30, 2026
Nasional

Dolar Perkasa: Rupiah-Yen Ambruk, Won-Peso Masih Selamat

Dolar AS menguat sepanjang pekan ini]]>

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dolar Perkasa: Rupiah-Yen Ambruk, Won-Peso Masih Selamat

Dolar AS Perkasa, Rupiah hingga Yen Tertekan

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan dominasinya di pasar valuta asing global. Penguatan indeks dolar yang berlanjut menekan sejumlah mata uang utama maupun negara berkembang, termasuk rupiah Indonesia dan yen Jepang yang terpantau ambruk ke level terendah dalam beberapa periode terakhir. Di sisi lain, won Korea Selatan dan peso Filipina masih mampu bertahan di tengah gelombang tekanan tersebut, meski tetap berada dalam zona rentan terhadap volatilitas pasar.

Penguatan dolar AS didorong oleh ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Data ekonomi AS yang masih solid, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi yang belum sepenuhnya melandai ke target dua persen, memperkuat narasi bahwa bank sentral AS belum akan terburu-buru melonggarkan kebijakan moneternya. Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap menarik, sehingga arus modal global kembali mengalir ke aset-aset berdenominasi dolar.

Rupiah Tertekan, Bank Indonesia Waspada

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling terpukul. Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya permintaan dolar dari pelaku pasar domestik, baik untuk kebutuhan impor maupun pembayaran utang luar negeri. Tekanan tambahan datang dari aksi jual di pasar surat berharga negara (SBN) oleh investor asing yang memilih memindahkan dananya ke aset yang lebih aman.

Bank Indonesia (BI) menyatakan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan melalui pasar spot, pasar forward domestik, dan pembelian SBN di pasar sekunder. Gubernur BI menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, dengan inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Meski demikian, bank sentral mengakui bahwa tekanan eksternal menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi dengan bauran kebijakan yang tepat.

Pelaku pasar mencermati bahwa pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan harga barang impor, yang pada gilirannya dapat menekan daya beli masyarakat. Pemerintah diminta menjaga pasokan bahan pangan dan energi agar inflasi tidak melonjak akibat depresiasi mata uang. Selain itu, dunia usaha diimbau melakukan lindung nilai (hedging) untuk memitigasi risiko fluktuasi kurs terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Yen Jepang Terpuruk ke Zona Terendah

Yen Jepang mengalami pelemahan yang cukup dalam terhadap dolar AS. Berbeda dengan bank sentral lain yang menaikkan suku bunga, Bank of Japan (BoJ) masih mempertahankan kebijakan suku bunga ultra-rendah dan program pelonggaran kuantitatif. Perbedaan arah kebijakan moneter ini menjadi faktor utama yang membuat yen kurang menarik bagi investor global.

Pelemahan yen sebenarnya memberikan keuntungan bagi eksportir Jepang karena produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, depresiasi yang berlebihan menimbulkan kekhawatiran terkait biaya impor energi dan bahan baku yang meningkat, yang dapat menggerus daya beli rumah tangga Jepang. Otoritas Jepang disebut telah melakukan intervensi untuk mencegah pelemahan yen yang terlalu tajam, meski efektivitasnya masih dipertanyakan pasar.

Won dan Peso Bertahan

Di tengah tekanan global, won Korea Selatan dan peso Filipina menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik. Won masih mampu bertahan berkat surplus perdagangan Korea Selatan yang kuat, terutama dari sektor semikonduktor dan elektronik. Pemerintah Korea juga aktif melakukan komunikasi dengan pasar untuk meredam gejolak nilai tukar.

Peso Filipina mendapat dukungan dari pengiriman uang (remitansi) pekerja migran yang tetap tinggi, serta cadangan devisa yang memadai. Bank Sentral Filipina (BSP) menyatakan siap mengambil langkah untuk menjaga stabilitas peso, termasuk intervensi bila diperlukan. Meski demikian, kedua mata uang tersebut tetap rentan apabila penguatan dolar AS berlanjut dalam jangka panjang.

Dampak bagi Perekonomian Global dan Negara Berkembang

Penguatan dolar AS yang berkepanjangan memberikan implikasi luas bagi perekonomian global. Negara-negara berkembang yang memiliki utang dalam denominasi dolar menghadapi beban pembayaran yang lebih besar. Selain itu, arus modal keluar dari pasar negara berkembang dapat menekan nilai tukar dan memperketat likuiditas domestik.

Bagi Indonesia, kombinasi pelemahan rupiah dan ketidakpastian global menuntut kewaspadaan tinggi. Pemerintah dan bank sentral perlu menjaga koordinasi dalam mengelola kebijakan fiskal dan moneter. Diversifikasi ekspor, penguatan industri domestik, serta peningkatan investasi di sektor produktif menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi terhadap guncangan eksternal.

Pasar keuangan global diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Pelaku pasar akan terus memantau data ekonomi AS, arah kebijakan The Fed, serta perkembangan geopolitik yang dapat mempengaruhi sentimen risiko. Dalam kondisi ini, stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama bagi banyak negara, termasuk Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Filipina.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter