07, 2026
Teknologi

Hadapi Tantangan AI di Sektor Pendidikan, Pemerintah Didorong Berinvestasi Pada Profesionalitas Guru

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/06/6ac4bc7882012-ilustrasi-ai_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Eka Kusuma
Eka Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang kian pesat di sektor pendidikan menuntut pemerintah untuk mengalihkan fokus investasi dari sekadar pengadaan perangkat teknologi ke penguatan profesionalitas guru. Tekanan ini mencuat seiring masuknya berbagai perangkat berbasis AI ke ruang kelas, mulai dari sistem pembelajaran adaptif, asisten virtual, hingga alat penilaian otomatis yang mengubah lanskap cara mengajar dan belajar.

Sejumlah pengamat pendidikan menilai kehadiran AI tidak bisa diperlakukan semata sebagai persoalan teknis. Tanpa kesiapan guru, teknologi yang mahal berpotensi menjadi beban tambahan, bukan solusi. Guru disebut berada di garis depan yang menentukan apakah AI akan memperkuat proses belajar atau justru memperlebar ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah.

AI Ubah Peran Guru, Bukan Gantikan

Dalam berbagai diskusi publik, AI sering digambarkan sebagai ancaman bagi profesi guru. Namun sejumlah praktisi menegaskan teknologi ini lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu yang mengubah peran guru, bukan menggantikannya. Tugas rutin seperti penyusunan soal, koreksi pekerjaan rumah, dan penyusunan materi dasar dapat diotomatisasi, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk pendampingan personal, pembinaan karakter, dan interaksi langsung dengan murid.

Perubahan peran itu menuntut kompetensi baru. Guru tidak cukup hanya mampu mengoperasikan perangkat lunak, tetapi juga perlu memahami cara kerja algoritma, membaca data hasil belajar, dan menilai secara kritis keluaran yang dihasilkan mesin. Keterampilan literasi digital dan literasi data menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pelengkap.

Kesenjangan Kompetensi dan Infrastruktur

Persoalan bertambah rumit karena kesenjangan kompetensi dan infrastruktur masih lebar. Di sejumlah daerah, guru menghadapi keterbatasan akses internet, perangkat, dan listrik yang stabil. Di wilayah lain, pelatihan teknologi kerap bersifat seremonial, berhenti pada sosialisasi tanpa pendampingan berkelanjutan. Akibatnya, adopsi AI cenderung menumpuk di sekolah-sekolah dengan sumber daya memadai.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran munculnya jurang digital baru. Sekolah di kota besar dengan fasilitas lengkap dapat memanfaatkan AI untuk mempercepat pembelajaran, sementara sekolah di daerah tertinggal justru tertinggal semakin jauh. Tanpa intervensi kebijakan yang berpihak, teknologi berpotensi mereproduksi ketimpangan yang sudah ada.

Investasi pada Guru sebagai Prioritas

Karena itu, dorongan agar pemerintah berinvestasi pada profesionalitas guru menjadi kian menguat. Investasi yang dimaksud mencakup pelatihan berkelanjutan, pengembangan komunitas belajar antarguru, penyediaan mentor teknologi, serta insentif bagi guru yang mampu mengintegrasikan AI secara efektif dalam pembelajaran. Pendekatan satu kali pelatihan dinilai tidak memadai karena teknologi AI berkembang sangat cepat.

Selain itu, dibutuhkan kerangka etika dan panduan penggunaan AI di sekolah. Guru perlu memahami batas-batas penggunaan data murid, risiko bias algoritma, serta pentingnya menjaga privasi dan martabat peserta didik. Tanpa rambu-rambu yang jelas, adopsi AI berisiko menimbulkan masalah baru, termasuk pelanggaran data dan ketergantungan berlebihan pada mesin.

Kolaborasi dan Evaluasi Berkelanjutan

Upaya penguatan profesionalitas guru juga menuntut kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi guru, dan penyedia teknologi perlu bekerja bersama menyusun kurikulum pelatihan yang relevan dengan konteks lokal. Evaluasi berkala penting agar program tidak berhenti sebagai proyek sesaat, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan integrasi AI di dunia pendidikan tidak ditentukan oleh kecanggihan perangkat, melainkan oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Guru yang profesional, adaptif, dan didukung kebijakan yang tepat adalah kunci agar teknologi benar-benar meningkatkan mutu pembelajaran, bukan sekadar menambah lapisan kerumitan baru.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eka Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter