Legenda sepak bola Jerman yang kini menjadi komentator dan pengamat internasional, Thomas Hubner, angkat bicara membela pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, di tengah sorotan tajam yang mengarah kepada juru taktik asal Inggris tersebut. Pembelaan itu muncul setelah Indonesia memastikan diri melaju ke partai final FIFA ASEAN Cup 2026, sebuah pencapaian bersejarah yang justru tidak lepas dari kritik sejumlah pihak terkait gaya permainan dan pilihan taktik Herdman sepanjang turnamen.
Hubner, yang dikenal vokal dalam mengamati perkembangan sepak bola Asia, menilai kritik terhadap Herdman banyak yang keluar dari konteks. Menurutnya, publik sering kali menilai hasil akhir tanpa memahami proses pembangunan tim yang tengah dijalankan pelatih berusia 49 tahun itu sejak mengambil alih kursi kepelatihan Timnas Indonesia.
Kritik yang Dianggap Tidak Proporsional
Sepanjang perjalanan Indonesia menuju final, Herdman beberapa kali mendapat sorotan, mulai dari keputusan rotasi pemain, pendekatan defensif pada laga-laga tertentu, hingga gaya komunikasinya di ruang pers. Sebagian pengamat dalam negeri menilai Indonesia terlalu bergantung pada serangan balik dan kurang dominan dalam penguasaan bola, terutama saat menghadapi tim-tim yang secara peringkat FIFA berada di bawah Garuda.
Hubner menilai kritik semacam itu tidak proporsional. Ia menegaskan bahwa sepak bola turnamen berbeda dengan kompetisi liga yang menuntut konsistensi panjang. Dalam format turnamen singkat, kata dia, hasil adalah yang utama, dan Herdman berhasil menghadirkan hasil itu.
"Orang-orang lupa bahwa sepak bola turnamen adalah tentang manajemen risiko, bukan sekadar estetika. Herdman tahu persis kapan timnya harus menekan dan kapan harus bertahan. Itu bukan kelemahan, itu kecerdasan taktik," ujar Hubner dalam pernyataannya kepada media internasional.
Rekam Jejak Herdman di Panggung Asia
Herdman bukan nama baru di sepak bola internasional. Sebelum menangani Indonesia, ia membangun reputasi bersama tim nasional Kanada, membawa negara itu kembali ke putaran final Piala Dunia setelah absen selama 36 tahun. Pencapaian tersebut membuatnya dianggap sebagai salah satu pelatih paling progresif di kawasan CONCACAF.
Sejak menangani Indonesia, Herdman menghadapi tantangan berat berupa ekspektasi tinggi dari publik sepak bola nasional yang haus prestasi di level regional maupun kontinental. Ia harus membangun ulang fondasi tim, memadukan pemain senior berpengalaman dengan talenta muda yang berlaga di liga dalam negeri dan luar negeri.
Hubner menyebut proses itu tidak bisa dinilai hanya dari satu atau dua pertandingan. Menurutnya, jejak Herdman di Kanada membuktikan bahwa ia mampu membangun tim yang kompetitif dalam jangka panjang, asalkan diberi ruang dan waktu yang cukup tanpa tekanan berlebihan dari luar.
Pencapaian ke Final sebagai Bukti Kerja
Melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi argumen terkuat Herdman dalam menghadapi para pengkritik. Sepanjang turnamen, Indonesia menunjukkan ketangguhan mental, terutama saat menghadapi tekanan di laga-laga krusial. Beberapa pertandingan harus diselesaikan melalui drama gol di menit akhir dan adu penalti, yang menurut Hubner menunjukkan karakter tim yang dibangun Herdman.
"Tim yang bisa bertahan di bawah tekanan dan tetap tenang dalam situasi kritis bukan tim yang dibangun secara instan. Itu hasil kerja keras di lapangan latihan, kerja pada mentalitas, dan kepercayaan antara pelatih dan pemain," kata Hubner.
Ia juga menyoroti kemampuan Herdman dalam melakukan penyesuaian taktik di tengah pertandingan. Perubahan formasi dan pergantian pemain yang dilakukan pelatih asal Inggris itu, menurut Hubner, sering kali mengubah jalannya pertandingan, meski tidak selalu terlihat mencolok di statistik penguasaan bola.
Tekanan Publik dan Budaya Sepak Bola Asia Tenggara
Hubner menyadari bahwa melatih tim nasional di Asia Tenggara memiliki tantangan tersendiri. Antusiasme publik yang luar biasa besar sering kali berbanding lurus dengan ekspektasi yang tidak realistis. Di Indonesia, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas kolektif yang melibatkan emosi jutaan orang.
Dalam konteks itu, Hubner menilai Herdman perlu diberi stabilitas. Ia mengingatkan bahwa banyak proyek sepak bola nasional gagal bukan karena pelatihnya tidak kompeten, melainkan karena terlalu sering ganti arah dan tidak konsisten dalam memberi dukungan.
"Kalau Anda ingin hasil jangka panjang, Anda harus berhenti menghakimi pelatih setiap kali ada satu hasil buruk. Bangunlah budaya kesabaran. Itu yang membedakan negara-negara yang berhasil membangun tim kuat dengan yang terus berputar di tempat," tegasnya.
Fokus ke Final
Dengan pembelaan tersebut, Hubner berharap sorotan publik justru diarahkan pada laga final yang akan menentukan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026. Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menutup turnamen dengan trofi, asalkan para pemain tetap fokus dan tidak terpengaruh tekanan dari luar lapangan.
Bagi Hubner, pencapaian Herdman bersama Indonesia sejauh ini sudah layak diapresiasi. Terlepas dari hasil akhir di partai puncak, ia menilai fondasi yang dibangun saat ini bisa menjadi modal penting bagi Garuda dalam menghadapi agenda-agenda besar berikutnya, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan turnamen regional mendatang.
"Final adalah kesempatan, bukan beban. Nikmati saja, lalu lihat apa yang terjadi," pungkas Hubner.
Komentar (0)