30, 2026
Internasional

Dunia Butuh Rp 3.230 Triliun per Tahun untuk Selamatkan Bumi

Dunia telah memasuki titik tengah perjalanan menuju salah satu target konservasi terbesar yang pernah disepakati secara global]]>

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dunia Butuh Rp 3.230 Triliun per Tahun untuk Selamatkan Bumi

Laporan terbaru mengungkap kebutuhan pendanaan global untuk mengatasi krisis iklim dan keanekaragaman hayati mencapai angka yang fantastis, yakni sekitar Rp 3.230 triliun per tahun. Angka tersebut merupakan estimasi total investasi yang diperlukan untuk mentransformasi sistem energi, melindungi ekosistem, dan membangun ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.

Kebutuhan ini muncul di tengah tekanan ekonomi global yang masih belum pulih sepenuhnya, sehingga memunculkan pertanyaan besar tentang bagaimana dunia dapat memobilisasi dana sebesar itu tanpa memperparah beban utang negara-negara berkembang. Para ahli menilai kesenjangan pendanaan iklim saat ini masih sangat lebar, karena komitmen yang ada baru mencakup sebagian kecil dari total kebutuhan.

Kesenjangan Pendanaan yang Melebar

Data menunjukkan bahwa investasi tahunan untuk aksi iklim saat ini hanya berkisar sepertiga hingga setengah dari kebutuhan ideal. Kesenjangan ini diperparah oleh ketidakpastian kebijakan di beberapa negara maju, fluktuasi harga energi, serta prioritas anggaran yang masih berpihak pada sektor energi fosil. Di sisi lain, negara-negara berkembang membutuhkan dukungan finansial dan transfer teknologi untuk beralih ke ekonomi rendah karbon tanpa mengorbankan pertumbuhan.

Pakar ekonomi lingkungan menegaskan bahwa angka Rp 3.230 triliun bukan sekadar biaya, melainkan investasi yang akan menghasilkan penghematan jangka panjang. Setiap dolar yang ditanam untuk energi terbarukan, transportasi bersih, dan restorasi hutan disebut akan mengurangi kerugian akibat bencana hidrometeorologi yang terus meningkat frekuensinya.

Prioritas Sektor yang Harus Dibiayai

Dana tersebut akan dialokasikan untuk sejumlah sektor kunci. Pertama, transisi energi dari batu bara menuju energi terbarukan seperti surya, angin, dan hidrogen hijau. Kedua, pengembangan jaringan listrik pintar dan penyimpanan energi berskala besar. Ketiga, perlindungan dan restorasi hutan tropis, lahan basah, serta ekosistem pesisir yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami.

Selain itu, sebagian dana diperlukan untuk adaptasi iklim, termasuk pembangunan infrastruktur tahan bencana, sistem peringatan dini, dan pertanian cerdas iklim. Negara-negara kepulauan dan wilayah pesisir menjadi prioritas karena paling rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem.

Peran Sektor Swasta dan Instrumen Keuangan

Pemerintah tidak dapat menanggung seluruh beban pembiayaan sendirian. Karena itu, sektor swasta diharapkan berkontribusi melalui investasi hijau, obligasi berkelanjutan, dan kemitraan publik-swasta. Instrumen seperti green bond, blended finance, dan jaminan risiko dinilai mampu menarik modal swasta dengan risiko yang lebih terukur.

Namun, para pengamat mengingatkan bahwa tanpa reformasi tata kelola dan transparansi, aliran dana berisiko tidak tepat sasaran. Pengawasan ketat diperlukan agar pembiayaan tidak jatuh ke proyek yang hanya berlabel hijau tanpa dampak nyata atau yang dikenal sebagai greenwashing.

Tantangan Politik dan Sosial

Mobilisasi dana sebesar Rp 3.230 triliun per tahun juga menghadapi tantangan politik. Di banyak negara, subsidi energi fosil masih menjadi kebijakan populer yang sulit dicabut. Di sisi lain, masyarakat berpendapatan rendah rentan terdampak jika transisi energi dilakukan tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.

Karena itu, pendekatan yang adil dan inklusif menjadi syarat utama. Pemerintah perlu memastikan bahwa pekerja di sektor energi kotor mendapat pelatihan ulang dan pekerjaan layak di industri hijau. Tanpa keadilan sosial, kebijakan iklim berisiko ditolak publik dan kehilangan legitimasi politik.

Peluang di Tengah Krisis

Terlepas dari besarnya tantangan, banyak pihak optimistis. Penurunan biaya teknologi energi terbarukan dalam satu dekade terakhir membuat investasi hijau semakin kompetitif. Beberapa negara bahkan telah membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan penurunan emisi.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kegagalan memenuhi kebutuhan pendanaan ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga risiko ekonomi dan keamanan global. Dengan kata lain, dunia menghadapi pilihan antara mengeluarkan Rp 3.230 triliun setiap tahun untuk masa depan yang layak huni, atau menanggung kerugian yang jauh lebih besar akibat krisis iklim yang tak terkendali.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter