19, 2026
Teknologi

Deretan Saham Valuasi Murah Usai IHSG Babak Belur

Pasar saham Indonesia terpukul, IHSG anjlok 11,57%. Saham bluechips seperti BBCA, BBRI, dan ASII kini undervalue, menawarkan peluang investasi menarik.]]>

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Deretan Saham Valuasi Murah Usai IHSG Babak Belur

Koreksi yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan jejak yang cukup dalam pada peta valuasi bursa. Ketika harga saham turun lebih cepat dibanding laju penurunan laba emiten, rasio penilaian otomatis menjadi lebih murah. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan daftar saham dengan valuasi rendah, yang oleh sebagian pelaku pasar dianggap sebagai peluang, namun oleh sebagian lain dipandang sebagai peringatan.

Secara teknis, murah atau mahalnya sebuah saham tidak diukur dari nominal harga per lembar. Saham bernilai Rp200 belum tentu lebih murah daripada saham bernilai Rp5.000. Ukuran yang dipakai adalah perbandingan antara harga pasar dan kinerja fundamental emiten, baik dari sisi laba maupun nilai buku aset.

Koreksi Indeks dan Proses Derating

Penurunan indeks secara agregat biasanya diikuti oleh apa yang disebut derating, yakni penurunan kelipatan penilaian yang diberikan pasar terhadap laba perusahaan. Derating terjadi ketika investor mengurangi premi risiko mereka terhadap suatu pasar, entah karena ketidakpastian global, tekanan nilai tukar, arus keluar dana asing, maupun kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

Dalam fase seperti itu, harga saham bergerak lebih dinamis daripada laporan keuangan. Laba emiten mungkin belum berubah karena laporan kuartalan baru akan terbit beberapa waktu kemudian, tetapi harga sudah lebih dulu menyesuaikan ekspektasi. Selisih waktu inilah yang membuat rasio valuasi tampak lebih rendah dari biasanya.

Yang perlu dicatat, koreksi indeks tidak menyentuh semua sektor secara merata. Saham-saham dengan bobot besar dan likuiditas tinggi biasanya menjadi sasaran pertama aksi jual, terutama oleh investor asing yang perlu mengurangi eksposur secara cepat. Sementara itu, saham berkapitalisasi kecil bisa ikut tertekan karena likuiditas yang menipis, bukan semata-mata karena fundamentalnya memburuk.

Metrik yang Dipakai Menilai Murah

Rasio Harga terhadap Laba (PER)

Price to earnings ratio membandingkan harga saham dengan laba per saham. Semakin rendah rasio ini, semakin kecil harga yang harus dibayar investor untuk setiap rupiah laba yang dihasilkan emiten. Namun, PER rendah bisa menyesatkan bila laba yang dipakai adalah laba sekali jalan, misalnya keuntungan dari penjualan aset atau revaluasi. Karena itu, laba yang dipakai sebaiknya laba inti yang berulang.

Rasio Harga terhadap Nilai Buku (PBV)

Price to book value membandingkan harga pasar dengan nilai buku ekuitas. Rasio di bawah satu secara matematis berarti pasar menilai perusahaan lebih rendah daripada nilai akuntansi aset bersihnya. Pada sektor padat modal seperti perbankan, energi, dan industri dasar, PBV menjadi salah satu acuan utama. Tetapi PBV rendah juga bisa mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kualitas aset, misalnya potensi kredit bermasalah atau penurunan nilai aset tetap.

Imbal Hasil Dividen

Yield dividen menjadi pembanding tambahan, terutama bagi investor yang berorientasi pendapatan. Ketika harga saham turun sementara pembayaran dividen relatif stabil, imbal hasil otomatis naik. Kendati demikian, dividen bersifat tidak pasti dan sangat bergantung pada kebijakan perusahaan serta ketersediaan arus kas bebas.

Sektor yang Umumnya Lebih Dahulu Murah

Dalam beberapa siklus koreksi, sektor keuangan, energi, barang baku, infrastruktur, dan telekomunikasi kerap tampil sebagai kelompok dengan rasio valuasi paling tertekan. Sektor-sektor ini memiliki karakteristik berbeda. Perbankan sangat sensitif terhadap arah suku bunga dan kualitas kredit. Energi dan barang baku bergantung pada harga komoditas global. Infrastruktur lekat dengan belanja modal dan beban utang. Telekomunikasi cenderung stabil tetapi menghadapi tekanan persaingan tarif.

Selain itu, saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penghuni utama indeks sering kali lebih dulu kehilangan premi valuasi karena menjadi instrumen utama dalam transaksi investor institusi.

Risiko Jebakan Nilai

Valuasi murah bukan jaminan kenaikan harga di kemudian hari. Pasar mengenal istilah value trap, yaitu kondisi ketika sebuah saham tampak murah secara rasio tetapi terus bertahan murah atau bahkan semakin murah karena kinerja fundamentalnya memburuk. Penurunan laba berkelanjutan, pelemahan pangsa pasar, masalah tata kelola, hingga beban utang yang menumpuk dapat membuat rasio rendah bertahan lama.

Karena itu, penyaringan berbasis rasio sebaiknya dilengkapi dengan pemeriksaan tren laba beberapa periode, arus kas operasi, struktur permodalan, serta kualitas manajemen. Saham yang murah karena harga turun tetapi labanya terjaga memiliki profil yang sangat berbeda dari saham yang murah karena labanya anjlok.

Faktor Makro yang Menentukan Arah

Keberlanjutan fase valuasi murah sangat dipengaruhi oleh kondisi makro. Arah suku bunga bank sentral, stabilitas nilai tukar, inflasi, dan arus investasi portofolio asing menjadi penentu utama apakah koreksi berhenti atau berlanjut. Ketika tekanan eksternal mereda dan ekspektasi pertumbuhan membaik, premi risiko biasanya kembali naik dan kelipatan valuasi ikut pulih.

Sebaliknya, bila ketidakpastian berlangsung lama, pasar cenderung menahan diri dan menunggu bukti perbaikan kinerja emiten. Dalam situasi ini, likuiditas menjadi faktor penting karena saham dengan transaksi tipis lebih rentan terhadap fluktuasi harga yang tajam.

Pendekatan Menyaring Saham Bernilai Murah

Beberapa langkah yang lazim digunakan adalah membandingkan rasio valuasi emiten dengan rata-rata industri dan dengan riwayatnya sendiri dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir. Selanjutnya, memastikan laba yang dipakai adalah laba berulang, memeriksa konsistensi arus kas operasi terhadap laba bersih, dan menilai rasio utang terhadap ekuitas. Diversifikasi lintas sektor juga menjadi pengaman bila satu sektor ternyata masih menghadapi tekanan lanjutan.

Dengan demikian, deretan saham bervaluasi murah setelah koreksi indeks sebaiknya dibaca sebagai bahan awal penelitian, bukan sebagai kesimpulan akhir. Murah secara statistik hanyalah titik tolak; keputusan investasi tetap membutuhkan pembuktian bahwa kualitas bisnis dan prospek laba masih utuh di tengah tekanan pasar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter