Jusuf Hamka Dilantik sebagai Anggota Wantimpres, Singgung Nasib Anak Jalanan
Tokoh pengusaha nasional Jusuf Hamka resmi dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan tersebut menandai babak baru karier pria yang akrab disapa Babah Alun itu di dunia pemerintahan setelah sekian lama dikenal sebagai pengusaha di sektor infrastruktur jalan tol. Usai upacara pelantikan, ia langsung menyampaikan pernyataan singkat kepada awak media mengenai alasan menerima amanah tersebut.
Dalam keterangannya, Jusuf Hamka menyinggung soal rezeki yang ia yakini datang dari Allah SWT. Ia memandang jabatan yang diberikan kepadanya bukan semata-mata hasil kerja keras atau kedekatan dengan kekuasaan, melainkan bagian dari rezeki yang telah digariskan. Menurutnya, jabatan sebagai anggota Wantimpres adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar posisi kehormatan tanpa kontribusi nyata.
Filosofi Rezeki dan Keberpihakan pada Kaum Lemah
Jusuf Hamka secara khusus menyebut istilah "rezeki anak jalanan" dalam pernyataannya. Ungkapan itu mencerminkan pandangan hidupnya yang selama ini lekat dengan aktivitas sosial dan kedermawanan. Ia dikenal sering turun langsung membantu masyarakat kecil, mulai dari memberi santunan, membagikan makanan, hingga membiayai berbagai kegiatan sosial. Baginya, keberkahan hidup tidak diukur dari besarnya kekayaan yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan orang lain, terutama mereka yang hidup di jalanan.
Pernyataan tersebut juga dapat dibaca sebagai pesan bahwa posisi di pemerintahan seharusnya membuka ruang lebih luas untuk memperjuangkan kepentingan kelompok marjinal. Ia menegaskan bahwa jabatan yang diembannya akan dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil, bukan untuk memperbesar kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Menurutnya, seorang pejabat harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Latar Belakang dan Rekam Jejak
Sebelum masuk ke dunia pemerintahan, Jusuf Hamka telah lama dikenal sebagai pengusaha yang menggarap sejumlah proyek jalan tol di berbagai daerah. Di luar dunia bisnis, ia aktif dalam kegiatan filantropi dan beberapa kali menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dianggap memberatkan rakyat. Gaya bicaranya yang blak-blakan dan kebiasaannya berbaur langsung dengan warga membuatnya memiliki basis massa tersendiri, terutama di kalangan masyarakat bawah.
Kehadirannya di Wantimpres dipandang sebagai representasi suara pengusaha yang memiliki kepedulian sosial. Sejumlah kalangan berharap ia mampu menjembatani kepentingan dunia usaha dengan kebutuhan masyarakat luas, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak hanya berpihak pada pemilik modal besar, tetapi juga menyentuh persoalan nyata yang dihadapi warga sehari-hari, seperti kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan.
Tugas dan Harapan Wantimpres
Dewan Pertimbangan Presiden merupakan lembaga yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan negara. Anggota Wantimpres diharapkan mampu memberikan masukan strategis di bidang masing-masing, baik politik, hukum, ekonomi, sosial, maupun keagamaan. Dalam konteks tersebut, pengalaman Jusuf Hamka di bidang infrastruktur dan isu sosial dinilai relevan dengan agenda pembangunan nasional.
Meski demikian, pelantikannya juga memunculkan sejumlah pertanyaan publik soal independensi dan sejauh mana ia mampu menyuarakan aspirasi masyarakat tanpa terikat kepentingan bisnis maupun politik. Sejumlah pengamat menilai rekam jejaknya sebagai pengusaha perlu diimbangi dengan kapasitas analisis kebijakan agar kontribusinya tidak berhenti pada pernyataan simbolik semata.
Fokus pada Kaum Marjinal
Jusuf Hamka menegaskan bahwa salah satu fokus perhatiannya adalah kelompok anak jalanan dan masyarakat kurang mampu. Menurutnya, kelompok ini kerap luput dari perhatian kebijakan karena tidak memiliki akses dan kekuatan untuk menyuarakan kepentingannya. Ia berharap dapat mendorong program-program yang menyentuh langsung kebutuhan mereka, termasuk di bidang pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan.
Pernyataannya usai pelantikan menunjukkan bahwa ia tidak ingin menjadikan jabatan sebagai simbol status, melainkan sebagai alat untuk bekerja. Ia menyebut bahwa rezeki harus dipertanggungjawabkan, terutama rezeki yang datang melalui jalur kekuasaan. Bagi dia, keberadaan di lingkaran pemerintahan harus berdampak pada perbaikan hidup orang banyak.
Dengan pelantikan tersebut, publik kini menanti langkah nyata Jusuf Hamka sebagai anggota Wantimpres. Harapan besar disematkan agar ia mampu menghadirkan perspektif baru dalam pengambilan kebijakan, terutama yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan kelompok lemah. Perjalanan ke depan akan menjadi ujian, apakah gagasan tentang "rezeki anak jalanan" benar-benar terwujud dalam kebijakan yang berdampak, atau hanya berhenti sebagai retorika di atas panggung politik.
Komentar (0)