21, 2026
Nasional

Ini Alternatif iPhone Air Versi HP Android, Apakah Lebih Tipis?

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Apple resmi memperkenalkan iPhone Air pada September 2025 sebagai iPhone tertipis yang pernah diproduksi perusahaan, dengan ketebalan bodi hanya 5,6 milimeter dan bobot 165 gram. Desain itu memicu pertanyaan yang wajar di kalangan pengguna Android: adakah ponsel berbasis Android yang mampu menandingi, atau bahkan melampaui, ketebalan tersebut? Sejumlah produsen memang telah merilis perangkat dengan bodi ramping, tetapi jawabannya tidak sesederhana angka pada lembar spesifikasi.

Samsung Galaxy S25 Edge, Pesaing Paling Dekat

Perangkat Android yang paling sering disebut sebagai pembanding langsung iPhone Air adalah Samsung Galaxy S25 Edge. Ponsel ini memiliki ketebalan 5,8 milimeter dan bobot 163 gram, sedikit lebih berat dari iPhone Air tetapi tetap termasuk sangat ringan untuk ukuran ponsel layar besar. Samsung menggunakan rangka titanium dan kaca pelindung generasi terbaru untuk menjaga kekakuan struktur di tengah bodi yang sangat tipis.

Dari sisi spesifikasi, Galaxy S25 Edge mengandalkan chipset Snapdragon 8 Elite, layar Dynamic AMOLED 2X berukuran 6,7 inci dengan refresh rate 120 Hz, serta kamera utama 200 megapiksel. Baterainya berkapasitas 3.900 mAh dengan pengisian cepat 25 watt. Kombinasi itu menempatkan S25 Edge sebagai perangkat kelas atas, bukan sekadar eksperimen desain. Meski demikian, harga jualnya di sejumlah pasar justru berada di atas iPhone Air, sehingga daya tarik utamanya tetap pada faktor bentuk.

Tecno Spark Slim dan Rekor Ketebalan

Nama lain yang muncul dalam perbincangan serupa adalah Tecno Spark Slim. Perangkat ini diperkenalkan sebagai konsep pada ajang Mobile World Congress 2025 dengan ketebalan 5,75 milimeter, lebih tipis dari Galaxy S25 Edge meski masih sedikit lebih tebal dibanding iPhone Air. Yang membedakannya, Tecno mengklaim mampu menyematkan baterai berkapasitas 5.160 mAh berkat teknologi sel silikon-karbon, jauh lebih besar dibanding kapasitas baterai ponsel tipis pada umumnya.

Pendekatan Tecno menunjukkan bahwa ketebalan bukan lagi satu-satunya batas yang ditentukan oleh kapasitas baterai. Teknologi sel silikon-karbon memungkinkan produsen memadatkan energi dalam ruang yang lebih kecil, sehingga ponsel ramping tidak lagi otomatis berarti daya tahan buruk. Sayangnya, Spark Slim diposisikan sebagai perangkat kelas menengah dengan spesifikasi kamera dan chipset yang lebih sederhana, sehingga belum bisa disebut pesaing setara bagi iPhone Air secara keseluruhan.

Sejarah Ponsel Super Tipis

Upaya menipiskan bodi ponsel sebenarnya bukan hal baru. Pada 2014, Oppo R5 dan Vivo X5 Max sempat mencatat ketebalan di bawah 5 milimeter, jauh lebih tipis dari perangkat yang beredar saat ini. Keduanya kemudian dikenal karena kompromi besar: baterai kecil, tonjolan kamera mencolok, dan suhu bodi yang cepat meningkat saat digunakan. Pelajaran dari era itu menjelaskan mengapa produsen kini bergerak lebih hati-hati dan memilih angka sekitar 5,5 hingga 6 milimeter sebagai titik keseimbangan.

