30, 2026
Nasional

DKI Gelontorkan Rp 90 Miliar untuk Bangun SJUT di 10 Ruas Jalan

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

DKI Gelontorkan Rp 90 Miliar untuk Bangun SJUT di 10 Ruas Jalan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalokasikan dana sebesar Rp 90 miliar untuk membangun Sistem Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) di 10 ruas jalan strategis di ibu kota. Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dalam penyediaan infrastruktur utilitas dan mengurangi kerusakan jalan akibat penggalian berulang kali.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) DKI Jakarta, Hendrar Prihadi, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah provinsi dalam meningkatkan kualitas infrastruktur di Jakarta. "Dengan adanya SJUT, kita bisa mengelola infrastruktur bawah tanah secara lebih terintegrasi dan efisien. Semua utilitas seperti listrik, telekomunikasi, air minum, dan gas akan dikabelkan dalam satu saluran terpadu," ujarnya dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Balai Kota Jakarta, Rabu (15/3).

Tujuan dan Manfaat SJUT

Sistem Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) adalah konsep pengelolaan infrastruktur bawah tanah yang mengintegrasikan berbagai jenis utilitas dalam satu saluran terpadu. Dengan adanya sistem ini, kegiatan penggalian untuk instalasi atau perbaikan utilitas dapat dikelola secara terkoordinasi, sehingga mengurangi frekuensi penggalian di jalan.

Menurut Hendrar, manfaat utama dari penerapan SJUT adalah mengurangi kerusakan jalan akibat penggalian berulang kali. "Saat ini, setiap ada perbaikan atau instalasi utilitas, seringkali kita harus menggali jalan lagi. Dengan SJUT, semua utilitas sudah terintegrasi dalam satu saluran, sehingga jika ada perbaikan, kita hanya perlu membuka satu titik saja," jelasnya.

Selain itu, SJUT juga diharapkan dapat meningkatkan estetika kota dengan mengurangi kabel-kabel yang terlihat di atas tanah. "Kabel-kabel yang semula terpasang di tiang listrik atau gantung di udara akan dipindahkan ke bawah tanah melalui saluran SJUT. Ini akan membuat tampilan kota menjadi lebih rapi dan estetis," tambahnya.

10 Ruas Jalan yang Dituju

Dana sebesar Rp 90 miliar tersebut akan digunakan untuk membangun SJUT di 10 ruas jalan di Jakarta. Ruas-ruas jalan tersebut antara lain:

  1. Jl. MH Thamrin
  2. Jl. Sudirman
  3. Jl. Rasuna Said
  4. Jl. Gatot Subroto
  5. Jl. Tomang Raya
  6. Jl. TB Simatupang
  7. Jl. Pangeran Antasari
  8. Jl. Casablanca
  9. Jl. Raya Bogor
  10. Jl. Raya Bekasi

Hendrar menjelaskan bahwa pemilihan 10 ruas jalan tersebut didasarkan pada kriteria tingkat kepadatan lalu lintas, fungsi jalan sebagai jalan arteri, dan ketersediaan ruang untuk saluran SJUT. "Kita memilih ruas jalan yang paling vital dan sering dilalui masyarakat. Selain itu, kita juga mempertimbangkan faktor teknis seperti kondisi tanah dan ketersediaan ruang untuk saluran," ujarnya.

Mekanisme Pelaksanaan

Pelaksanaan proyek pembangunan SJUT akan dilakukan secara bertahap selama dua tahun ke depan. Tahap pertama akan dimulai pada kuartal kedua tahun 2023 dengan memfokuskan pada persiapan desain dan perizinan. Sementara itu, tahap kedua akan dimulai pada kuartal pertama tahun 2024 dengan memulai pekerjaan konstruksi.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah provinsi akan bekerja sama dengan beberapa BUMD dan swasta sebagai mitra strategis. "Kita akan melibatkan beberapa BUMD seperti Jakarta Propertindo (Jakpro) dan Jakarta Infrastruktur Propertindo (JIP) untuk membantu pelaksanaan proyek ini. Selain itu, kita juga akan menggandeng swasta melalui skema kerja sama pemerintah dengan swasta (KPSS) untuk mempercepat pelaksanaan," kata Hendrar.

Tanggapan Publik

Program ini mendapat berbagai respons dari masyarakat dan pihak terkait. Beberapa warga menyambut baik rencana pemerintah provinsi dalam membangun SJUT, menganggap ini langkah positif untuk meningkatkan kualitas infrastruktur di Jakarta.

"Saya sangat mendukung program ini. Jalan-jalan di Jakarta sering digali untuk perbaikan utilitas, sehingga sering terjadi macet dan kerusakan jalan. Dengan SJUT, semoga masalah ini bisa diminimalisir," ujar Ahmad, warga Kebayoran Baru.

Sementara itu, beberapa pihak khawatir dengan potensi dampak negatif selama pelaksanaan proyek, seperti kemacetan yang parah karena penggalian. "Kami memahami pentingnya program ini, tapi kami juga berharap pelaksanaannya tidak menyebabkan kemacetan yang parah. Semua pihak harus berkoordinasi dengan baik untuk mengurangi dampak negatif bagi masyarakat," kata Budi, aktivis lingkungan.

Menanggapi hal tersebut, Hendrar menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan memastikan pelaksanaan proyek berjalan dengan efisien dan tidak mengganggu aktifitas masyarakat. "Kita akan mengatur jadwal penggalian dengan baik, misalnya dilakukan di l jam sibuk atau pada malam hari. Selain itu, kita juga akan memastikan semua persiapan dilakukan secara matang sebelum memulai pekerjaan," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter