08, 2026
Nasional

IHSG Sempat Hijau di Pembukaan, 6.137 Jadi Level Terendah Pagi Ini

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/08/16/5d56af005a616-pergerakan-ihsg_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

IHSG Sempat Hijau di Pembukaan, 6.137 Jadi Level Terendah Pagi Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Senin (19/8/2019) sempat bergerak hijau namun tidak bertahan lama. Indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ini kemudian turun tajam dan menyentuh level terendahnya di angka 6.137 pada pukul 09:42 WIB. Penurunan ini terjadi di tengah pelemahan pasar global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat naik tipis 0,09% ke level 6.156. Namun, aksi jual cepat menguasai pasar mendorong indeks untuk berbalik arah turun. Hingga pukul 10:00 WIB, IHSG tercatat turun 0,37% ke level 6.142. Aksi penurunan ini terjadi seiring dengan pelemahan mayoritas saham-saham unggulan di bursa.

Faktor Penyebab Penurunan IHSG

Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu pelemahan IHSG pada Senin pagi ini. Pertama, pelemahan pasar global akibat ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kedua, data ekonomi AS yang mengecewakan dan ketidakpastian mengenai kebijakan moneter The Fed juga memberikan tekanan pada pasar.

Menurut analis, investor masih menunggu kejelasan mengenai kebijakan moneter The Fed dan perkembangan perdagangan global. "Ketidakpastian masih menjadi ciri khas pasar saat ini. Investor cenderung hati-hati dan menunggu adanya isu baru yang bisa menjadi catalyst bagi pergerakan pasar," ujar seorang analis dari sekuritas swasta.

Selain itu, aksi profit taking setelah kenaikan IHSG pada pekan lalu juga turut berpengaruh. Indeks berhasil naik 1,05% pada pekan lalu setelah sempat terkoreksi tajam di pekan sebelumnya. Kenaikan ini dinilai sudah cukup signifikan sehingga memicu aksi jual untuk mengambil keuntungan.

Sektor-Sahkah yang Tertekan

Dari sektoral, hampir semua sektor mengalami penurunan. Sektor infrastruktur menjadi sektor yang paling tertekan dengan turun 1,02%, diikuti sektor properti turun 0,89%, dan sektor keuangan turun 0,78%. Sebaliknya, sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor yang berhasil bergerak hijau dengan naik 0,12%.

Dari sisi saham, saham-sahham unggulan seperti BBCA (Bank Central Asia), BBRI (Bank Rakyat Indonesia), dan GOTO (GoTo) ikut terbebani oleh aksi jual. BBCA turun 0,75%, BBRI turun 0,85%, dan GOTO turun 1,20% pada perdagangan pagi ini.

Volume perdagangan hingga pukul 10:00 WIB tercatat sebesar 1,2 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 728 miliar. Sebanyak 146 saham naik, 197 saham turun, dan 108 saham stagnan.

Prospek Pergerakan IHSG

Para analis memprediksi IHSG akan terus bergerak volatil dalam jangka pendek. "IHSG masih akan terpengaruh oleh sentimen global dan data domestik. Kita perlu memperhatikan perkembangan data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis dalam waktu dekat," kata analis lainnya.

Secara teknikal, level support IHSG berada di area 6.100-6.050. Jika IHSG berhasil menembus level ini, potensi penurunan akan semakin besar. Sebaliknya, resistance pertama IHSG berada di area 6.200-6.250.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya untuk memastikan stabilitas pasar. BI menegaskan bahwa likuiditas sistem keuangan tetap terjaga dengan baik. "Kami siap mengambil langkah-langkah preemptif untuk menjaga stabilitas pasar jika diperlukan," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.

Untuk sepanjang tahun 2019, IHSG telah turun sekitar 6,5% dari level awal tahun di 6.486. Penurunan ini terjadi seiring dengan tekanan ekonomi global dan ketidakpastian politik domestik. Namun, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bisa mencapai target 5,3% pada 2019.

Investor dianjurkan untuk tetap waspada dan melakukan due diligence sebelum mengambil keputusan investasi. "Meskipun ada tekanan, ada juga peluang di beberapa sektor yang fundamentalnya kuat. Pemilihan saham yang tepat menjadi kunci," tutup analis tersebut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter