Ditemukan Tinggal Kerangka, Kakak-Adik di Banyuasin Diperkosa Sebelum Dibunuh
Penemuan jenazah yang telah berubah menjadi kerangka dalam keadaan terbungkus karung di Desa Sungai Kerangan, Kecamatan Banyuasin, Sumatera Selatan, mengejutkan warga setempat. Korban diketahui adalah dua korban, seorang kakak dan adik berjenis kelamin perempuan yang diduga menjadi korangan kekerasan seksual sebelum dibunuh. Kasus ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat dan menuntut tindakan cepat dari aparat penegak hukum.
Kepala Kepolisian Resor Banyuasin AKBP Muhammad Iqbal mengkonfirmasi penemuan jenazah tersebut. Menurutnya, penemuan dilakukan oleh warga setempat pada Rabu (15/3) pagi saat sedang beraktivitas di dekat pinggir sungai. "Warga melihat sebuah karung mencurigakan yang terbuka dan isinya berupa rangka manusia," ujarnya dalam konferensi pers singkat.
Identitas Korban dan Kronologi Penemuan
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan identifikasi yang dilakukan tim forensik, korban pertama adalah RA (20), warga Desa Sungai Kerangan, sedangkan korban kedua adalah adiknya, YR (17). Kedua korban dilaporkan hilang sejak sekitar dua bulan yang lalu oleh keluarganya.
Menurut keterangan saksi mata, penemuan bermula saat seorang petani lokal hendak menuju ke kebunnya. "Saat melewati pinggir sungai, terlihat sebuah karung plastik berwarna cokelat yang terbuka sebagian. Saat didekati, isinya ternyata rangka manusia yang masih utuh," jelas seorang saksi yang ingin tidak disebutkan namanya.
Setelah dilaporkan, polisi segera turun ke lokasi dan melakukan pengamanan TKP. Tim identifikasi forensik dari RSUD Banyuasin juga turut dibawa untuk memastikan identitas korban dan mengecek adanya luka-luka pada kerangka tersebut.
Dugaan Kekerasan Seksual Sebelum Pembunuhan
Hasil pemeriksaan sementara oleh tim forensik menunjukkan adanya dugaan kekerasan seksual terhadap kedua korban. "Kami menemukan beberapa ciri-ciri yang mengarah pada kekerasan seksual sebelum kematian. Namun untuk konfirmasi lebih lanjut, kami masih membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang lebih mendalam," jelas Kepala Tim Forensik RSUD Banyuasin, dr. Ahmad Fauzi.
Polisi menyebutkan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap motif pembunuhan dan mengidentifikasi pelaku. "Kami sudah mengamankan beberapa saksi dan sedang mengumpulkan bukti-bukti fisik di TKP. Kami juga sudah mengerahkan tim labfor untuk melakukan olah tempat kejadian perkara," tambah AKBP Muhammad Iqbal.
Kepala Desa Sungai Kerangan, H. Rusman, mengaku terkejut dengan penemuan tersebut. "Desa kami selalu damai dan sepi kejadian kriminal. Semoga polisi segera bisa mengungkap kasus ini dan memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya," ujarnya saat dihubungi secara terpisah.
Keluhan Keluarga Korban
Menurut informasi yang dihimpun, keluarga korban sempat melaporkan kehilangan kedua korban ke polisi sekitar dua bulan yang lalu. Namun, penanganan kasus tersebut dinilai terlalu lambat oleh keluarga korban.
"Saya sudah dua kali melapor ke polisi saat kedua anak saya hilang. Tapi sayangnya, penanganannya terasa tidak serius. Padahal kami sudah curiga ada yang tidak beres karena mereka biasanya selalu kabar," ucap ibu korban yang menangis histeris saat dikonfirmasi.
Respons Pihak Berwenang
Ditreskrimum Polda Sumsel mengaku telah membentuk tim khusus untuk mengungkap kasus pembunuhan tragis ini. "Kami telah membentuk tim gabungan dari Polres Banyuasin dan Ditreskrimum Polda Sumsel untuk menangani kasus ini. Kami menjamin akan memberikan keadilan bagi korban," kata Kepala Ditreskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Muhammad Fadli.
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Fachrial Fachrudin, menyatakan prihatin dengan kejadian ini. "Saya meminta polisi untuk segera mengungkap kasus ini hingga tuntas. Kita tidak boleh membiarkan kekerasan terhadap perempuan dan anak di provinsi kita terus terjadi," tegasnya.
Saat ini, polisi masih terus mengembangkan penyelidikan dengan memeriksa beberapa saksi dan mengumpulkan bukti-bukti fisik di lokasi kejadian. Dugaan kuat bahwa kasus ini berkaitan dengan kekerasan seksual sebelum pembunuhan membuat masyarakat di Banyuasin dan sekitarnya menjadi gelisah dan meminta keadilan bagi korban.
Komentar (0)