19, 2026
Nasional

Gaya Sederhana dan Jenaka ala AKBP Candra Sasongko Kapolresta Surakarta

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Nama AKBP Candra Sasongko mencuat di tengah masyarakat Surakarta bukan karena gaya tegas seorang perwira menengah Polri, melainkan karena pendekatan yang cenderung sederhana dan jenaka dalam menjalankan tugas sebagai Kapolresta Surakarta. Sosoknya kerap dikaitkan dengan gaya kepemimpinan yang membumi, jauh dari kesan eksklusif yang sering melekat pada jabatan kepolisian di tingkat kota.

Dalam sejumlah kesempatan, Candra tampil sebagai pejabat yang lebih suka berbicara dengan bahasa sehari-hari ketimbang retorika formal. Pendekatan itu membuatnya lebih mudah diterima berbagai kalangan, mulai dari pedagang pasar, pelajar, hingga tokoh masyarakat yang biasa berinteraksi dengan jajaran kepolisian di wilayah Solo.

Kesan Sederhana yang Menempel pada Figur Kapolresta

Kesederhanaan menjadi salah satu ciri yang paling sering disorot publik ketika membicarakan Candra Sasongko. Ia tidak menampilkan diri sebagai pejabat yang jauh dari keseharian warga. Gaya berpakaian, cara bertutur, dan interaksi yang ditampilkan di ruang publik dinilai lebih menyerupai warga biasa dibandingkan seorang pejabat struktural di lingkungan kepolisian.

Citra tersebut bukan tanpa alasan. Dalam banyak kegiatan, ia memilih hadir langsung di tengah masyarakat alih-alih hanya mengandalkan laporan tertulis dari jajaran bawah. Kehadiran di lapangan itu memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan keluhan secara langsung, tanpa harus melewati prosedur birokrasi yang berlapis.

Bagi sebagian pengamat, gaya seperti ini punya nilai tersendiri dalam membangun kepercayaan publik. Kepolisian, terutama di tingkat kewilayahan, sering dihadapkan pada persoalan jarak psikologis dengan masyarakat. Pejabat yang mau turun dan berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami dinilai lebih efektif meredam ketegangan sosial.

Humor sebagai Alat Komunikasi

Sisi jenaka Candra menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya komunikasinya. Humor dipakai bukan sekadar untuk mencairkan suasana, tetapi juga sebagai cara menyampaikan pesan-pesan kamtibmas agar lebih mudah diterima. Imbauan soal ketertiban lalu lintas, keamanan lingkungan, hingga protokol keselamatan kerap disampaikan dengan kalimat ringan yang mengundang senyum.

Pendekatan itu dinilai efektif di tengah masyarakat yang cenderung cepat bosan pada penyuluhan bernada menggurui. Pesan yang dibungkus dengan lelucon sederhana lebih mudah diingat, terutama oleh kalangan muda dan warga yang jarang bersentuhan langsung dengan aparat.

Namun, gaya jenaka juga menyimpan risiko. Dalam situasi tertentu, humor bisa disalahartikan sebagai bentuk kurangnya keseriusan dalam menangani persoalan. Karena itu, kemampuan membaca konteks menjadi kunci agar pendekatan tersebut tidak mengurangi wibawa institusi.

Pendekatan Humanis dalam Tugas Kepolisian

Selain soal gaya, Candra dikenal lewat penekanan pada pendekatan humanis dalam penanganan persoalan di masyarakat. Pola ini menempatkan dialog dan mediasi sebagai langkah awal sebelum mengambil tindakan represif. Bagi jajaran kepolisian di wilayah, arahan semacam itu menuntut kesabaran lebih, tetapi dinilai lebih menjaga stabilitas sosial dalam jangka panjang.

Di sisi lain, publik tetap menuntut hasil kerja yang terukur. Kesederhanaan dan keramahan tidak serta-merta menggantikan kebutuhan atas penegakan hukum yang tegas, terutama dalam kasus-kasus yang meresahkan warga. Kombinasi antara pendekatan humanis dan ketegasan menjadi ujian tersendiri bagi kepemimpinan di lingkungan Polresta Surakarta.

Pengamatan terhadap gaya seorang pejabat kepolisian memang tidak bisa dilepaskan dari konteks tugasnya. Citra yang terbangun di ruang publik selalu berhadapan dengan ekspektasi masyarakat terhadap kinerja. Dalam hal ini, gaya sederhana dan jenaka menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Ruang bagi Pola Kepemimpinan yang Lebih Dekat

Terlepas dari penilaian yang beragam, kemunculan figur dengan gaya seperti Candra menunjukkan adanya ruang bagi pola kepemimpinan yang lebih cair di institusi kepolisian. Pendekatan yang mengedepankan kedekatan personal dinilai relevan di tengah meningkatnya kebutuhan akan komunikasi publik yang efektif.

Bagi warga Surakarta, yang paling terasa bukanlah jabatan atau pangkat, melainkan bagaimana aparat hadir dalam persoalan sehari-hari. Gaya sederhana dan jenaka menjadi cara untuk mempersingkat jarak itu, sekaligus mengingatkan bahwa pelayanan publik tidak selalu harus tampil kaku.

Yang tersisa kemudian adalah penilaian atas kerja nyata. Sebab pada akhirnya, kesan ramah dan humor yang ringan hanya akan bertahan lama apabila didukung oleh kinerja yang konsisten, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter