07, 2026
Teknologi

Kepala BRIN Bawa Visi Besar Prabowo soal IPTEK di STS Forum Kyoto

Kepala BRIN Arif Satria paparkan visi Prabowo tentang penguatan sains dan teknologi di forum internasional. Kerja sama global penting untuk kemajuan Indonesia.]]>

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kepala BRIN Bawa Visi Besar Prabowo soal IPTEK di STS Forum Kyoto

Kepala BRIN Bawa Visi Besar Prabowo soal IPTEK di STS Forum Kyoto

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membawa visi besar Presiden Prabowo Subianto di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ke panggung internasional STS Forum di Kyoto, Jepang. Forum ilmiah bergengsi yang mempertemukan para pemimpin dunia, ilmuwan, dan pembuat kebijakan itu menjadi momentum bagi Indonesia untuk menegaskan arah pembangunan berbasis riset dan inovasi di bawah kepemimpinan Prabowo.

Kehadiran Kepala BRIN dalam ajang tersebut menandai langkah konkret Indonesia memperkuat posisinya dalam peta IPTEK global. Visi yang dibawa bukan sekadar retorika, melainkan komitmen bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi ditempatkan sebagai fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Pemerintahan Prabowo menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak dapat lagi bertumpu pada sumber daya alam semata, melainkan harus digerakkan oleh penguasaan teknologi dan inovasi.

STS Forum sebagai Panggung Strategis

Science and Technology in Society (STS) Forum merupakan pertemuan tahunan yang menghimpun ratusan tokoh dari berbagai negara, termasuk peraih Nobel, kepala lembaga riset, menteri, hingga pelaku industri. Forum ini dikenal sebagai ruang dialog lintas sektor yang membahas bagaimana sains dan teknologi dapat menjawab tantangan global, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, energi, hingga kesehatan.

Dalam forum tersebut, Kepala BRIN menyampaikan sejumlah poin utama visi Prabowo. Pertama, penguatan ekosistem riset nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Kedua, peningkatan kolaborasi internasional untuk mempercepat alih teknologi. Ketiga, hilirisasi hasil riset agar berdampak langsung pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Keempat, pengembangan sumber daya manusia unggul di bidang sains dan teknologi.

Kolaborasi Internasional Jadi Kunci

Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya kerja sama lintas negara dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar dan sumber daya alam melimpah, dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi mitra riset utama di kawasan. Kolaborasi tidak hanya berarti menerima transfer teknologi, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dunia.

Pemerintahan Prabowo memandang kemitraan global sebagai jalan untuk mempercepat penguasaan teknologi di sektor-sektor prioritas, seperti energi terbarukan, pangan, kesehatan, dan teknologi digital. Forum di Kyoto menjadi sarana menjajaki peluang kerja sama dengan berbagai lembaga riset dan universitas terkemuka dunia.

Riset Harus Berdampak Nyata

Dalam berbagai kesempatan, visi Prabowo menegaskan bahwa riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Hasil riset harus mampu menjawab persoalan riil masyarakat, seperti ketersediaan pangan, akses energi bersih, dan layanan kesehatan yang terjangkau. BRIN didorong menjadi motor hilirisasi inovasi yang melibatkan industri, UMKM, dan pemerintah daerah.

Pendekatan ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menempatkan industrialisasi dan hilirisasi sebagai pilar utama. Teknologi menjadi alat untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing bangsa di pasar global.

Pengembangan SDM Unggul

Visi besar IPTEK juga menyentuh aspek sumber daya manusia. Prabowo menekankan pentingnya mencetak generasi ilmuwan, peneliti, dan teknisi yang kompeten. Investasi pada pendidikan sains, beasiswa riset, serta penguatan budaya inovasi sejak dini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi nasional.

BRIN berperan sebagai rumah besar bagi para peneliti Indonesia. Melalui berbagai program, lembaga ini mendorong mobilitas peneliti, kolaborasi antardisiplin, dan pengembangan karier di bidang riset. Keterlibatan generasi muda diyakini menjadi penentu keberhasilan transformasi berbasis ilmu pengetahuan.

Dampak bagi Posisi Indonesia

Keikutsertaan dalam forum internasional seperti STS Forum memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang serius membangun IPTEK. Diplomasi ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting dalam politik luar negeri, sekaligus membuka pintu bagi investasi di sektor teknologi dan riset.

Dengan membawa visi Prabowo ke panggung global, Indonesia menegaskan bahwa pembangunan berbasis IPTEK bukan proyek jangka pendek, melainkan agenda jangka panjang yang memerlukan konsistensi, kolaborasi, dan keberpihakan pada inovasi. Langkah ini diharapkan mempercepat terwujudnya Indonesia yang berdaulat, maju, dan berdaya saing di era ekonomi pengetahuan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter