23, 2026
Politik

Kampanye DK PBB Dimulai, RI Berjuang Rebut Kursi 2029-2030

Pemerintah Indonesia meluncurkan kampanye pencalonan untuk kursi anggota tidak tetap DK PBB 2029-2030.]]>

Kevin Handayani
Kevin Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kampanye DK PBB Dimulai, RI Berjuang Rebut Kursi 2029-2030

Jakarta — Kampanye Indonesia untuk merebut kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) periode 2029–2030 resmi bergulir. Pencalonan tersebut menempatkan diplomasi multilateral Indonesia kembali diuji di panggung paling berpengaruh dalam arsitektur keamanan global, tempat lima negara pemegang hak veto dan sepuluh anggota tidak tetap menentukan arah resolusi atas konflik, sanksi, dan operasi perdamaian.

Kursi yang diperebutkan Indonesia berada dalam kuota kelompok Asia-Pasifik, salah satu dari lima kelompok regional yang membagi sepuluh kursi tidak tetap. Kursi itu bergilir setiap dua tahun dan diputuskan melalui pemungutan suara rahasia di Sidang Umum PBB. Karena itu, keberhasilan pencalonan tidak ditentukan semata oleh kedekatan bilateral, melainkan oleh kemampuan menggalang dukungan mayoritas dua pertiga anggota, atau sekitar 129 dari 193 negara anggota PBB.

Mekanisme yang Menentukan Peluang

Anggota tidak tetap DK PBB dipilih untuk masa jabatan dua tahun tanpa hak veto. Komposisinya dibagi berdasarkan sebaran geografis: tiga kursi untuk kelompok Afrika, dua kursi untuk Asia-Pasifik, dua kursi untuk Amerika Latin dan Karibia, dua kursi untuk Eropa Barat dan kelompok lainnya, serta satu kursi untuk Eropa Timur. Setiap negara yang mencalonkan diri umumnya telah menyiapkan kampanye bertahun-tahun sebelum pemungutan suara, termasuk kunjungan diplomatik, pertemuan di sela-sela sidang PBB, hingga penyusunan komitmen kebijakan.

Dalam praktiknya, pemilihan sering berlangsung ketat dan berlapis. Apabila tidak ada kandidat yang memperoleh ambang dua pertiga suara, pemungutan suara diulang hingga hasil final tercapai. Persaingan di kelompok Asia-Pasifik kerap melibatkan lebih dari satu negara, sehingga dukungan regional dan rekam jejak di forum multilateral menjadi faktor penentu.

Rekam Jejak Indonesia di DK PBB

Indonesia bukan pendatang baru. Negara ini tercatat empat kali duduk sebagai anggota tidak tetap DK PBB, yakni pada periode 1973–1974, 1995–1996, 2007–2008, dan 2019–2020. Keikutsertaan berulang itu menjadi salah satu argumen utama dalam kampanye, terutama karena Indonesia memosisikan diri sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan sekaligus bagian dari kekuatan ekonomi emerging di Asia Tenggara.

Pengalaman pada 2019–2020 memberikan modal diplomasi yang signifikan. Pada periode itu Indonesia terlibat dalam pembahasan berbagai isu, mulai dari konflik di Timur Tengah, situasi di Afghanistan, hingga agenda perempuan, perdamaian, dan keamanan. Indonesia juga konsisten mendorong pendekatan dialog dan penyelesaian konflik melalui jalur politik, bukan kekuatan militer semata.

Selain itu, Indonesia merupakan salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB. Kontribusi personel dalam misi-misi di berbagai kawasan menjadi bukti konkret komitmen terhadap perdamaian internasional, sekaligus memperkuat kredibilitas ketika menawarkan diri memegang kursi di DK PBB.

Strategi Kampanye dan Dukungan Regional

Kampanye menuju 2029–2030 ditempuh melalui beberapa jalur. Pertama, penguatan konsensus di kawasan, termasuk dukungan dari negara-negara ASEAN yang secara kolektif diharapkan menambah bobot pencalonan. Kedua, pendekatan kepada kelompok negara berkembang melalui organisasi seperti Gerakan Non-Blok, Organisasi Kerja Sama Islam, dan Kelompok 77, yang selama ini menjadi basis dukungan tradisional Indonesia di forum PBB.

Ketiga, diplomasi ekonomi dan pembangunan yang dijalankan beriringan dengan diplomasi politik. Indonesia memosisikan kerja sama Selatan-Selatan, transisi energi, dan penguatan kapasitas negara berkembang sebagai bagian dari kontribusi yang ditawarkan jika terpilih. Pendekatan ini dinilai relevan karena banyak negara anggota PBB memandang DK PBB perlu lebih responsif terhadap kepentingan negara-negara berkembang.

Keempat, pemanfaatan jaringan perwakilan diplomatik di New York dan sejumlah ibu kota utama untuk memetakan posisi negara-negara anggota, terutama yang belum menentukan sikap. Kampanye semacam ini biasanya berlangsung bertahun-tahun dan melibatkan pertemuan rutin, baik di tingkat menteri maupun perwakilan tetap.

Isu yang Diusung

Beberapa tema diperkirakan menjadi prioritas dalam kampanye. Pertama, penguatan multilateralisme dan reformasi DK PBB, termasuk desakan agar komposisi dewan lebih mencerminkan realitas geopolitik saat ini. Kedua, penyelesaian konflik melalui dialog dan mediasi, sejalan dengan pengalaman Indonesia dalam berbagai proses perdamaian.

Ketiga, isu Palestina yang secara konsisten menjadi prioritas politik luar negeri Indonesia. Keempat, agenda perempuan, perdamaian, dan keamanan, serta perlindungan kelompok rentan dalam situasi konflik. Kelima, isu maritim dan keamanan kawasan, mengingat posisi Indonesia sebagai negara kepulauan besar di jalur perdagangan strategis.

Tantangan di Depan

Meski memiliki modal, jalan menuju kursi 2029–2030 tidak bebas hambatan. Persaingan di kelompok Asia-Pasifik kerap melibatkan negara-negara dengan jaringan diplomatik luas dan sumber daya kampanye besar. Dukungan regional juga tidak selalu otomatis diterjemahkan menjadi suara di Sidang Umum, karena setiap negara memiliki pertimbangan politik masing-masing.

Selain itu, dinamika geopolitik yang berubah cepat dapat mengubah peta dukungan. Konflik berskala besar, pergeseran aliansi, dan ketegangan antarblok berpotensi memengaruhi preferensi negara-negara anggota ketika pemungutan suara digelar. Indonesia dituntut menjaga posisi yang cukup diterima oleh berbagai pihak tanpa kehilangan identitas politik luar negerinya yang bebas aktif.

Dengan kampanye yang telah dimulai, periode menuju pemungutan suara akan menjadi ujian panjang bagi mesin diplomasi Indonesia. Bagi Jakarta, kursi DK PBB bukan sekadar simbol prestise, melainkan sarana untuk ikut menentukan keputusan yang berdampak langsung pada perdamaian dan stabilitas global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kevin Handayani

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter