan langkah adaptif yang menyesuaikan kondisi wilayah, jenis komoditas, dan fase musim.
Bagi masyarakat, stabilitas pasokan dan harga pangan menjadi indikator penting. Keberhasilan antisipasi akan terlihat dari terjaganya produksi, terkendalinya inflasi pangan, serta tidak terjadinya kelangkaan di pasar. Peringatan DEN kepada Prabowo menjadi pengingat bahwa risiko iklim harus direspons dengan perencanaan yang matang dan koordinasi lintas sektor yang konsisten.
Komentar (0)