Satu pekerjaan kini tak lagi cukup bagi sebagian kelas menengah Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, makin banyak pekerja formal yang menambah penghasilan lewat pekerjaan kedua, dari berdagang daring, menjadi pengemudi ojek, mengajar privat, hingga menerima proyek lepas di luar jam kerja. Fenomena double job atau pekerjaan ganda ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan strategi bertahan agar daya beli tidak tergerus dan posisi sosial-ekonomi tidak melorot.
Ketika Satu Sumber Penghasilan Tak Lagi Cukup
Kelompok yang paling terlihat menjalani pekerjaan ganda adalah karyawan swasta, aparatur sipil negara, guru, tenaga kesehatan, hingga pekerja media dan kreatif. Penghasilan utama dinilai tidak lagi sepadan dengan beban pengeluaran, terutama di kota-kota besar. Cicilan rumah atau kendaraan, biaya pendidikan anak, premi asuransi, dan harga pangan menjadi pos yang paling menekan anggaran rumah tangga.
Sebagian pekerja beralasan mengambil pekerjaan kedua untuk menjaga standar hidup yang sudah mereka capai. Sebagian lain melakukannya karena khawatir jatuh ke kelas bawah jika terjadi guncangan, misalnya pemutusan hubungan kerja, sakit, atau kenaikan harga yang tiba-tiba. Dalam banyak kasus, pekerjaan kedua tidak lagi dipandang sebagai jalan menuju kekayaan, tetapi sebagai jaring pengaman pribadi.
Kelas Menengah yang Menyusut
Kekhawatiran itu berakar pada kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Berdasarkan klasifikasi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah pada 2024 tercatat sekitar 47,85 juta jiwa atau sekitar 17 persen dari total penduduk. Angka itu menurun dibanding 2019 yang mencapai sekitar 57,33 juta jiwa. Sebaliknya, kelompok yang berada tepat di bawah kelas menengah—kerap disebut aspiring middle class—membengkak menjadi lebih dari 130 juta jiwa.
Posisi kelompok menengah memang rentan. Mereka berada di atas garis kemiskinan, tetapi belum memiliki kekayaan yang cukup untuk menahan guncangan. Ketika upah riil tumbuh lambat sementara harga kebutuhan pokok dan biaya jasa naik, jarak antara kelas menengah dan kelompok rentan menjadi tipis. Pekerjaan ganda pun menjadi salah satu respons paling praktis yang bisa diambil rumah tangga tanpa menunggu perbaikan kebijakan.
Ragam Bentuk Pekerjaan Kedua
Ekonomi platform dan kerja lepas
Perkembangan ekonomi digital membuka jalan bagi pekerjaan sampingan yang fleksibel. Platform perdagangan elektronik, layanan pengantaran, transportasi daring, hingga pasar kerja lepas memungkinkan seseorang menerima order di luar jam kerja utama. Banyak pekerja memanfaatkan malam hari dan akhir pekan untuk menyelesaikan proyek desain, penulisan, penerjemahan, atau pengelolaan media sosial.
Usaha rumahan dan sektor informal
Selain pekerjaan berbasis aplikasi, pekerjaan kedua juga tumbuh di sektor informal. Karyawan kantor membuka warung makan rumahan, berjualan pakaian melalui media sosial, menjadi reseller, atau mengelola lahan parkir dan kos-kosan. Kegiatan ini umumnya tidak tercatat dalam statistik ketenagakerjaan formal sehingga skala sebenarnya sulit diukur secara pasti.
Jasa keahlian dan profesi sampingan
Kelompok berpendidikan tinggi cenderung memilih pekerjaan kedua yang memanfaatkan keahlian, seperti konsultan lepas, pengajar kursus, agen properti, agen asuransi, atau pembicara pelatihan. Pendapatan tambahan dari jalur ini dinilai lebih stabil dan berpotensi meningkatkan keterampilan, meski menuntut pembagian waktu yang ketat.
Risiko di Balik Tambahan Penghasilan
Pekerjaan ganda tidak selalu menguntungkan. Beban jam kerja yang panjang meningkatkan risiko kelelahan fisik dan tekanan mental. Sejumlah pekerja mengaku kualitas hasil kerja utama menurun karena terbagi fokus. Risiko lain adalah hilangnya waktu istirahat dan berkurangnya waktu bersama keluarga, yang dalam jangka panjang dapat memicu masalah kesehatan.
Persoalan perlindungan juga mencuat. Pekerja lepas dan pekerja platform umumnya tidak memperoleh jaminan sosial ketenagakerjaan, jaminan kesehatan dari pemberi kerja, atau kepastian pendapatan. Ketika pekerjaan utama berakhir, mereka hanya bergantung pada penghasilan sampingan yang sifatnya tidak tetap. Kondisi ini membuat pekerjaan ganda lebih tepat disebut strategi bertahan daripada solusi permanen.
Beban Biaya Hidup dan Tekanan Upah
Sejumlah ekonom menilai fenomena ini mencerminkan lemahnya pertumbuhan upah dibandingkan kenaikan biaya hidup. Sektor manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja mengalami tekanan, sementara lapangan kerja baru banyak tumbuh di sektor jasa dan informal yang tingkat upahnya lebih rendah. Ketidakpastian global, pelemahan permintaan ekspor, dan penyesuaian harga energi turut memengaruhi pendapatan rumah tangga.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Ketika kelas menengah menahan belanja dan beralih mencari penghasilan tambahan, daya dorong konsumsi melemah. Karena itu, pekerjaan ganda memiliki dampak makro: ia membantu rumah tangga bertahan, tetapi sekaligus menjadi sinyal bahwa kapasitas belanja kelompok menengah sedang tertekan.
Arah Kebijakan yang Dibutuhkan
Para pengamat menekankan perlunya perbaikan struktural agar pekerja tidak selamanya bergantung pada pekerjaan tambahan. Prioritas yang sering disebut mencakup penguatan perlindungan sosial bagi pekerja informal dan pekerja platform, penegakan aturan upah, penciptaan lapangan kerja di sektor bernilai tambah tinggi, serta peningkatan keterampilan angkatan kerja.
Selain itu, literasi keuangan dan akses pembiayaan bagi usaha mikro dinilai penting agar pekerjaan sampingan dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar tambahan penghasilan yang habis untuk konsumsi. Pendataan yang lebih baik terhadap pekerja dengan penghasilan ganda juga diperlukan agar kebijakan ketenagakerjaan lebih tepat sasaran.
Fenomena pekerjaan ganda pada akhirnya menggambarkan kerentanan kelas menengah Indonesia. Di satu sisi, ia menunjukkan adaptasi dan ketangguhan rumah tangga dalam menghadapi tekanan ekonomi. Di sisi lain, ia menjadi pengingat bahwa status kelas menengah masih rapuh dan sangat bergantung pada stabilitas pendapatan serta kemampuan negara menjaga daya beli warganya.
Komentar (0)