08, 2026
Nasional

Gibran Tak Punya Ijazah Setara SMA, Gerindra Minta Masyarakat Berlapang Dada

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/07/01/6a44ab2e2182e-wapres-gibran-rakabuming-raka_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Budi Gunawan
Budi Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan publik menyusul terungkapnya fakta bahwa ia tidak memiliki ijazah setara Sekolah Menengah Atas (SMA). Isu ini mencuat ke permukaan setelah sejumlah pihak mempertanyakan kelengkapan dokumen pendidikan orang nomor dua di Indonesia tersebut, terutama kaitannya dengan syarat pencalonan pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2024 lalu.

Partai Gerindra selaku partai pendukung utama pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pun angkat bicara. Mereka meminta masyarakat untuk bersikap lapang dada dan tidak menjadikan persoalan ini sebagai bahan perdebatan berkepanjangan yang bisa mengganggu stabilitas politik nasional.

Syarat Pendidikan dalam Aturan Pencalonan

Dalam peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan umum, setiap calon presiden dan wakil presiden memang diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan, salah satunya adalah pendidikan minimal. Ketentuan tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum beserta perubahannya, yang mensyaratkan calon kepala negara dan wakil kepala negara memiliki latar belakang pendidikan tertentu.

Persoalan muncul ketika publik mempertanyakan apakah pendidikan yang ditempuh Gibran memenuhi ambang batas yang dimaksud. Sejumlah pengamat hukum tata negara menilai perlu ada klarifikasi resmi dari lembaga penyelenggara pemilu mengenai verifikasi dokumen yang dilakukan pada masa pendaftaran calon. Mereka menekankan pentingnya transparansi agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat.

Respons Partai Pendukung

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, menyatakan bahwa pihaknya menghormati proses yang sedang berjalan. Menurutnya, seluruh dokumen yang diserahkan saat pendaftaran telah melalui mekanisme verifikasi yang berlaku. Ia menilai polemik ini sebaiknya tidak dibesar-besarkan dan meminta semua pihak menunggu penjelasan resmi dari instansi berwenang.

"Kami meminta masyarakat berlapang dada dan melihat rekam jejak serta kinerja Pak Gibran selama menjabat. Fokus kita seharusnya pada kontribusi nyata bagi pembangunan, bukan pada hal-hal administratif yang sudah diverifikasi sesuai aturan," ujar Habiburokhman dalam keterangan persnya di Jakarta.

Ia juga menegaskan bahwa koalisi pendukung pemerintah tetap solid dan tidak terpengaruh oleh isu tersebut. Menurutnya, pemerintahan saat ini memiliki agenda besar yang harus dijalankan, sehingga energi bangsa sebaiknya diarahkan pada hal-hal produktif.

Pandangan Pengamat dan Sektor Hukum

Di sisi lain, sejumlah pengamat politik menilai isu ini menyentuh ranah integritas dan legalitas proses demokrasi. Mereka mengingatkan bahwa persyaratan pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya memastikan kualitas kepemimpinan nasional. Jika terbukti ada kekeliruan dalam verifikasi, maka hal itu berpotensi menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan pemilu di masa mendatang.

Pakar hukum tata negara dari Universitas Indonesia, Titi Anggraini, menyebut bahwa publik berhak mendapatkan penjelasan yang utuh mengenai dokumen pencalonan setiap kandidat. Menurutnya, keterbukaan informasi merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan terhadap institusi demokrasi. Ia mendorong agar KPU dan Bawaslu memberikan klarifikasi berbasis dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dampak terhadap Stabilitas Politik

Meski menjadi perbincangan hangat di ruang publik dan media sosial, sejauh ini isu tersebut belum memicu gejolak politik yang signifikan. Aktivitas pemerintahan berjalan normal, dan agenda kenegaraan tetap berlangsung sesuai jadwal. Namun, pengamat menilai pemerintah perlu mengelola komunikasi publik dengan baik agar polemik tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan.

Sejumlah anggota DPR dari berbagai fraksi juga mendesak adanya penjelasan resmi. Mereka menilai klarifikasi terbuka akan meredam spekulasi dan menjaga kondusivitas menjelang berbagai agenda politik mendatang. Di sisi lain, sebagian politikus menilai persoalan ini lebih bersifat administratif dan tidak perlu dibawa ke ranah politik praktis.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi langsung dari Gibran Rakabuming Raka maupun dari Komisi Pemilihan Umum mengenai substansi persoalan ijazah tersebut. Publik masih menantikan penjelasan komprehensif yang dapat menjawab keraguan sekaligus menegaskan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan hukum yang berlaku.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Gunawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter