25, 2026
Nasional

Ini 20 Negara Paling Suka Beranak-Pinak, Ada Indonesia?

Proyeksi pertumbuhan penduduk dunia 2026 menunjukkan Indonesia hanya 0,7%. Sementara Afrika tumbuh cepat, tantangan demografi Indonesia tetap besar.]]>

Kevin Handayani
Kevin Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ini 20 Negara Paling Suka Beranak-Pinak, Ada Indonesia?

Angka kelahiran di dunia terus bergerak turun dalam beberapa dekade terakhir, tetapi tidak semua negara mengalaminya dengan kecepatan yang sama. Sejumlah negara, terutama di kawasan Afrika Sub-Sahara, masih mencatat rata-rata lebih dari empat anak per perempuan sepanjang masa suburnya. Indonesia tidak termasuk dalam kelompok tersebut.

Daftar negara dengan angka kelahiran tertinggi sering menjadi perhatian publik, terutama ketika dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk, tekanan terhadap sumber daya, hingga kebijakan kependudukan masing-masing negara. Pertanyaan yang muncul kemudian: negara mana saja yang berada di urutan teratas, dan di mana posisi Indonesia?

Membaca Angka Kelahiran Total

Ukuran yang paling sering digunakan untuk membandingkan tingkat kelahiran antarnegara adalah total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran total. TFR menggambarkan rata-rata jumlah anak yang akan dilahirkan seorang perempuan sepanjang usia reproduksinya jika pola kelahiran pada suatu periode tertentu tetap bertahan.

Sebagai patokan, angka 2,1 disebut sebagai tingkat penggantian (replacement level). Pada angka itu, sebuah populasi secara teori dapat menggantikan dirinya sendiri tanpa pertumbuhan atau penurunan dalam jangka panjang, dengan catatan tingkat kematian bayi dan anak relatif rendah. Negara dengan TFR di atas 4 umumnya memiliki struktur penduduk yang sangat muda dan laju pertumbuhan penduduk yang cepat.

Data yang digunakan dalam artikel ini merupakan kompilasi dari World Population Prospects yang disusun Perserikatan Bangsa-Bangsa serta CIA World Factbook. Perlu dicatat bahwa angka antar-sumber dapat berbeda tipis karena metode estimasi dan tahun rujukan yang tidak selalu sama.

Dua Puluh Negara dengan Angka Kelahiran Tertinggi

1. Niger menempati urutan teratas dengan TFR sekitar 6,6. Negara di kawasan Sahel ini memiliki salah satu populasi termuda di dunia, dengan lebih dari separuh penduduk berusia di bawah 15 tahun.

2. Somalia menyusul dengan angka sekitar 6,0. Tingkat kelahiran yang tinggi di Somalia berlangsung di tengah kondisi keamanan yang tidak stabil dan akses layanan kesehatan yang terbatas di sejumlah wilayah.

3. Chad mencatat TFR sekitar 5,9. Angka ini bertahan tinggi meski negara tersebut menghadapi tantangan pembangunan ekonomi dan infrastruktur kesehatan.

4. Republik Demokratik Kongo berada di kisaran 5,8. Populasi negara ini termasuk yang terbesar di Afrika, sehingga kombinasi jumlah penduduk besar dan angka kelahiran tinggi berdampak signifikan terhadap demografi kawasan.

5. Republik Afrika Tengah sekitar 5,7, disusul 6. Mali pada angka yang hampir sama. Keduanya menghadapi persoalan stabilitas politik dan keterbatasan layanan kesehatan dasar.

7. Angola mencatat TFR sekitar 5,5, sementara 8. Nigeria berada di kisaran 5,1. Nigeria merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di Afrika sehingga pertumbuhan penduduknya menjadi perhatian global.

9. Burundi dan 10. Benin masing-masing berada di sekitar 4,9. Keduanya memiliki populasi yang relatif muda dengan tingkat ketergantungan anak yang tinggi.

11. Burkina Faso sekitar 4,8, disusul 12. Tanzania pada kisaran 4,7. Tanzania mencatat angka kelahiran tinggi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

13. Uganda dan 14. Mozambik berada di sekitar 4,6. Kedua negara memiliki laju pertumbuhan penduduk yang cepat dalam dua dekade terakhir.

15. Afghanistan mencatat TFR sekitar 4,5. Angka ini tetap tinggi meski negara tersebut telah melalui konflik berkepanjangan dan perubahan rezim.

16. Sudan Selatan dan 17. Mauritania berada di kisaran 4,4, sementara 18. Kamerun, 19. Sudan, dan 20. Zambia masing-masing sekitar 4,3. Sejumlah sumber juga menempatkan Senegal, Guinea, dan Republik Kongo dalam rentang yang tidak jauh berbeda.

Dominasi Afrika Sub-Sahara dan Faktor Pendorongnya

Hampir seluruh negara dalam daftar tersebut berada di Afrika Sub-Sahara. Para demografer umumnya menunjuk sejumlah faktor yang saling terkait: akses terbatas terhadap layanan kontrasepsi modern, tingkat pendidikan perempuan yang masih rendah di sebagian wilayah, tingginya angka pernikahan dini, serta peran nilai sosial dan budaya yang memandang keluarga besar sebagai bagian dari struktur sosial.

Faktor lain adalah tingginya angka kematian bayi dan anak pada masa lalu, yang mendorong keluarga memiliki lebih banyak anak untuk mengantisipasi kemungkinan kehilangan. Struktur ekonomi yang bertumpu pada pertanian skala kecil juga membuat tambahan tenaga kerja dalam keluarga dinilai menguntungkan. Ketika angka kematian anak menurun, pola kelahiran tinggi biasanya baru melambat setelah beberapa generasi.

Posisi Indonesia dan Tren Global

Indonesia tidak masuk dalam dua puluh besar. Angka kelahiran total Indonesia saat ini berada di kisaran 2,1 hingga 2,2, atau sekitar tingkat penggantian. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mencatat tren penurunan yang konsisten dalam beberapa dekade terakhir, sejalan dengan meningkatnya partisipasi pendidikan perempuan, akses kontrasepsi, dan pergeseran pola keluarga.

Secara global, TFR dunia diperkirakan berada di kisaran 2,2 hingga 2,3 dan terus menurun. Perserikatan Bangsa-Bangsa memproyeksikan jumlah penduduk dunia mencapai puncaknya sekitar 10,3 miliar pada pertengahan 2080-an sebelum perlahan menurun. Namun proyeksi itu memiliki variasi besar antarwilayah: sebagian negara Eropa dan Asia Timur menghadapi penuaan populasi dan angka kelahiran di bawah tingkat penggantian, sementara negara-negara Afrika Sub-Sahara masih menjadi mesin pertumbuhan penduduk dunia.

Perbedaan pola ini membuat isu kependudukan tidak lagi tunggal. Bagi negara dengan angka kelahiran tinggi, tantangan utamanya adalah menyediakan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja bagi populasi muda yang besar. Bagi negara dengan angka kelahiran rendah, persoalannya justru sebaliknya: memastikan sistem jaminan sosial dan pasar kerja tetap berkelanjutan ketika jumlah penduduk usia produktif menyusut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kevin Handayani

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter