30, 2026
Teknologi

Rupiah Berbalik Melemah 0,17%, Dolar AS Naik ke Rp17.530

Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini.]]>

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Rupiah Berbalik Melemah 0,17%, Dolar AS Naik ke Rp17.530

Rupiah Berbalik Melemah 0,17%, Dolar AS Naik ke Rp17.530

Rupiah mengalami pelemahan pada perdagangan pasar spot valuta asing (forex) Kamis (15/6/2023). Mata uang Indonesia tercatat turun sebesar 0,17% atau mencapai level Rp17.530 per dolar AS. Posisi ini menandakan pergerakan berbalik arah dari pelemahan sebelumnya yang sempat ditunjukkan oleh mata uang lokal.

Menurut data dari Bloomberg, pasangan mata uang USD/IDR ditutup pada level Rp17.530 per dolar AS, naik dari penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.500 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meskipun sebelumnya rupiah sempat menguat di tengah sentimen positif terkait kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Beberapa faktor diyakini menjadi pemicu pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis. Pertama, penguatan dolar AS secara global yang didorong oleh data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi. Data inflasi AS untuk bulan Mei 2023 menunjukkan peningkatan 0,1% secara bulanan dan 4,0% secara tahunan, yang di atas perkiraan analis.

Kedua, menurut analis dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Hermawan Susanto, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat (AS) dengan jangka waktu 10 tahun. "Imbal hasil AS Treasury 10-tahun yang menembus level 3,8% mendorong penguatan dolar secara global," ujarnya.

Ketiga, faktor domestik yang turut mempengaruhi adalah kelambanan arus modal asing yang masuk ke pasar Indonesia. Meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Mei lalu, respons dari investor asing belum sepenuhnya terlihat signifikan.

Reaksi Pasar dan Perkiraan Pergerakan Selanjutnya

Para analis menyatakan bahwa pergerakan rupiah pada pekan ini akan terus dipengaruhi oleh data ekonomi domestik maupun global. "Kita perlu mengawasi data inflasi Indonesia yang akan dirilis minggu depan. Jika inflasi masih tinggi, BI mungkin akan terus menaikkan suku bunga," tambah Hermawan.

Sementara itu, analis dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Anton Hendranata, memprediksi rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.400 hingga Rp17.600 per dolar AS pekan ini. "Kita melihat ada potensi penguatan rupiah jika data inflasi domestik menunjukkan penurunan, tetapi penguatan dolar AS akan tetap menjadi tekanan utama," ujarnya.

Di tengah pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) tetap menunjukkan respons proaktif. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa pihaknya terus mengawasi perkembangan pasar dan siap mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Kami akan terus melakukan intervensi pasar jika diperlukan untuk mencegah volatilitas yang berlebihan. Stabilitas nilai tukar sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelas Perry.

Dampak terhadap Sektor Ekonomi

Pelemahan rupiah ini berdampak pada beberapa sektor ekonomi. Di sektor ekspor, pelemahan rupiah sebenarnya bisa menjadi keuntungan karena barang ekspor Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional. Namun, di sektor impor, terutama untuk barang-barang yang bergantung pada bahan baku impor, akan meningkat biayanya.

"Kenaikan harga dolar akan berdampak pada sektor impor seperti mesin, bahan baku industri, dan barang-barang konsumsi. Ini bisa meningkatkan tekanan inflasi," ujar ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira.

Di sektor perbankan, pelemahan rupiah akan meningkatkan beban utang bagi debitur yang memiliki pinjaman dalam valuta asing. Namun, untuk bank yang memiliki aset dalam rupiah, pelemahan mata uang dapat meningkatkan pendapatan mereka dalam rupiah setelah dikonversi.

Pemerintah sendiri menegaskan akan terus berkoordinasi dengan BI untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah. "Kita akan memastikan stabilitas nilai tukar tidak mengganggu program ekonomi kita, khususnya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Dengan melihat perkembangan ini, para pelaku pasar diharapkan dapat bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Meskipun terdapat tekanan pelemahan rupiah, potensi penguatan masih terbuka tergantung pada data ekonomi yang akan datang dan respons kebijakan dari otoritas moneter.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter