23, 2026
Nasional

Indonesia Segera Gabung OECD, Begini Progres Terbarunya!

Airlangga Hartarto menjelaskan perkembangan proses Indonesia dalam aksesi keanggotaan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD).]]>

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Indonesia Segera Gabung OECD, Begini Progres Terbarunya!

Indonesia Melangkah Menuju Keanggotaan OECD

Indonesia terus mematangkan proses bergabung dengan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Setelah mengajukan surat minat pada pertengahan 2023, Indonesia kini berada di tahap penyusunan peta jalan aksesi yang menjadi dasar bagi penilaian teknis oleh puluhan komite organisasi tersebut. Jika berhasil, Indonesia akan menjadi anggota ke-39 OECD sekaligus negara pertama dari Asia Tenggara yang masuk ke dalam klub negara maju itu.

OECD merupakan organisasi antarpemerintah yang beranggotakan 38 negara dan berperan sebagai pusat rujukan kebijakan ekonomi, standar tata kelola, serta praktik terbaik di bidang pajak, investasi, perdagangan, pendidikan, dan lingkungan. Keanggotaan OECD tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menuntut penyesuaian regulasi domestik dengan sejumlah standar yang telah disepakati bersama.

Jalur Diplomasi dari Paris ke Jakarta

Proses dimulai ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyerahkan surat minat Indonesia untuk menjadi anggota OECD kepada Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann di Paris pada 25 Juli 2023. Surat itu menandai langkah resmi Indonesia setelah bertahun-tahun berstatus sebagai mitra kunci (key partner) OECD sejak 2007.

Pada 20 Februari 2024, Dewan OECD memutuskan untuk membuka pembicaraan aksesi dengan Indonesia. Keputusan tersebut menjadikan Indonesia negara Asia Tenggara pertama yang memperoleh lampu hijau untuk memulai proses keanggotaan, sekaligus negara Asia ketiga setelah Jepang dan Korea Selatan yang menempuh jalur serupa.

Setelah keputusan itu, tahapan berikutnya adalah penyusunan peta jalan aksesi. Dokumen ini memuat daftar komite OECD yang akan melakukan kajian terhadap kesiapan Indonesia, instrumen hukum yang harus diadopsi, serta bidang kebijakan yang perlu disesuaikan. Peta jalan menjadi acuan kerja bagi pemerintah Indonesia dan sekretariat OECD dalam beberapa tahun ke depan.

Penilaian oleh Puluhan Komite

Proses aksesi OECD bersifat menyeluruh dan tidak mengenal tenggat waktu tetap. Puluhan komite teknis akan menilai kesesuaian kebijakan Indonesia dengan standar OECD di berbagai sektor, mulai dari tata kelola perusahaan, kebijakan persaingan usaha, pasar tenaga kerja, statistik, hingga transparansi perpajakan dan perlindungan lingkungan.

Setiap komite dapat mengajukan catatan dan meminta perbaikan sebelum menyatakan bahwa sebuah negara memenuhi standar yang dipersyaratkan. Karena keputusan akhir diambil berdasarkan konsensus, seluruh negara anggota memiliki hak suara yang setara dalam menerima atau menolak keanggotaan baru. Tidak ada jaminan bahwa proses yang telah dimulai akan berakhir dengan keanggotaan penuh.

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa perjalanan ini memakan waktu bertahun-tahun. Kolombia membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun sebelum resmi menjadi anggota pada 2020, sementara Kosta Rika menempuh proses serupa dan diterima pada 2021. Durasi tersebut mencerminkan banyaknya regulasi yang harus diselaraskan dan luasnya cakupan kajian yang dilakukan.

Di sisi internal, pemerintah membentuk tim nasional lintas kementerian dan lembaga untuk mengoordinasikan persiapan aksesi. Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta lembaga seperti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Badan Kebijakan Fiskal terlibat dalam memetakan kesenjangan regulasi dan menyusun rencana pemenuhannya.

Tantangan Harmonisasi Regulasi

Sejumlah isu menjadi sorotan dalam proses ini. Salah satunya adalah transparansi perpajakan dan pertukaran informasi antarnegara, yang telah lama menjadi instrumen inti OECD. Indonesia telah terlibat dalam kerangka kerja sama perpajakan internasional, tetapi masih perlu memastikan implementasi aturan domestik sejalan dengan standar organisasi.

Isu lain adalah tata kelola badan usaha milik negara, kebijakan subsidi, serta transparansi pengadaan barang dan jasa. OECD memiliki panduan tersendiri mengenai tata kelola BUMN dan praktik persaingan usaha yang sehat. Penyesuaian di area ini berpotensi menimbulkan perdebatan politik domestik karena menyangkut kepentingan sektor strategis.

Selain itu, kualitas data statistik menjadi perhatian penting. OECD mengandalkan data yang dapat dibandingkan antaranegara untuk menyusun analisis dan rekomendasi kebijakan, sehingga metodologi pengumpulan data nasional perlu disesuaikan dengan standar internasional.

Dampak bagi Perekonomian dan Posisi Indonesia

Dengan produk domestik bruto yang menembus 1,4 triliun dolar Amerika Serikat dan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Keanggotaan OECD akan memperluas jangkauan organisasi tersebut ke kawasan yang selama ini belum terwakili dalam struktur keanggotaan penuh.

Bagi Indonesia, keanggotaan diharapkan meningkatkan kepercayaan investor, memperbaiki iklim usaha, dan memberikan akses lebih luas terhadap kajian kebijakan serta praktik terbaik internasional. Status anggota juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam forum ekonomi global dan mempercepat reformasi struktural yang selama ini menjadi agenda pemerintah.

Namun, manfaat tersebut datang dengan konsekuensi berupa disiplin regulasi yang lebih ketat dan pengawasan sejawat (peer review) yang berlangsung secara berkala. Pemerintah menegaskan bahwa proses aksesi dijalankan secara bertahap dengan mempertimbangkan kepentingan nasional, termasuk kesiapan dunia usaha dan daya saing industri dalam negeri.

Hingga kini, belum ada batas waktu resmi kapan Indonesia akan resmi menjadi anggota. Yang jelas, keputusan Dewan OECD pada Februari 2024 telah mengubah status Indonesia dari mitra strategis menjadi kandidat anggota yang tengah diuji. Panjangnya perjalanan akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menuntaskan penyesuaian di berbagai bidang kebijakan dan menjaga konsistensi komitmen reformasi yang telah dinyatakan di hadapan negara-negara anggota.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter