Gempa Susulan di Nusa Tenggara Timur Terus Menerus, Warga Diminta Tetap Waspada
Sejak gempa bumi berkekuatan 6,9 magnitudo mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Rabu lalu, daerah tersebut terus diguncang oleh ratusan gempa susulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Jumat siang, telah terjadi lebih dari 400 gempa susulan dengan berbagai kekuatan.
Gempa utama yang berpusat di laut, 112 kilometer barat daya Kabupaten Manggarai Barat itu terjadi pada kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut dirasakan hingga ke beberapa wilayah di sekitarnya termasuk Pulau Sumba, Flores, dan sebagian wilayah Bali. Meskipun tidak menimbulkan korban jiawa, gempa ini menyebabkan kerusakan pada puluhan rumah warga dan beberapa fasilitas umum.
Data Terkini Gempa Susulan
Menurut rilis terbaru dari BMKG, gempa susulan terkuat terjadi pada Kamis dinihari dengan magnitudo 5,8. Gempa ini berpusat di lokasi yang sama dengan gempa utama, namun dengan kedalaman yang lebih dangkal, yaitu 5 kilometer. Gempa susulan ini juga dirasakan dengan cukup jelas oleh warga di beberapa kecamatan sekitar.
"Kami terus memantau aktivitas gempa di wilayah NTT. Hingga hari ini, sudah tercatat 412 gempa susulan dengan rentang magnitudo 3,0 hingga 5,8," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam konferensi pers virtual, Jumat (17/6).
Rahmat menjelaskan bahwa sebagian besar gempa susulan berada di kategori gempa bumi dangkal (shallow-focus earthquake) dengan kedalaman kurang dari 70 kilometer. Menurutnya, aktivitas gempa susulan ini masih termasuk dalam kondisi normal setelah terjadi gempa berkekuatan besar.
Dampak yang Ditimbulkan
Dampak dari gempa susulan ini terus dirasakan oleh warga di sekitar wilayah terdampak. Banyak warga yang masih memilih untuk tinggal di tenda darurat atau berkemah di area terbuka karena trauma akan gempa susulan yang terus terjadi.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan TNI/Polri telah membuka beberapa posko darurat di sejumlah titik untuk membantu warga. Posko ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengungsian sementara, tetapi juga pusko informasi dan pusko pelayanan kesehatan.
Sejak gempa utama terjadi, tim SAR gabungan telah diterjunkan untuk melakukan pengecekan di beberapa wilayah terdampak. Tim ini terdiri dari personel TNI/Polri, Basarnas, serta relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan.
Sementara itu, untuk mengantisipasi dampak jangka panjang, pemerintah daerah telah meminta ahli geologi dari beberapa universitas terkemuka untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai aktivitas tektonik di wilayah tersebut.
Amanah dan Waspada
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah NTT untuk tetap waspada meskipun aktivitas gempa susulan cenderung menurun. Masyarakat diminta untuk selalu memperhatikan informasi resmi dari BMKG dan tidak terpancing oleh isu hoaks yang beredar.
Untuk mengurangi risiko, pemerintah daerah juga mulai melakukan sosialisasi tentang bangunan tahan gempa kepada masyarakat. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat NTT, Budi Santoso, mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan bimbingan teknis kepada warga agar dapat memperkuat struktur rumah mereka.
Komentar (0)