12, 2026
Teknologi

Ekonomi Tumbuh, Mengapa Rumah Tangga Masih Tertekan?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29% namun belum merata. Banyak keluarga masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Evaluasi kebijakan diperlukan.]]>

Bagus Nugroho
Bagus Nugroho Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ekonomi Tumbuh, Mengapa Rumah Tangga Masih Tertekan?

Ekonomi Tumbuh, Mengapa Rumah Tangga Masih Tertekan?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat positif beberapa tahun terakhir seharusnya menjadi kabar baik bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Banyak rumah tangga merasakan tekanan ekonomi yang terus meningkat meski secara makro ekonomi negara menunjukkan angka positif. Fenomena ini membutuhkan pemahaman mendalam mengenai hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan rumah tangga.

Disparitas Pertumbuhan Ekonomi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5% dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini menjadi pencapaian yang membanggakan dan menunjukkan stabilitas ekonomi makro. Namun, pertumbuhan ini tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Ekonomi seringkali tumbuh didorong oleh sektor-sektor tertentu seperti ekspor, investasi asing, atau industri tertentu yang tidak langsung memberikan dampak signifikan pada mayoritas masyarakat.

Di satu sisi, perusahaan besar dan sektor formal menikmati pertumbuhan yang signifikan. Di sisi lain, sektor informal yang menyerap tenaga kerja terbanyak justru kesulitan bersaing. Akibatnya, meski ekonomi tumbuh, lapangan kerja yang berkualitas dan mapan tidak bertambah secara proporsional. Banyak pekerja tetap berada di posisi dengan penghasilan stagnan sementara harga barang dan jasa terus meningkat.

Inflasi dan Harga Komoditas

Salah satu faktor utama yang membuat rumah tangga terasa tertekan adalah inflasi. Meskipun pemerintah berupaya mengendalikan inflasi dalam target yang ditetapkan, harga kebutuhan pokok seperti beras, daging, sayuran, dan minyak goreng seringkali mengalami lonjakan harga yang signifikan. Kenaikan harga komoditas ini langsung mempengaruhi anggaran rumah tangga yang terbatas.

Kondisi ini semakin parah bagi keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah. Bagi mereka, pengeluaran untuk kebutuhan pokok sudah menghabiskan sebagian besar penghasilan. Ketika harga kebutuhan pokok naik, mereka tidak memiliki banyak ruang untuk menyesuaikan anggaran tanpa mengorbankan kebutuhan pokok lainnya atau mengurangi konsumsi.

Pertumbuhan Upah vs Biaya Hidup

Upah minimum regional (UMR) yang naik setiap tahun seharusnya menjadi solusi bagi para pekerja. Namun, kenaikan UMR seringkali tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Studi menunjukkan bahwa pertumbuhan biaya hidup jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan upah, terutama di kota-kota besar.

Selain itu, tidak semua sektor mengikuti kenaikan upah yang ditetapkan pemerintah. Banyak pekerja di sektor informal atau kontrak menerima upah yang tetap stagnan atau hanya mengalami kenaikan minimal. Padahal, mereka juga menghadapi tekanan yang sama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Struktur Ekonomi yang Tidak Inklusif

Pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif menjadi masalah mendasar. Ekonomi Indonesia masih banyak bergantung pada sektor-sektor yang tidak langsung memberikan manfaat pada masyarakat luas. Misalnya, pertumbuhan yang didorong oleh eksperti komoditas mentah cenderung memberikan keuntungan terbatas bagi produsen lokal karena nilai tambah rendah.

Di sisi lain, transformasi digital yang terjadi cepat juga menciptakan kesenjangan. Sementara sebagian orang memanfaatkan peluang ekonomi digital, banyak yang terpinggirkan karena kurangnya akses terhadap teknologi dan keterampilan digital. Ketidaksesuaian ini membuat pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan oleh semua kalangan.

Dampak Pandemi dan Eksternalitas Global

Pandemi COVID-19 yang melanda sejak 2020 juga memberikan dampak jangka panjang terhadap kondisi ekonomi rumah tangga. Banyak keluarga yang mengalami penurunan pendapatan akibat PHK atau pengurangan jam kerja. Beberapa bahkan kehilangan sumber penghasilan sepenuhnya. Meski ekonomi secara makro telah pulih, proses pemulihan di tingkat rumah tangga masih berjalan lambat.

Selain itu, kondisi geopolitik global juga mempengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Kenaikan harga energi global yang dipicu oleh konflik internasional dan ketidakstabilan rantai pasokan membuat pemerintah sulit mengendalikan harga dalam negeri. Dampak ini langsung dirasakan oleh masyarakat yang menghadapi biaya transportasi dan listrik yang lebih tinggi.

Mencari Solusi Sistemik

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Pemerintah perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomik benar-benar inklusif dengan memberikan perhatian lebih pada sektor informal dan UMKM yang menyerap tenaga kerja terbanyak. Pembangunan infrastruktur di daerah juga dapat membantu menyebarkan pertumbuhan ekonomi ke seluruh Indonesia.

Di sisi lain, perlunya reformasi struktur ekonomi yang lebih berpihak pada masyarakat. Ini termasuk meningkatkan akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja modern, serta memastikan perlindungan sosial yang memadai bagi kelompok rentan.

Tanpa reformasi sistemik, pertumbuhan ekonomi yang positif di tingkat makro akan terus berjalan sejalan dengan ketidakpuasan dan tekanan ekonomi yang dirasakan oleh rumah tangga di tingkat mikro. Kesejahteraan yang sejalan harus menjadi tujuan utama setiap kebijakan ekonomi, bukan sekadar angka pertumbuhan itu sendiri.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Bagus Nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter