21, 2026
Nasional

Harta Karun Panas Bumi RI Melimpah, Mengapa Sulit Digali?

Indonesia memiliki potensi energi panas bumi besar, namun pengembangannya terhambat biaya tinggi dan risiko pengeboran. PGE targetkan kapasitas 1 GW pada 2028.]]>

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harta Karun Panas Bumi RI Melimpah, Mengapa Sulit Digali?

Indonesia menyimpan salah satu cadangan energi panas bumi terbesar di dunia. Berada di jalur Cincin Api Pasifik dengan ratusan gunung berapi aktif, negeri ini diperkirakan memiliki potensi panas bumi mencapai sekitar 23 hingga 24 gigawatt (GW). Angka itu menempatkan Indonesia di posisi teratas bersama Amerika Serikat. Namun hingga kini, kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi nasional baru berkisar 2,4 sampai 2,6 GW, atau sekitar sepuluh persen dari total potensi yang tersedia.

Kesenjangan besar antara potensi dan realisasi itu menjadi pertanyaan lama dalam peta energi nasional. Panas bumi dikenal sebagai sumber listrik yang stabil, tidak bergantung cuaca, dan mampu menjadi beban dasar atau baseload. Karakteristik itu membuat panas bumi kerap disebut sebagai primadona energi terbarukan. Meski demikian, pengembangannya berjalan lebih lambat dibanding tenaga surya dan angin yang kapasitasnya tumbuh cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Potensi Terbesar di Jalur Gunung Berapi

Sebaran potensi panas bumi Indonesia membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku. Jawa dan Sumatera menjadi dua wilayah dengan cadangan terbesar. Sejumlah lapangan panas bumi yang sudah beroperasi antara lain berada di Kamojang, Darajat, Wayang Windu, Dieng, Lahendong, Ulubelu, Sarulla, dan Sorik Marapi.

Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas panas bumi secara bertahap melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Panas bumi juga menjadi salah satu pilar dalam strategi menuju net zero emission pada 2060, bersama tenaga air, surya, angin, dan bioenergi. Dalam berbagai dokumen perencanaan, panas bumi diposisikan sebagai penyangga utama karena mampu memasok listrik tanpa henti sepanjang hari.

Mengapa Sulit Digali

Hambatan pertama dan paling mendasar adalah risiko eksplorasi. Untuk mengetahui apakah suatu lapangan layak dikembangkan, perusahaan harus mengebor sumur eksplorasi dengan biaya sangat besar. Satu sumur bisa menelan puluhan juta dolar Amerika Serikat, dan hasilnya belum tentu sesuai perkiraan. Jika sumur kering atau temperatur reservoir lebih rendah dari dugaan, investasi tersebut hangus tanpa jaminan pengembalian.

Risiko itu membuat perbankan dan investor enggan membiayai tahap awal. Mereka umumnya baru mau masuk setelah sumber daya terbukti. Akibatnya, tahap paling berisiko justru menjadi tahap yang paling sulit mendapat dana. Skema government drilling atau pengeboran eksplorasi oleh pemerintah sebenarnya sudah dirancang untuk menutup celah ini, tetapi pelaksanaannya membutuhkan waktu, anggaran, dan kapasitas teknis yang tidak kecil.

Perizinan dan Pembebasan Lahan

Hambatan berikutnya menyangkut tata kelola. Lokasi panas bumi sering berada di kawasan hutan lindung, taman nasional, atau wilayah adat. Proses perizinan lintas kementerian dan pemerintah daerah memakan waktu panjang. Pembebasan lahan untuk sumur, pipa, dan jalan akses kerap menemui hambatan sosial. Di sejumlah proyek, persoalan ini menunda jadwal operasi komersial hingga bertahun-tahun.

Pemerintah telah memasukkan sejumlah proyek panas bumi ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional untuk mempercepat perizinan. Berbagai regulasi juga direvisi agar kewenangan perizinan lebih terpusat. Meski begitu, pelaksanaan di lapangan tetap menghadapi kompleksitas karena setiap daerah memiliki kondisi sosial, lingkungan, dan administratif yang berbeda.

Keekonomian Tarif

Persoalan tarif juga menjadi titik sensitif. Biaya produksi listrik panas bumi relatif tinggi pada tahap awal karena besarnya belanja modal. Di sisi lain, harga jual listrik harus tetap terjangkau bagi konsumen. Pemerintah berupaya menyeimbangkan keduanya melalui penetapan tarif khusus, dukungan fiskal, serta skema pembelian listrik yang memberi kepastian bagi pengembang.

Perubahan aturan yang terlalu sering membuat pelaku usaha sulit menghitung kelayakan proyek dalam jangka panjang. Panas bumi adalah investasi berumur puluhan tahun, sehingga kepastian regulasi menjadi faktor penentu. Pengembang menuntut kontrak yang stabil, mekanisme penyesuaian yang jelas, dan penyelesaian sengketa yang cepat.

Infrastruktur dan Koneksi Jaringan

Kendala lain adalah letak sumber panas bumi yang sering jauh dari pusat permintaan listrik. Pembangunan saluran transmisi membutuhkan biaya tambahan dan waktu konstruksi. Tanpa jaringan yang memadai, listrik dari pembangkit panas bumi tidak dapat disalurkan secara optimal. Di beberapa wilayah, kapasitas jaringan justru menjadi penghambat karena sudah mendekati batas.

Selain itu, kapasitas industri nasional untuk memproduksi komponen pembangkit masih terbatas. Ketentuan penggunaan komponen dalam negeri mendorong pertumbuhan industri lokal, tetapi pada tahap awal turut menambah biaya dan memperpanjang proses pengadaan turbin serta peralatan utama lainnya.

Peluang di Tengah Tekanan Transisi Energi

Meski menghadapi banyak hambatan, tekanan untuk meninggalkan energi fosil membuka ruang baru bagi panas bumi. Komitmen pendanaan transisi energi dari sejumlah negara dan lembaga internasional disebut dapat dimanfaatkan untuk menutup kesenjangan pembiayaan, termasuk pada tahap eksplorasi yang selama ini menjadi penghambat utama.

Pengembangan teknologi juga diharapkan menekan biaya. Metode pengeboran yang lebih efisien, pemanfaatan data geosains yang lebih presisi, serta pengembangan panas bumi skala kecil untuk wilayah terpencil menjadi opsi yang terus dikaji. Skema pemanfaatan bersama, di mana panas bumi dipadukan dengan hidrogen hijau atau industri lain, juga mulai dilirik.

Dengan potensi yang tersedia, persoalan utama bukan lagi soal ketersediaan sumber daya, melainkan kemampuan mengelola risiko, menyederhanakan birokrasi, dan menjaga konsistensi kebijakan. Selama tiga hal itu belum tuntas, harta karun panas bumi Indonesia akan tetap tersimpan di bawah tanah, menunggu untuk benar-benar digali.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter