20, 2026
Nasional

Eksperimen MU dengan Marcus Rashford Gagal, Perpisahan Jadi Langkah Berikutnya

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Masa depan Marcus Rashford di Manchester United kembali menjadi sorotan setelah eksperimen yang diharapkan mampu menghidupkan kembali performanya justru berujung pada kesimpulan yang pahit. Pemain berusia 27 tahun itu kini berada di persimpangan jalan, dan perpisahan dengan klub yang membesarkannya disebut-sebut sebagai langkah paling realistis bagi kedua belah pihak.

Rashford merupakan produk akademi Manchester United yang menembus tim utama pada 2016. Selama hampir satu dekade, ia menjadi simbol bagi banyak pendukung klub karena latar belakangnya sebagai pemain lokal yang tumbuh bersama tim. Namun, sepak bola profesional tidak memberi ruang bagi sentimentalitas ketika performa dan kebutuhan tim tidak lagi sejalan.

Eksperimen yang Tak Berjalan Sesuai Rencana

Musim 2022/2023 menjadi puncak karier Rashford di Old Trafford. Di bawah asuhan Erik ten Hag, ia mencetak sekitar 30 gol di semua kompetisi dan menjadi tumpuan utama lini depan. Penampilan itu membuat manajemen klub memberinya kontrak jangka panjang pada Juli 2023, yang diharapkan menjadi titik tolak menuju konsistensi yang lebih matang.

Harapan tersebut tidak terwujud. Musim berikutnya, produktivitas Rashford menurun tajam. Ia hanya mencetak delapan gol di semua kompetisi, kehilangan tempat di starting eleven pada sejumlah laga penting, dan tidak masuk dalam skuad Timnas Inggris untuk Piala Eropa 2024. Berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan performanya, mulai dari rotasi posisi, pendekatan personal, hingga perubahan pola serangan. Hasilnya tetap jauh dari ekspektasi.

Faktor di Balik Penurunan Performa

Sejumlah pengamat menilai penurunan Rashford bukan semata soal teknik. Konsistensi pengambilan keputusan di area pertahanan lawan, efektivitas pergerakan tanpa bola, serta kontribusi dalam fase bertahan menjadi sorotan. Di sisi lain, ketidakstabilan struktur tim secara keseluruhan turut memperbesar tekanan pada pemain yang selama ini diandalkan sebagai pembeda.

Faktor mental juga disebut berperan. Beban sebagai wajah klub, ditambah sorotan publik yang sangat intens, membuat setiap penurunan performa cepat berubah menjadi polemik. Rashford sendiri pernah menyatakan bahwa kritik yang bersifat personal memengaruhi kondisinya, meski ia menegaskan tetap berkomitmen memberikan yang terbaik.

Pergantian Pelatih dan Kebijakan Baru

Kedatangan Ruben Amorim pada November 2024 membawa perubahan besar dalam standar internal tim. Pelatih asal Portugal itu menekankan intensitas, disiplin taktik, dan komitmen tanpa kompromi. Dalam kerangka tersebut, Rashford tidak lagi mendapat jaminan tempat.

Puncaknya terjadi pada Desember 2024, ketika Rashford tidak dimasukkan ke dalam skuad untuk laga derby melawan Manchester City. Amorim secara terbuka menyatakan bahwa keputusan itu murni berbasis penilaian performa dan perilaku di lapangan. Pernyataan Rashford setelahnya, yang menyiratkan kesiapan menghadapi tantangan baru, memperkuat spekulasi bahwa hubungan keduanya telah mencapai titik terendah.

Villa sebagai Panggung Pembuktian

Pada Januari 2025, Rashford dipinjamkan ke Aston Villa hingga akhir musim. Langkah itu dipandang sebagai upaya menyelamatkan karier sekaligus mengurangi beban gaji klub. Bersama Villa, ia kembali mendapat menit bermain reguler dan menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, meski tidak lagi menjadi pusat proyek jangka panjang klub tersebut.

Bagi Manchester United, peminjaman itu juga berfungsi sebagai uji pasar. Klub ingin melihat apakah minat dari klub lain tetap muncul dan apakah nilai jual pemain masih bisa dipertahankan. Sejumlah klub Eropa, termasuk dari Liga Spanyol dan Liga Italia, dikabarkan memantau situasi, terutama karena struktur biaya kepindahan permanen dinilai lebih terjangkau dibandingkan saat Rashford berada di puncak performa.

Perpisahan sebagai Jalan Keluar

Dengan kontrak yang masih tersisa beberapa tahun, keputusan soal masa depan Rashford tidak bisa diambil secara tergesa-gesa. Namun, arah pembicaraan di internal klub dan di kalangan pengamat cenderung mengerucut pada satu kesimpulan: perpisahan dapat menjadi solusi paling rasional.

Bagi Manchester United, melepas Rashford berarti membuka ruang finansial untuk merombak lini depan sesuai kebutuhan Amorim, sekaligus menutup bab panjang yang sudah tidak lagi produktif. Bagi Rashford, kepindahan permanen menawarkan lingkungan baru, tekanan yang berbeda, dan kesempatan membangun kembali reputasi sebagai penyerang sayap yang tajam.

Yang tersisa kini adalah negosiasi dan kalkulasi. Klub perlu menemukan pembeli dengan tawaran yang masuk akal, sementara sang pemain harus memilih proyek yang benar-benar cocok dengan gaya permainannya. Apa pun keputusannya, satu hal tampak jelas: eksperimen mempertahankan Rashford di Old Trafford telah mencapai batas akhirnya, dan langkah berikutnya adalah perpisahan yang tertata.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter