20, 2026
Teknologi

Fadli Zon Dorong Aksara Nusantara Hadir di Ruang Digital Global

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya melestarikan tradisi lisan dan tulisan Nusantara melalui digitalisasi.]]>

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Fadli Zon Dorong Aksara Nusantara Hadir di Ruang Digital Global

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong agar aksara-aksara Nusantara tidak berhenti sebagai warisan yang tersimpan di museum, naskah kuno, atau lontar, melainkan hadir di ruang digital global. Menurutnya, keberadaan aksara daerah di ekosistem digital merupakan bagian dari upaya menjaga identitas budaya sekaligus memastikan warisan leluhur tetap hidup dan dapat diakses generasi mendatang.

Dorongan tersebut sejalan dengan kenyataan bahwa sebagian besar interaksi masyarakat saat ini berlangsung di ranah digital. Selama aksara Nusantara tidak tersedia di perangkat, aplikasi, dan platform daring, ruang hidupnya akan terus menyempit. Aksara yang tidak dapat diketik, ditampilkan, dan dicari di internet berisiko ditinggalkan karena dianggap tidak relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Aksara Nusantara dan Tantangan Digitalisasi

Indonesia memiliki kekayaan aksara yang luar biasa banyak. Selain aksara Jawa dan Bali, terdapat aksara Batak, Sunda Kuno, Lontara di Sulawesi Selatan, Surat Ulu di Sumatra bagian selatan, hingga berbagai aksara di Nusa Tenggara dan wilayah lainnya. Kekayaan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tradisi literasi tertua dan paling beragam di dunia.

Namun, keragaman itu belum sepenuhnya terwakili di dunia digital. Banyak aksara daerah yang belum memiliki dukungan teknis memadai sehingga sulit digunakan pada telepon pintar, komputer, maupun aplikasi percakapan. Akibatnya, penulisan aksara daerah sering kali harus dilakukan secara manual atau melalui gambar, bukan melalui teks digital yang dapat disalin, dicari, dan diolah.

Keterbatasan tersebut berdampak pada berbagai sektor. Dunia pendidikan, misalnya, menghadapi kesulitan ketika hendak mengajarkan aksara daerah secara praktis di kelas. Penerbitan buku, media digital, hingga industri kreatif juga terkendala karena tidak tersedianya perangkat lunak yang mendukung penulisan aksara secara lengkap.

Standarisasi Digital sebagai Gerbang Utama

Dalam berbagai kesempatan, Fadli Zon menekankan pentingnya standardisasi aksara Nusantara agar dapat dikenali secara universal oleh sistem komputer. Standardisasi menjadi pintu masuk bagi aksara untuk muncul di mesin pencari, media sosial, layanan pesan, hingga sistem pemerintahan berbasis elektronik.

Tanpa standardisasi, sebuah aksara hanya dapat digunakan pada perangkat tertentu dengan perangkat lunak khusus. Sebaliknya, ketika sebuah aksara telah terdaftar dalam standar internasional, pengembang di seluruh dunia dapat membangun font, aplikasi, dan layanan yang mendukung aksara tersebut. Dampaknya bersifat berantai: semakin banyak pengguna, semakin besar pula dorongan bagi industri teknologi untuk menyediakan dukungan.

Karena itu, Kementerian Kebudayaan dipandang perlu bekerja sama dengan kementerian dan lembaga lain, termasuk pihak yang menangani standardisasi, perguruan tinggi, komunitas pegiat aksara, serta pelaku industri teknologi. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci karena persoalan aksara bukan semata persoalan budaya, melainkan juga persoalan teknis, akademis, dan ekonomi.

Peran Komunitas dan Dunia Pendidikan

Fadli Zon juga menyoroti pentingnya keterlibatan komunitas pegiat aksara, akademisi filologi, dan guru bahasa daerah. Mereka merupakan pihak yang paling memahami kaidah penulisan, variasi bentuk, serta konteks historis setiap aksara. Pengetahuan tersebut menjadi bahan penting dalam penyusunan usulan teknis agar aksara dapat terwakili secara tepat di sistem digital.

Di sisi lain, dunia pendidikan berperan menjaga keberlanjutan penggunaan aksara. Pengenalan aksara daerah sejak jenjang sekolah dasar dinilai perlu disertai dengan ketersediaan bahan ajar digital yang ramah pengguna. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya mengenal bentuk aksara, tetapi juga terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di perangkat digital mereka.

Peluang Ekonomi Kreatif

Kehadiran aksara Nusantara di ruang digital turut membuka peluang ekonomi kreatif. Desainer huruf, ilustrator, pengembang aplikasi, hingga pelaku industri mode dan kriya dapat mengolah aksara sebagai elemen estetika yang bernilai jual. Aksara yang hidup akan menjadi inspirasi bagi lahirnya karya-karya baru, mulai dari tipografi, kemasan produk, hingga media interaktif.

Selain itu, digitalisasi aksara memudahkan pelestarian naskah kuno. Manuskrip yang selama ini tersimpan di perpustakaan dan koleksi pribadi dapat dialihmediakan, diterjemahkan, dan dipublikasikan secara terbatas untuk kepentingan penelitian. Upaya tersebut sekaligus memperluas akses publik terhadap khazanah pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Langkah Lanjutan

Dorongan Fadli Zon diharapkan diikuti dengan peta jalan yang jelas, termasuk penyusunan daftar prioritas aksara yang akan diusulkan, penyediaan font resmi, pelatihan bagi guru dan komunitas, serta insentif bagi pengembang yang membangun aplikasi pendukung. Tanpa langkah konkret, gagasan menghadirkan aksara Nusantara di ruang digital global berisiko berhenti pada tataran wacana.

Pada akhirnya, kehadiran aksara Nusantara di internet bukan sekadar soal teknologi. Hal itu menyangkut pengakuan bahwa Indonesia memiliki peradaban literasi yang panjang dan beragam. Memindahkan aksara ke ruang digital berarti memastikan warisan itu tetap terbaca, tetap dipelajari, dan tetap diperbincangkan oleh generasi yang hidup di era layar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter