30, 2026
Politik

Harta Karun Tanah Jarang 15,9 Juta Ton di Norwegia Segera Digali

Pemerintah Norwegia mengumumkan niatnya untuk menyelesaikan rencana eksploitasi 'harta karun' cadangan logam tanah jarang.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harta Karun Tanah Jarang 15,9 Juta Ton di Norwegia Segera Digali

Norwegia Siap Mengeksplorasi Harta Karun Tanah Jarang 15,9 Juta Ton

Norwegia tengah bersiap membuka lembaran baru dalam industri pertambangan global. Negara Skandinavia itu dilaporkan akan segera memulai eksplorasi dan penambangan cadangan logam tanah jarang (rare earth elements/REE) dalam jumlah besar yang diperkirakan mencapai 15,9 juta ton. Cadangan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan salah satu lokasi utama berada di kompleks batuan karbonatit Fensfeltet, dekat Kota Ulefoss, Norwegia tenggara.

Penemuan dan rencana eksploitasi ini mendapat perhatian luas karena logam tanah jarang merupakan komponen krusial dalam berbagai teknologi modern, mulai dari magnet permanen untuk turbin angin dan kendaraan listrik, hingga perangkat elektronik, sistem pertahanan, dan teknologi medis. Selama ini pasokan global logam tanah jarang sangat bergantung pada Tiongkok, yang menguasai sekitar 60 hingga 70 persen produksi tambang dunia dan hampir 90 persen kapasitas pemurnian.

Dominasi Tiongkok dan Dorongan Diversifikasi

Ketergantungan dunia terhadap Tiongkok dalam rantai pasok logam tanah jarang telah lama menjadi kekhawatiran bagi negara-negara Barat. Uni Eropa, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain gencar mencari sumber alternatif guna mengurangi risiko gangguan pasokan, terutama di tengah ketegangan geopolitik dan perang dagang yang memanas dalam beberapa tahun terakhir.

Uni Eropa telah memasukkan logam tanah jarang ke dalam daftar bahan baku kritis (critical raw materials) yang dianggap vital bagi perekonomian dan keamanan kawasan. Norwegia, meski bukan anggota Uni Eropa, merupakan bagian dari Kawasan Ekonomi Eropa (EEA) dan memiliki kedekatan ekonomi dengan blok tersebut. Karena itu, potensi cadangan di Fensfeltet dinilai dapat menjadi salah satu penopang pasokan bagi Eropa di masa depan.

Perusahaan yang menggarap proyek ini, Rare Earths Norway (REN), mengumumkan bahwa estimasi sumber daya di Fensfeltet mencapai 15,9 juta ton total rare earth oxides (TREO). Angka itu menempatkan deposit tersebut sebagai salah satu yang terbesar di Eropa, bahkan diklaim melampaui cadangan yang diketahui di kawasan kontinen tersebut. Sekitar 17 persen dari total estimasi tersebut merupakan magnet rare earth elements, yakni kelompok logam yang paling dicari untuk aplikasi teknologi tinggi.

Tantangan Teknis, Ekonomi, dan Lingkungan

Meski menjanjikan, realisasi penambangan logam tanah jarang tidaklah sederhana. Proses ekstraksi dan pemurnian REE dikenal kompleks, memakan biaya besar, dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Logam-logam ini sering ditemukan dalam konsentrasi kecil sehingga memerlukan pengolahan bijih dalam jumlah besar untuk menghasilkan produk yang layak secara ekonomi.

Selain itu, aspek radioaktivitas menjadi perhatian tersendiri. Beberapa mineral pembawa logam tanah jarang, seperti monasit dan bastnasit, mengandung torium dan uranium dalam kadar tertentu. Pengelolaan limbah radioaktif aktif menjadi tantangan regulasi yang ketat, terutama di negara dengan standar lingkungan setinggi Norwegia.

Pemerintah Norwegia dan pihak perusahaan menyatakan komitmen untuk menerapkan praktik penambangan yang bertanggung jawab, termasuk studi kelayakan yang menyeluruh, keterlibatan masyarakat lokal, serta evaluasi dampak lingkungan yang transparan. Namun, kalangan pemerhati lingkungan tetap mendesak agar proyek ini tidak mengorbankan ekosistem dan kualitas hidup warga sekitar.

Prospek Ekonomi dan Geopolitik

Jika berhasil beroperasi secara komersial, proyek Fensfeltet dapat mengubah peta pasokan logam tanah jarang global. Norwegia berpotensi menjadi pemain penting di pasar yang selama ini didominasi Tiongkok, sekaligus memperkuat posisi Eropa dalam transisi energi hijau. Permintaan terhadap REE diproyeksikan terus meningkat seiring percepatan adopsi kendaraan listrik, pembangkit listrik tenaga angin, dan teknologi rendah karbon lainnya.

Namun, jalan menuju produksi penuh masih panjang. Tahapan eksplorasi lanjutan, studi kelayakan, perizinan, pembangunan infrastruktur, hingga konstruksi fasilitas pengolahan membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi besar. Meski demikian, pengumuman cadangan 15,9 juta ton ini telah menjadi sinyal kuat bahwa Norwegia serius memposisikan diri dalam rantai pasok strategis abad ke-21.

Dengan kombinasi kekayaan geologis, stabilitas politik, dan komitmen terhadap keberlanjutan, Norwegia berpeluang menawarkan alternatif pasokan yang lebih terpercaya bagi pasar global. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada keseimbangan antara ambisi ekonomi, kepatuhan lingkungan, dan penerimaan sosial dari masyarakat setempat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter