Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Bachtiar Najamudin menyatakan kebanggaannya terhadap capaian Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berhasil mewujudkan swasembada beras nasional tiga tahun lebih cepat dari target yang ditetapkan. Pernyataan tersebut disampaikan Hashim di Jakarta, menyusul pengumuman resmi pemerintah mengenai surplus produksi beras yang mencapai angka signifikan pada musim tanam tahun ini.
Menurut Hashim, percepatan pencapaian swasembada beras merupakan hasil kerja keras seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani, penyuluh pertanian, hingga kementerian terkait yang bergerak di bawah komando Presiden Prabowo. Ia menilai keberhasilan ini sebagai tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia, mengingat selama bertahun-tahun negara masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan beras domestik.
Peran Strategis Sektor Pertanian dalam Ketahanan Nasional
Hashim menegaskan bahwa swasembada beras bukan sekadar pencapaian ekonomi, melainkan juga persoalan kedaulatan bangsa. Menurutnya, negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangan pokoknya secara mandiri memiliki posisi tawar lebih kuat dalam menghadapi gejolak pasar global, krisis iklim, maupun ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok pangan internasional.
Ia menyoroti bahwa sektor pertanian menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi tulang punggung perekonomian di banyak daerah, terutama di kawasan pedesaan. Karena itu, percepatan swasembada beras diharapkan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani, pengurangan kemiskinan di perdesaan, serta penguatan daya beli masyarakat.
DPD RI, lanjut Hashim, akan terus mendorong kebijakan yang berpihak pada petani, termasuk melalui fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran sektor pertanian, distribusi pupuk bersubsidi, serta perbaikan irigasi dan infrastruktur pendukung di daerah-daerah sentra produksi. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa keberhasilan swasembada tidak bersifat sesaat, melainkan berkelanjutan dari tahun ke tahun.
Faktor Pendorong Percepatan Swasembada
Sejumlah faktor disebut berperan besar dalam percepatan pencapaian swasembada beras. Pertama, perluasan areal tanam melalui program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan tidur di sejumlah provinsi. Kedua, penggunaan benih unggul bersertifikat yang meningkatkan produktivitas per hektare. Ketiga, modernisasi sistem irigasi serta bantuan alsintan berupa traktor, pompa air, dan mesin panen yang mempercepat proses budidaya hingga pascapanen.
Selain itu, kebijakan harga pembelian pemerintah yang menjaga tingkat keuntungan petani turut memberi insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. Pemerintah juga memperkuat sistem resi gudang dan cadangan beras pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di pasar, sehingga gejolak harga dapat diredam pada musim panen maupun musim paceklik.
Hashim menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci. Menurutnya, percepatan swasembada tidak mungkin terwujud tanpa koordinasi yang solid antara kementerian, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, serta aparat desa yang bersentuhan langsung dengan petani di lapangan.
Tantangan yang Masih Menghadapi
Meski capaian swasembada patut diapresiasi, Hashim mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, serangan hama dan penyakit tanaman, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman, serta regenerasi petani yang melambat menjadi sejumlah persoalan yang harus diantisipasi sejak dini.
Ia mendorong pemerintah memperkuat riset dan pengembangan varietas tahan iklim, memperluas asuransi usaha tani, serta memberikan insentif bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian modern berbasis teknologi. Menurutnya, pertanian masa depan harus bertumpu pada presisi, digitalisasi, dan efisiensi agar produktivitas terus meningkat tanpa menambah beban lingkungan.
Hashim juga meminta pemerintah menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani. Pasalnya, keberhasilan produksi tidak otomatis menjamin kesejahteraan petani apabila harga jual jatuh pada saat panen raya. Karena itu, peran Bulog dan lembaga penyerap hasil panen perlu diperkuat agar petani memperoleh harga yang layak.
Harapan untuk Masa Depan Ketahanan Pangan
Ke depan, Hashim berharap capaian swasembada beras dapat menjadi fondasi bagi kemandirian pangan yang lebih luas, mencakup komoditas lain seperti jagung, kedelai, gula, dan daging. Ia menilai diversifikasi pangan juga penting agar ketergantungan pada satu komoditas dapat dikurangi dan gizi masyarakat lebih beragam.
DPD RI, kata dia, siap bersinergi dengan pemerintah dan DPR dalam menyusun regulasi yang mendukung ketahanan pangan jangka panjang, termasuk perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Menurutnya, undang-undang yang mengatur perlindungan lahan pertanian harus dijalankan secara konsisten agar pencapaian swasembada tidak tergerus oleh alih fungsi lahan.
Hashim menutup dengan pesan agar seluruh elemen bangsa menjaga momentum ini. Menurutnya, swasembada beras adalah hasil kerja kolektif dan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri di bidang pangan apabila seluruh kekuatan bangsa bersatu dan bekerja dengan disiplin.
Komentar (0)