Kompromi di Balik Desain Tipis

Menipiskan bodi hingga di bawah 6 milimeter menuntut pengorbanan teknis yang tidak bisa dihindari. Ruang untuk baterai menyusut, sehingga kapasitas biasanya tertahan di kisaran 3.000 hingga 4.000 mAh. Sistem pendingin juga harus dirancang ulang karena ruang untuk ruang uap atau lembaran grafit menjadi terbatas, yang berdampak pada konsistensi performa saat dipakai bermain gim dalam waktu lama.

Modul kamera menjadi tantangan lain. Lensa yang lebih tebal membuat tonjolan kamera hampir tidak terhindarkan, sehingga sebagian produsen memilih konfigurasi kamera yang lebih sederhana. Beberapa perangkat juga mengorbankan jack audio, slot kartu memori, hingga speaker stereo ganda. Pada iPhone Air, Apple bahkan memilih desain eSIM saja tanpa baki kartu fisik di sejumlah pasar, sebuah keputusan yang memerlukan dukungan operator telekomunikasi.

Apakah Ada yang Lebih Tipis?

Hingga awal 2026, belum ada ponsel Android produksi massal yang secara signifikan lebih tipis dari iPhone Air. Galaxy S25 Edge berada di 5,8 milimeter, Tecno Spark Slim di 5,75 milimeter, sementara iPhone Air berada di 5,6 milimeter. Selisihnya hanya sepersekian milimeter dan dalam pemakaian sehari-hari nyaris tidak terasa. Yang lebih menentukan pengalaman adalah bobot, distribusi berat, serta tekstur rangka yang membuat ponsel tipis tetap nyaman digenggam.

Untuk ponsel lipat, ketebalan masih menjadi persoalan tersendiri. Honor Magic V3, misalnya, tercatat sekitar 9,2 milimeter dalam kondisi terlipat, jauh lebih tebal dibanding ponsel biasa, tetapi sudah termasuk sangat ramping untuk kategori perangkat layar fleksibel. Artinya, tantangan desain pada perangkat lipat masih berada pada level yang berbeda.

Dampak bagi Pasar Indonesia

Di Indonesia, ponsel super tipis masih menempati ceruk pasar tersendiri. Galaxy S25 Edge dipasarkan secara resmi, sedangkan iPhone Air masuk melalui jalur distribusi resmi Apple. Keduanya menyasar konsumen yang memprioritaskan desain, bobot ringan, dan nilai prestise, bukan kapasitas baterai besar atau kemampuan kamera maksimal. Harga yang tinggi membuat volumenya kecil dibanding seri reguler seperti Galaxy S25 atau iPhone 17.

Sejumlah laporan industri menyebut permintaan iPhone Air di bawah ekspektasi awal, sehingga rencana produksi disesuaikan. Kondisi itu menunjukkan bahwa desain ultras tipis belum tentu menjadi prioritas mayoritas konsumen, terutama ketika harus berkompromi soal daya tahan baterai dan harga.

Arah Tren ke Depan

Meski begitu, persaingan di ranah desain diperkirakan berlanjut. Produsen asal Tiongkok dilaporkan menyiapkan sejumlah model ramping dengan baterai silikon-karbon berkapasitas lebih besar, sementara Samsung disebut tengah mengkaji penerus Galaxy S25 Edge. Bila teknologi sel baterai terus berkembang dan biaya produksi menurun, ponsel dengan bodi di bawah 6 milimeter bisa menjadi pilihan yang lebih wajar, bukan sekadar pernyataan teknologi.

Sementara itu, jawaban atas pertanyaan di awal tetap jelas: iPhone Air masih memegang posisi sebagai salah satu ponsel tertipis di pasar, dan alternatif Android terdekat belum mampu melampaui angka 5,6 milimeter. Selisih yang ada terlalu kecil untuk dijadikan alasan utama memilih perangkat, sehingga faktor baterai, kamera, perangkat lunak, dan harga akan tetap menjadi penentu utama bagi konsumen.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter